Sabtu, 27 Juli 2013

E L C I T A

Mungkin bibir tak sanggup berkata

Tapi hati takkan bisa tuk berbohong

Sesekali  lidahpun  berkata tidak

perasaan ini akan tetap sama

sejak dulu hingga takdir penghujung

kini jati membawa pergi

pergi  meninggalkan

jauh… jauh… jauh…

meninggalkan suara hati tak berbalas

ku harap  jangan kembali

biar tak tumbuh  cerita bodoh lagi

dan tak terngiang  bisik-bisik  peniti

kini…

tinggal berusaha jangan menggapai lagi

jika mungkin,

biar takdir yang mempersatukan kembali

Jumat, 05 Juli 2013

Senyum Bunda


Dalam kelamnya malam, mata indahku menatap hamparan langit bertahtakan bintang-bintang sembari memeluk lutut dan menghela nafas pelan. Aku rasakan sejuknya malam dan hembusan angin yang syahdu,membuat aku merasa terbang bebas dari balkon kamarku menuju dunia pelangi kasih sayang dengan berjuta  warna yang  menyejukkan hati. Pikiranku mengembara pada kegiatanku dari bangun tidur hingga menjelang tidur kembali. Aku tersenyum pahit. Semua itu tiada berarti karena ada satu hal dalam hidup ini yang tidak kudapat.
***
“Pagi sayang, Bunda berangkat ke kantor dulu ya.” Sapa Bunda sembari tersenyum manis menatapku.
“Eng. Nggak sarapan dulu Bun? Aku buat nasi goreng special untuk Bunda.” tawarku sambil menyodorkan semangkuk nasi goreng dengan ditaburi potongan kecil keju-keju.
“Maaf Audy, Bunda sibuk nih. Masih banyak job yang belum terselesaikan. Kapan-kapan aja ya? Bunda pergi dulu. Assalamu’alaikum.” Ucap Bunda dengan langkah kakinya yang mulai menjauhiku.
Ku tatap punggung Bunda dengan perasaan sedih. Bunda pergi meninggalkanku begitu saja tanpa mencicipi sedikitpun makanan yang aku persembahkan dengan penuh cinta untuknya. Sejak Ayah meninggal lima tahun silam, Bunda yang menggantikan Ayah bekerja ke kantor untuk menghidupi aku dan adik laki-lakiku. Bunda selalu pulang diatas jam Sembilan malam, membuat hati ini merasa kesepian.
Sangat jarang sekali kulihat wajah Bunda kecuali ketika aku akan berangkat kesekolah, bagaimana tidak, ia selalu pulang malam dan ketika ia datang aku telah terlelap  dengan  berjuta mimpi-mimpiku.
Oh, Bunda. tak sadarkah bahwa diriku sangat merindukanmu? Merindukan belain tanganmu? Merindukan senyum manismu? Merindukan pelukanmu? Merindukan semua tentangmu!! Batinku sembari menghela nafas pelan.
***
Lambat laun hari akan terus berganti. Mataharikan selalu memancarkan sinarnya. Bumi akan terus berputar dan tahun akan senantiasa berlalu. Tak terasa aku telah menginjak bangku kelas  tiga SMA. Bunda selalu saja memberikan hadiah jika aku berprestasi di sekolah dan aku sangat senang, tapi ia tidak pernah memberikannya secara langsung kepadaku, selalu saja lewat orang lain. Sebenarnya, aku nggak butuh semua hadiah Bunda. aku hanya butuh Bunda! butuh perhatian dari Bunda. salahkah? bisikku ringkih.
Malam ini, mataku kembali tak ingin terpejam. Pikiranku berputar keepisode masa silam. Suara ketukan pintu menghentikan lamunanku. Sepertinya Bunda baru pulang. Panddanganku mengarah pada jam winnie the pooh berwarna kuning yang tengah tersenyum indah disalah satu sisi kamarku. 21.25 desisku lirih.
Disaat hampir jam  sebelas malam, aku menyelinap masuk ke kamar Bunda. Tidak ada yang berubah sejak kepergian Ayah. Buku-buku Ayah masih tertata rapi diatas meja. Pandanganku kini mengarah pada wanita yang memiliki senyum emas dan hati seindah pelangi.  Wajah itu sudah semakin menua, dimakan oleh usia. Rambutnya sudah mulai memutih dengan bingkain wajah yang terlihat  begitu lelah. Sebelumnya aku ingin berterima kasih pada Bunda yang selalu mejaga kami dengan baik. Jika aku selalu mengecewakanmu, maka maafkan aku Bunda. Aku hanya ingin bunda nggak lagi mengacuhkanku. Aku dan Raihan butuh perhatian Bunda. Aku pengen berbagi kisah tentang dia pada Bunda. Aku sudah tujuh belas tahun Bun, aku punya seseorang yang special dan aku ingin membagi cerita itu padamu. Bisakah? Salahkah? Aku butuh perhatianmu! butuh senyummu! Ucapku dalam hati. Aku menghela nafas pelan. Mataku tak henti-hentinya menatap wajah wanita itu. Wanita yang telah rela memberikan seluruh hidupnya untuk aku dan Raihan.
***
“Audy, tolong antarin Raihan ya ke tempat les. Bunda nggak bisa ngantar, soalnya lagi buru-buru ke bank nih.” Ujar Bunda menyuruhku. Aku termangu pelan sembari menatap kepergian Bunda yang buru-buru. Sebuah pertanyaan hinggap dimemori otakku. Ingin rasanya kulontarkan pertanyaan itu, tapi rasanya mulut ini telah menahan lebih dari seribu kalimat yang pada akhirnya akan hilang termakan oleh larutnya kekecewaan.
Aku pergi bersama adikku dengan mengendarai motor. Dari kaca spion motor, kulihat adikku begitu senang. Berbeda sekali dengan ku. Padahal ia hanya murid SMP yang pastinya lebih membutuhkan perhatian lebih dari aku. Apa mungkin aku terlalu egois? Adikku saja tidak terlalu memikirkannya. Ah, bodoh sekali! Bagaimana pun juga aku ya aku. Raihan ya Raihan. Aku dan Raihan memiliki pola pikir yang berbeda.
***
Disaat pagi menjelang dan mentaripun menampakkan senyumnya kearah jendela kamarku, seakan ia menyuruhku untuk ikut pula tersenyum dengannya. Baiklah, aku harap bunda hari ini mau ikut sarapan pagi bersamaku.
“Bun, sarapan bareng yuk. Ayolah Bun sekali ini saja, sudah lama kita tidak sarapan bareng. Please!” ungkapku penuh harap.
“Makasih sayang, tapi bunda lagi buru-buru nih. udah telat. Bunda nggak bisa, kapan-kapan kalau bunda lagi nggak ada kerjaan aja ya, pasti kita akan makan bersama, ok cantik?” ucap Bunda sambil berjalan meninggalkanku dalam kesendirian. Aku berlari menuju kamarku dan kubanting pintu dengan sekuat tenaga. Tidak peduli apakah pintu itu rusak atau hancur. Kuhempaskan tubuhku diatas kasur. Butiran-butiran bening tak terbendung lagi di ujung mataku dan keluar  begitu saja membasahi pipiku.
“Bunda selalu saja seperti ini, aku hanya ingin lebih dekat dengan Bunda. Aku  tidak ingin kejadian seperti ayah dulu terulang kembali.  Ayah yang selalu sibuk dikantor dan tak pernah perhatian serta berbicara kepadaku hingga akhirnya ayah meninggal, tanpa memberikan kenangan yang berarti padaku. Aku tak ingin hal serupa terjadi pada bunda” isakku dalam tangis. Kuraih selembar kertas berwarna hijau muda dan pena hijau Winnie the pooh yang ada di dekatku. Ku tuliskan segala isi hatiku yang rapuh,gundah,dan galau gulana.
***
“Raihan, kamu bawa motor kesekolah gih.” Ucapku sambil menyodorkan kunci motor dihadapannya.
“Bener nih? Trus kak Audy naik apa? Mendingan sama seperti biasa aja deh kak, kan kita searah” jawab Raihan dengan tampang polosnya.
“Kakak nebeng sama temen aja Rei. Udah janjian. Buruan pergi gih, entar telat lagi.”
“Beres kak. Cabut dulu ya. Makasih kakakku yang cantik.” jawab Reihan.
“Dasar cowok,  dipinjemin motor girangnya bukan main. Apalagi kalau udah punya motor sendiri, pasti ntu motor udah di jungkir balik sama yang makai.” Ungkapku.
Kulihat keadaan diluar rumah, awan hitam semakin pekat menggulung-gulung di langit, dan sepertinya hujan akan turun. Temanku ternyata telah menungguku didepan rumah.
“Audy, ayo! Keburu hujan nih.” Panggil Yola, sahabatku.
“Iya Yola. sabar !”, jawabku.
Dalam perjalanan menuju sekolah hujan turun begitu deras dan kami memutuskan untuk berteduh sejenak menunggu hujan reda di dekat emperan toko. Selang beberapa saat, hujanpun mulai reda.
“Audy, kita bolos aja yuk! lagian hari ini pelajarannyapun lagi ngebosenin”, rayu Yola.
“ ha, bolos? Gak ah nanti kalau ada yang lihat gimana? Bisa mampus kita” jawab ku terbelalak.
“ udah lah, sekali aja pun, lagian masih gerimis juga. Daripada nanti disekolah kena hujan lokalnya Pak Heri nanti, iddiiihh..jijay banget deh. Tersiksa ne bathin, apalagi kita duduk paling depan, bisa-bisa harus nyediain payung pas pelajaran bapak tu”, ungkap Yola dengan nada kesal kecentilan.
Setelah aku resapi kata-kata Yola, ada benarnya juga. Apalagi aku juga lagi malas ke sekolah, bundapun tidak pernah  memperhatikan aku. Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk pergi bersama Yola dan pergi menuju kafe langganan Yola. Aku dan Yola beserta teman-temannya bersenang-senang hingga lupa waktu, dan tidak sengaja aku melihat jam biru yang menempel dipergelangan tanganku, jarumnya menunjukkan jam 20.10.
Seketika aku pergi dari kafe dengan tergesa-gesa,kuraih tas ransel hijauku yang berada diatas meja kafe dan pergi meninggalkan teman-temanku. Aku benar-benar tidak menyadari ini. Aku terlalu terbawa dunia yang sebenarnya hanya membuang-buang waktu ku yang sangat berharga saja.
Saat aku telah keluar dari kafe,aku melihat kearah rumah makan yang berada didepan kafe, kebetulan perutku udah menunjukkan sinyal-sinyal dengan bunyi yang membuat aku risih,disekitar rumah makan itu kulihat dari kejauhan sesosok yang begitu aku kenal turun dari mobil merahnya dan iapun juga melihat kearahku.
“Ha… bunda?”, ucapku panik.
Dengan segera akupun pergi berlari dengan sekuat tenaga meninggalkan tempat itu. Terdengar dari kejauhan bunda  berteriak memanggil-manggil namaku. Namun aku acuhkan saja, toh selama ini dia tidak pernah peduli padaku, ia hanya sibuk mencari uang. Sampai-sampai dia lupa kalau dia mempunyai dua orang anak yang sangat membutuhkannya dan sama sekali tidak pernah meluangkan waktunya sedikitpun buat buah hatinya ini.
Dalam keadaan berlari aku menoleh kebelakang, ku lihat bunda ternyata sedang mengejarku. Akupun berlari lebih kencang lagi karena ketakutan, entah apa waktu itu yang sedang aku pikirin, aku hanya terus berlari dalam keadaan menoleh ke belakang. Dan pada saat itu juga aku tidak menyadari apa yang ada didepanku. Aku berhenti seketika dan melihat cahaya lurus kearahku juga suara klakson mobil yang begitu kencang, aku berteriak memanggil “bundaaa”. Kemudian gelap……..
s
“ Audy sayang, bangunlah nak! Bunda menyayangimu,” isak tangis seseorang.
Sayup-sayup suara lembut yang tidak begitu asing lagi terdengar ditelingaku. Begitu lekat sampai  ke hati.
“Apakah aku masih hidup atau sudah mati?”, bisik hatiku yang pilu.
Perlahan-lahan ku coba membuka kedua kelopak mataku dengan sangat hati-hati. Sedikit terlihat kabur. Lalu kucoba mengedipkan kedua kelopak mataku beberapa kali. Kemudian terlihatlah langit-langit bewarna putih dan suasana yang serba putih, dan aku melihat Raihan dan wajah bunda yang lembab karena air matanya yang mengalir. Sungguh menyakitkan melihat bunda menangis seperti itu karena aku.
“dimanakah aku sekarang bunda?” ucapku lirih penuh kekhawatiran.
“Audy,akhirnya kamu sudah sadar,kamu berada di rumah sakit, maafkan bunda sayang,bunda takut kehilangan kamu,!” ucap bunda pilu sambil meneteskan butiran-butiran air mata seraya memeluk tubuhku erat.
Pelukan ini begitu hangat, sudah lama aku tidak merasakannya sejak lima tahun yang lalu. Begitu damai, tentram, dan penuh kasih sayang.
Mengapa harus dalam keadaan seperti ini bunda baru memelukku, selama ini bunda kemana saja?ungkapku dalam hati, tak terasa mata ini tidak sanggup lagi membendung deraian air mata ini.
“maafkan Audy karena  membuat bunda sedih dan menangis seperti ini”.
“tidak apa-apa Audy, maafkan bunda pula yang selalu membuat dirimu kesepian dan tidak memperhatikanmu, bunda baru sadar setelah membaca catatanmu yang ada dikamarmu, untuk itu, maafin bunda ya!”, ucap bunda memelukku erat kembali.
Dan akupun berjanji kepada bunda untuk tidak bolos lagi, dan hura-hura seperti yang sebelumnya dan harus mengingatkan bunda jika bunda terlalu sibuk hingga tidak memperhatikan aku dan Raihan lagi..
Pagi akan terus berganti dengan datangnya siang, siangpun akan terus berganti dengan datangnya malam, dan rodapun akan terus berputar yang pada akhirnya akan kembali pada posisinya semula. Burung-burung yang biasanya enggan bernyanyi kini telah mengeluarkan alunan melodi-melodi dalam kehampaan dunia. Kasih sayang,cinta tak perlu harus dipaksa ataupun dicari, sepanjang-panjangnya sungai yang ada didunia ini, pasti hanya akan bermuara ke satu tujuan yakni lautan lepas nan biru yang didalamnya terdapat kebebasan, ketenangan dan kedamaian abadi. Makasih Tuhan. Makasih atas semua yang Engkau limpahkan padaku. Pada kami semua. Kini aku sadar, dibalik semua masalah yang menimpa hidupku, pasti ada hikmah dibalik semua ini. Setelah kesusahan pasti ada kemudahankan? Makasih juga udah kasih Bunda sebaik beliau. Aku hanya ingin selalu natap senyum Bunda karena senyumnya adalah semangat hidupku. Smile is my mother.  I can not live without that smile. And I’d rather not live without you. :)
The End



Ketika Hujan Datang

Dibalik cinta, termaktub berbagai rahasia yang hanya bisa diungkapkan oleh dua orang yang saling mencintai. Alam raya secara tak sadar menggabungkan kedua tanggannya untuk mempersatukan dua makhluk paling sempurna dengan hujan sebagai saksinya.

Hujan mengguyur kota dengan derasnya. Sesosok gadis mengendarai motor terlihat bergegas mendekati bangunan terdekat untuk berteduh. Seketika gadis itu turun dari motornya dan berlari ketempat orang-orang berteduh. Dia kelihatan sangat sibuk sendiri dengan tas besar yang di selipkan di lengannya. Hijabnya yang basah kuyup membuat sebagian wajahnya tertutup.

“Assalamualaikum , kamu kehilangan sesuatu?” suara lelaki terdengar mngucapkan salam.

“Waalaikumsalam , iya nih ada yang hilang, barang penting juga sih” jawab gadis itu tak memandang kearah lelaki yang menyapanya.

“Apakah ini yang hilang itu?” lelaki itu memperlihatkan dompet hijau kecil sambil menggantung ditangannya.

Gadis itupun menyibak hijabnya yang sudah mulai mengering dan berbalik arah melihat lelaki yang sepertinya menemukan barang yang dicarinya.

“Hai haii… halloooo…ini benar punya saya!” kata gadis itu sambil melambai-lambaikan kedua tangannya tepat dimuka lelaki yang melamun itu.

“Oh maaf, ini dompet kamu, lain kali hati-hati!”

“Iya, makasih banyak udah nemuin dompet saya, ini dompet pasti terjatuh barusan pas saya lagi kasak-kusuk nyari barang” kata gadis lugu itu polos.

“Oh iya lain kali nanti jangan lupa pake helm, nanti ada apa-apa gimana, trus sayang juga kan hijabnya sekarang jadi basah kuyup gitu” Kata lelaki itu mengingatkan.

“Oh, helm ya? Iya nih, lupa pakai karena terburu-buru!” jawab gadis itu berlalu.

Hujan sepertinya akan segera berhenti, hanya rintik-rintik kecil yang tersisa. Sebagian orang sudah mulai pergi meninggalkan tempat berteduh. Gadis itu sepertinya agak bingung dan ingin mengatakan sesuatu.

“Saya mauu….” Tiba-tiba saja gadis dan lelaki itu berbicara berhadapan dan berbarengan.

“haha… silahkan ngomong duluan!” pinta lelaki itu seraya tertawa.

“Maaf, kayaknya hujan sudah mulai reda, mau pamit dulu, dan makasih banyak udah nemuin dompet saya” kata gadis itu sembari mengeluarkan senyum tipisnya.

Gadis itu langsung saja berlari kearah motornya tanpa memberikan kesempatan berbicara kepada lelaki itu. Tampak lelaki itu melangkahkan kakinya sedikit seperti ingin mengejar gadis itu.

“Tunggu! Yah, gak sempat nanya nama pulak” kata lelaki itu.

Lelaki itu ntah mengapa selalu memikirkan gadis yang baru saja ia temui. Ada rasa menyesal didalam dada karena tak sempat bertanya siapa nama gadis itu. Hanya satu kalimat yang terpikir oleh lelaki itu. “Gadis itu begitu cantik dan mempesona dengan balutan hijabnya yang basah kuyup oleh hujan”.
-------------------------------------------------------------------------

Gadis itu sampai ditempat tujuan, ini adalah hari pertama ia bekerja disebuah perusahaan ternama. Gadis itu berjalan dengan sedikit laju sambil melihat-lihat dimana ruangan yang akan ia tepati segera. Akhirnya ia menemukan ruangannya, tampak beberapa orang gadis lain sedang berbicara.

“Assalamualaikum” gadis itu memasuki ruangannya.

“Ooooh ini toh orang yang ngambil posisi temen kita, dari tampang gak ada bagusnya” kata gadis lain itu.

“Eh, cewek ganjen, awas juga ya kalau loe sampai deket-deket sama bos kita, ingat ya nama bos kita Rangga Guntara. Ingat tuh biar loe gak lupa dan gak ngambil bos dari kita, ya gak temen2?” kata gadis lainnya.

“Iya kak, insya Allah akan saya ingat.Permisi Kak saya beres-beres dulu” kata gadis itu menunduk dan sedikit melihat Kakak-kakak yang satu ruangan denngannya.
----------------------------------------------------------------------------------

Beberapa haripun berlalu.  Sang gadis tampak kelelahan setelah pulang dari kantor. Ditengah perjalanan pulang, hujan turun lagi membasahi kota. Gadis itu pun berteduh ditempat orang-orang yang berteduh lainnya. Kali ini gadis itu tak lupa mengenakan helm sehingga hijabnya tak basah kuyup.

Gadis itu seperti melihat orang yang pernah ia lihat sebelumnya, ia pun menyapanya.

“Haii, kamu orang yang nemuin dompet saya dulu kan?” Kata gadis itu pada lelaki yang ia temui dulu.

“Oh kamu? Gak nyangka ketemu lagi. Oh ya… kemarin gak sempat kenalan, perkenalkan nama saya Rangga Guntara” kata lelaki itu mengulurkan tangannya.

“Saya Zikra Medinna, salam kenal juga” kata gadis itu sembari mengangkat kedua tangannya dan merapatkannya didepan dadanya.

Lelaki itu tampak bingung dan menarik kembali uluran tangannya.

Seketika Zikra seperti mengenal nama itu dan tak asing baginya. Zikra pun ingat kalau lelaki yang ada didepannya adalah Bos yang dibicaran sama kakak-kakak yang ada dikantornya dulu. Zikra takjub karena ternyata bos yang selama ini belum pernah ia temui di kantor adalah Lelaki yang bernama Rangga dan kenyataannya bos nya ini masih muda banget.

“Zikra yaa? Kamu bisa panggil saya Rangga, Zikra!” kata Lelaki yang bernama Rangga itu.

“Iya Rangga, kamu panggil saya Zikra saja”.

Semuanya berlalu begitu cepat, rasanya hari ini begitu special bagi Rangga dan Zikra. Mereka berdua saling memikirkan satu sama lain tanpa ada yang tahu kecuali Sang Pencipta.
-----------------------------------------------------------

Ada rahmat dibalik hujan bagi yang memikirkan, apapun bisa terjadi dibawah hujan. CINTA. Sebuah kata sarat makna dimana Cinta itu sebuah permainan yang dimainkan oleh dua orang dan dimenangkan oleh dua orang tersebut.

Awan tampak gelap, gemuruh mengeluarkan suaranya tanda kan turun hujan kembali. Rintik-rintik hujan pun mulai turun, Zikra cepat-cepat segera memarkirkan motornya dan menuju kantor dengan segera.

Saat melihat jam tangannya dan Zikra pun menabrak sesuatu.

“Bruukkkkkkkk”

Zikra segera bangkit  dan memohon maaf pada orang yang ditabraknya tersebut.

“Maafkan saya Pak, saya sedikit terburu-buru, maafkan saya sekali lagi Pak!” Kata Zikra sambil menunduk tanda menyesal dan segera membereskan alat-alatnya yang terjatuh.

“Zikra! kamu kerja disini, kamu gak apa-apa kan?” Keluar suara yang tak asing bagi Zikra.

Zikra mengangkat pendangannya dan terkejut dengan apa yang ia lihat dihadapannya.

“Rangga! Gak apa-apa kok.Saa… yaa kerja disini Rangga, maaaf udah buat kamu terjatuh” Kata Zikra.

Ketika Zikra menghadap ketempat yang lain, tampak gadis-gadis yang satu ruangan dengan Zikra melihat kejadian itu. Gadis-gadis itu tampak mengeluarkan senyuman sinis dan mengacungkan tinju-tinjunya. Zikra pun segera bergegas meninggalkan tempat itu dan mohon permisi kepada Rangga.

Saat Zikra meninggalkan Rangga, Zikra sedikit menoleh kebelakang dan melihat kepergian Rangga. Ntah mengapa jantung Zikra seakan berdegup kencang ketika melihat Rangga. Sekarang hanya punggung Rangga yang ia lihat dari belakang dan Rangga pun tampak memasuki mobil mewahnya meninggalkan Zikra.
-------------------------------------------------------------------------------------

Rangga sepertinya telah tau dimana ruangan tempat Zikra Medinna. Rangga mulai mencari ruangannya dan menemukan ruangan tersebut, sekilas terdengar kebisingan dari dalam ruangan Zikra. Ranggapun membuka pintu dan terkejut atas apa yang terjadi pada Zikra di ruangan itu.

“Hey berhenti, apa yang kalian lakukan kepada Zikra?” Tanya Rangga menarik tangan Zikra dan melindunginya disebalik punggungnya.

“Apa-apaan kalian ini, kenapa Zikra sampai nangis dan penampilannya acak-acakan gini?” Tanya Rangga pada gadis-gadis jahat yang telah nge-bully Zikra.

“Ah si Bos Rangga kayak gak tau aja. Dia tu sok, bermuka laksana Bidadari tapi hatinya busuk. Dia udah berani merayu bos”  kata gadis yang telah jahat pada Zikra itu.

“Ahh… alasan kalian semuanya. Kalian itu yang bermuka Bidadari dan berhati busuk, seenaknya aja berlaku jahat seperti ini. Awaas kalau ada kejadian seperti ini lagi. Kalian semua akan saya pecat” Kata Rangga lantang.

Zikra pun sibuk memperbaiki penampilannya yang udah diacak-acak sama rekan di dalam ruangnnya. Langsung saja Rangga membawa Zikra pergi dan meninggalkan ruangan itu.
-------------------------------------------------------------------

“Maaf Rangga atas kejadian yang memalukan tadi” Kata Zikra pada Rangga.

“Gak  apa-apa Zikra, memang sudah seharusnya saya nolongin kamu, yuk sekarang kita mulai aja makannya, keburu dingin loh ntar!” ajak Rangga kepada Zikra.

“Terima kasih Rangga” Ucap Zikra penuh ketulusan.

“Iya, sama-sama”

Rangga dan Zikra pun mengabiskan waktu makan siang bersama di kafe favorit Rangga. Ada yang mengganjal dihati Rangga dan ia bena-benar ingin selalu bersama Zikra. Rangga ingin mengungkapkannya tapi rasanya tak bisa sekarang, karena ini masih awal dan ingin jauh lebih mengenal Zikra dahulu.

Tiba-tiba muncul suatu ide dipikiran Rangga. Rangga akan menguji Zikra,kalau misalnya Zikra berhasil, Rangga berharap Zikra lah yang akan menjadi pasangannya kelak.

“Zikra!” panggil Rangga.

“Ya, apa Rangga?” balas Zikra.

“Gimana kalau kamu melepaskan hijab kamu dan perpenampilan yang sedikit… yaaa… kamu tahu lah??” Kata Rangga dengan muka serius.

“Maksud Rangga? Saya kerja gak usah pakai hijab lagi??” Tanya Zikra terbelalak.

“Iyaa….Dari pada kamu di jahatin terus sama mereka, lagian penampilan kamu agak mengganggu gitu, apalagi kamu kan cantik dan berbakat. Sayangkan kalau gak ditonjolkan?”

“Tapi, saya gak bisa Rangga, ini semua udah jadi prinsip hidup saya, dan gak bisa saya ubah lagi” bantah Zikra.

“Pasti bisa Zik, aku yakin, gimana kalau gaji kamu saya naikkan dua kali lipat?”

Zikra kehilangan selera makannya. Dan beranggapan kalau Rangga gak menghargainya, Rangga gak sebaik yang Zikra pikirkan, Zikra menyesal telah bertemu  orang seperti Rangga.

“Tapi saya gak bisa Rangga. Maaf saya harus pergi sekarang, terima kasih atas makan siangnya” kata Zikra meninggalkan kafe itu.

Ada sedikit kepuasan dihati Rangga, ternyata Zikra adalah gadis yang tangguh dan berprinsip. Sekarang Rangga benar-benar yakin atas hatinya. Besok Rangga akan meminta maaf pada Zikra atas kejadian hari ini.
-------------------------------------------------------------------------

Zikra tidak habis pikir sama bos yang dipanggilnya Rangga itu. Cowok yang ia kagumi dan ia sukai ternyata tak menghargainya sebagai seorang muslimah. Rangga hanya mementingkan penampilan fisik dengan iming-iming uang.

Zikra merasa tak sanggup lagi bekerja di kantor yang menyebalkan itu. Mulai dari rekan-rekannya yang tiap hari selalu jahat padanya kemudian bosnya yang ternyata bos genit yang membuat Zikra gak tahan dan ingin menjauh.

‘"Ya Allah, apakah aku harus tetap dikantor itu, sementara banyak gangguan yang aku alami selama ini?  Mungkin kantor ini tak cocok bagiku. Sebaiknya aku mengundurkan diri dari kantor itu. Aku yakin, rezeki dari Allah pasti takkan berkurang kalau aku berhenti dari kantor itu. Aku yakin. Aku akan memulainya semua dari awal kembali. Bismillah…,” Zikra meyakinkan hatinya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Keesokan harinya di kantor.

“Loh, Zikra mana?” Tanya Rangga pada rekan satu ruangannya.

“Jadi bos Rangga gak tau ya kalau Zikra itu mengundurkan diri dari kantor ini?” jawab rekan satu ruangan Zikra.

“Apa? Kenapa?” Tanya Rangga lagi.

“Ya mana saya tau bos” jawab rekannya.

“Zikra ngundurin diri? Kenapa? Apa karena kejadian semalam?Duh, gak bisa dihubungi lagi. Aku hanya ingin minta maaf sama kamu atas kejadian waktu itu Zik, tapi kamunya malah ngundurin diri. Maafkan aku yang udah buat kamu kecewa. Aku ingin bertemu kamu saat ini Zik” Pint Rangga didalam hati.

Mulai dari pertemuan terakhir itu, Rangga tidak pernah bertemu Zikra lagi. Rangga begitu Rindu ingin bertemu Zikra kembali. Tapi terlambat. Kini semua telah terjadi, niat yang awalnya ingin menguji membuat Rangga dan Zikra perpisah berbulan-bulan.

Setiap hari, waktu demi waktu, Rangga selalu menunggu hujan datang kembali. Di saat hujan datang Rangga pergi membawa motor kesayangannya dan berteduh ditempat orang-orang berteduh. Disanalah Rangga selalu berharap supaya kejadian yang lalu sejak ia pertama kali bertemu Zikra akan terulang kembali.

Namun sayang. Rangga tidak pernah bertemu Zikra kembali. Rangga tidak menyangka mengapa ini semua menjadi begitu sulit. Padahal hujan ini lah yang selalu mempertemukannya dengan Zikra dulu.

Sepertinya Rangga melihat sesosok orang dan sedikit berlari sembari menghalau kerumunan orang yang sendang berteduh.

“Zikra!”

Rangga mengerutkan dahi tak percaya pada apa yang dilihatnya.

“Maaf, saya salah orang. Saya kira temen saya” Rangga meminta maaf pada orang yang dianggapnya Zikra.

Rangga pergi meninggalkan orang yang salah tadi dan kembali ketempat ia berada sebelumnya.

“Inikah yang namanya cinta sejati? Kenapa setiap detik terasa begitu sulit. Tapi apakah cinta sejati namanya kalau orang yang kita sukai tak berada disisi? Aku tak mengerti rencana Tuhan. Yang aku ingin saat ini adalah bertemu Zikra, itu saja Tuhan. Ya Allah kabulkanlah Doaku!” Bisik hati Rangga menghadap ke langit.

Rangga sepertinya berhalusinasi kembali, ia melihat lagi sosok Zikra dari kejauhan dan akan mendekat ketempat ia beteduh. Tapi kali ini dia memakai helm dan sangat susah untuk mengenalinya. Sontak saja Rangga berdiri dan lebih memperhatikan.

“Zikra!”

Rangga berlari ke arah gadis yang baru saja membuka helmnya dan terburu-buru berlari ketempat berteduh.
Seketika Zikra pun terkejut dan Rangga  menghampiri Zikra di tengah hujan yang sedang berlangsung.

“Rangga! Ngapain disini hujan tauk, ketempat beteduh aja dulu!” ajak Zikra sedikit berteriak ditengah hujan yang semakin deras.

Zikra ingin melangkahkan kakinya, tapi Rangga meraih tangan Zikra dan menyuruhnya untuk tetap disini.

“Rangga, sekarang sedang hujan, lihatkan sekarang kita jadi basah kuyup” Zikra memandang.

“Biarkan saja Zikra, biarkan hujan ini menjadi saksi diantara kita. Berikan aku waktu dan biarkan aku untuk meminta maaf kepadamu atas kesalahanku dulu, aku gak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin....”

Zikra memotong pembicaraan Rangga ditengah hujan yang semakin deras dan Zikra pun berkata, “ Apapun kesalahanmu, aku telah memaafkanmu, Rangga”

“Aku tau aku salah berbuat kepadamu Zik, aku hanya ingin kamu tetaplah disampingku dan jangan pergi seperti ini lagi”

“Aku akan selalu ada disampingmu Rangga” Balas Zikra kepada Rangga ditengah berlangsungnya hujan.

Keyakinan, itu yang harus kita ikuti. Dikala hujan, tak semuanya berjalan mulus, kadang ada angin ribut, dan kilatan cahaya disertai gemuruh yang membuat kita takut bahkan membuat kerusakan. Percayalah, disaat itu semua terjadi pasti kan muncul pelangi. Dia akan selalu ada dan mewarnai sang langit.


TAMAT


Gimana temen2 bagus gak?? hehe....makasih sebelumnya bagi yang udah baca, dan jangan lupa Like dan koment nya ya... :))

Kamis, 04 Juli 2013

TEDUH


Menyusuri langkah demi langkah

Tak terbesit dihati kata tidak

Sengatan cahya mentari takkan mampu

Menyentuh kulit ini

Sampai denyut  jantung berhenti ditelan waktu

Acungkan deraian kobaran api hati

Berikan setitik embun pagi nan suci

Biarlah yang lain hanya menggonggong

Tapi jangan biarkan ia menjentikkan

Jempolnya yang hina

Akan datang pelangi abadi

Menjelma bagai bidadari pagi

Merasuk kedalam naluri

Rupa jiwakan teduh menggema


Jangan lupa like dan komentarnya ya…makasihh