Kamis, 22 Agustus 2013

Salah Satu Dari Sahabatku

     


      Di dunia ini pasti kalian punya teman kan? dan dari teman itu kalian semakin akrab dan selalu berada disisi, kalau sudah begitu berarti ia adalah orang atau teman yang spesial bagimu yang disebut dengan sahabat. Aku juga punya 1 orang sahabat, lebih dari sekedar sahabat, bukan dari golongan orang yang kaya raya, tapi orang juga gak tau karena ia adalah orang yang begitu special bagiku. Orang tuaku juga menyukainya dan percaya padanya. Ia adalah teman Mts aku bernama Sintia Delvi.

   Awal aku kenal sama dia ketika aku pulang sekolah dijemput bang Rul, supir papa. Ketika dipersimpangan bang Rul minta  ke aku untuk nompangin seorang cewek segede aku, bang Rul bilang kakaknya adalah temennya Bang Rul. Yaudah aku iya kan?

      Ketika aku berada disekolah esoknya. Aku terkejut karena ia adalah teman sekelas ku. AAAaaa... Jodoh ternyata.... hihi... Yaaa, waktu bang rul jemput aku, itu adalah hari pertama aku masuk Mts. Jadi belum terlalu kenal sama teman sekelas.

       Sifat Sintia emang perhatian, simpati, jujur dan asik. Itu semua udah nampak ketika Mts dan awal ketika pertama ia mengajakku pulang bareng. Aku biasanya selalu dijemput sejak SD. Seperti biasanya, aku kalau dijemput pasti selalu lambat, karena supir juga dipakai untuk antar jemput barang di toko aku. Disaat aku yang sedang melamun dan menunggu, datang Sintia yang aku tompangin dulu, ia berkenalan dengan ku dan memintaku pulang bareng bersamanya. Itu lah pertama kali aku naik oplet bersama teman untuk pertama kalinya. Biasanya aku takut naik oplet, takut karena ada berita-berita di tivi. Sejak saat itu aku selalu pulang bareng naik oplet bersamanya.

     Sejak saat itu aku selalu dekat dengan nya, aku nyaman berada didekatnya, sampai sekarangpun aku masih berteman akrab, apalagi rumahnya juga tak jauh dari rumahku. Ya, ia juga sering main kerumah, makan bersama, ngerjain tugas bersama, jogging bersama, jalan2 sama. Pokoknya seru. Dari sintia aku belajar kesederhanaan,bersahabat, percaya, dan terbuka. Aku pun juga jadi ngerti bahwa kesederhanaan itu adalah cukup, dan ia mengajarinya padaku. Sebenarnya teman-teman aku yang berada disekolah kebanyakan orang menengah kebawah, tapi aku senang dengan keadaan itu. Dari itu semua aku juga bisa lebih belajar untuk hidup lebih hemat, membantu otang tua, bersikap mandiri, dan lain-lain.

    Tapi disetiap ada kedekatan pasti ada yang namanya perselisihan, pertengkaran dan sebagainya. Itu juga aku alami bersamanya. Satu yang tak ku suka dari sifatnya ketika Mts,  aku dan dia emang harus sama2 terus, gak boleh sama yang lain, kalau aku berteman dan dekat sama yang lain, sintia akan cemburu dan merajuk. Tapi aku bilangin ke dia kalau kita itu harus berteman dan bersahabat sama siapa aja. Dan aku pikir sejak aku ngomong begitu Sintia udah mulai berubah, dan kami tak sering salah paham lagi.

      Aku sangat suka kesederhanaannya, ia juga rajin bantu oranng tuanya. Waktu Mts, ia bantu ibunya jualan disekolah, jualan sala lauk. Ibu sintia itu single parents. Sintia adalah anak yatim, tapi dari itu semua tak nampak raut muka kesedihan dan kesal ketika membantu orang tuanya. Malah kalau sala nya tak habis ,Sintia, aku bahkan beberapa teman lainnya bakal membantunya menjajakan sala ke kantor guru, dan ke SMA sebelah. Sintia selain berjualan di kantin juga berjualan untuk dikelas. Jadi kalau pagi-pagi kami itu dikelas udah pada makan sala semua. hehehe, dari ia menjual sala, dan salanya enak juga murah, sintia jadi dikenal guru2, adik-kakak kelas, bahkan sampai ke SMA sebelah. dari itu semua Sintia jadi banyak teman, dan menjadi salah satu anak kesayangan guru. Aku sangat senang membantu Sintia jualan sala kadang sintia juga memberiku gratis salanya ketika aku membantunya menjajakan kantong plastik hitam yang berisi sala lauk itu. Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan.

      Sampai saat ini pun aku masih sering bertemu sama sintia, walaupun ia udah pindah rumah. Tapi sintia masih sering datang ke tempat aku tinggal, karena sintia waktu itu bekerja di rumah salah satu ibu angkatnya. Sintia mempunyai beberapa ibu angkat juga. Mungkin sintia adalah salah satu anak yang  beruntung, berkat ia pandai berkomunikasi dan dapat menjalin keakraban dengan siapa aja, ia punya ibu angkat yang membiayai dia sekolah, sekalian memberinya hal-hal yang dibutuhkan.

      Aku bahkan orang tuaku juga sering meminta bantuan pada Sintia, dan sampai sekarangpun ia selalu mengiyakan tanpa menolak, itu lah keistimewanya. Ia selalu siap dan tepat waktu. Jarang kita nemuin orang yang kayak gitu kan, tapi itu lah Sintia, aku bangga dan gak nyesal pernah berteman dengan nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar