Jumat, 05 Juli 2013

Ketika Hujan Datang

Dibalik cinta, termaktub berbagai rahasia yang hanya bisa diungkapkan oleh dua orang yang saling mencintai. Alam raya secara tak sadar menggabungkan kedua tanggannya untuk mempersatukan dua makhluk paling sempurna dengan hujan sebagai saksinya.

Hujan mengguyur kota dengan derasnya. Sesosok gadis mengendarai motor terlihat bergegas mendekati bangunan terdekat untuk berteduh. Seketika gadis itu turun dari motornya dan berlari ketempat orang-orang berteduh. Dia kelihatan sangat sibuk sendiri dengan tas besar yang di selipkan di lengannya. Hijabnya yang basah kuyup membuat sebagian wajahnya tertutup.

“Assalamualaikum , kamu kehilangan sesuatu?” suara lelaki terdengar mngucapkan salam.

“Waalaikumsalam , iya nih ada yang hilang, barang penting juga sih” jawab gadis itu tak memandang kearah lelaki yang menyapanya.

“Apakah ini yang hilang itu?” lelaki itu memperlihatkan dompet hijau kecil sambil menggantung ditangannya.

Gadis itupun menyibak hijabnya yang sudah mulai mengering dan berbalik arah melihat lelaki yang sepertinya menemukan barang yang dicarinya.

“Hai haii… halloooo…ini benar punya saya!” kata gadis itu sambil melambai-lambaikan kedua tangannya tepat dimuka lelaki yang melamun itu.

“Oh maaf, ini dompet kamu, lain kali hati-hati!”

“Iya, makasih banyak udah nemuin dompet saya, ini dompet pasti terjatuh barusan pas saya lagi kasak-kusuk nyari barang” kata gadis lugu itu polos.

“Oh iya lain kali nanti jangan lupa pake helm, nanti ada apa-apa gimana, trus sayang juga kan hijabnya sekarang jadi basah kuyup gitu” Kata lelaki itu mengingatkan.

“Oh, helm ya? Iya nih, lupa pakai karena terburu-buru!” jawab gadis itu berlalu.

Hujan sepertinya akan segera berhenti, hanya rintik-rintik kecil yang tersisa. Sebagian orang sudah mulai pergi meninggalkan tempat berteduh. Gadis itu sepertinya agak bingung dan ingin mengatakan sesuatu.

“Saya mauu….” Tiba-tiba saja gadis dan lelaki itu berbicara berhadapan dan berbarengan.

“haha… silahkan ngomong duluan!” pinta lelaki itu seraya tertawa.

“Maaf, kayaknya hujan sudah mulai reda, mau pamit dulu, dan makasih banyak udah nemuin dompet saya” kata gadis itu sembari mengeluarkan senyum tipisnya.

Gadis itu langsung saja berlari kearah motornya tanpa memberikan kesempatan berbicara kepada lelaki itu. Tampak lelaki itu melangkahkan kakinya sedikit seperti ingin mengejar gadis itu.

“Tunggu! Yah, gak sempat nanya nama pulak” kata lelaki itu.

Lelaki itu ntah mengapa selalu memikirkan gadis yang baru saja ia temui. Ada rasa menyesal didalam dada karena tak sempat bertanya siapa nama gadis itu. Hanya satu kalimat yang terpikir oleh lelaki itu. “Gadis itu begitu cantik dan mempesona dengan balutan hijabnya yang basah kuyup oleh hujan”.
-------------------------------------------------------------------------

Gadis itu sampai ditempat tujuan, ini adalah hari pertama ia bekerja disebuah perusahaan ternama. Gadis itu berjalan dengan sedikit laju sambil melihat-lihat dimana ruangan yang akan ia tepati segera. Akhirnya ia menemukan ruangannya, tampak beberapa orang gadis lain sedang berbicara.

“Assalamualaikum” gadis itu memasuki ruangannya.

“Ooooh ini toh orang yang ngambil posisi temen kita, dari tampang gak ada bagusnya” kata gadis lain itu.

“Eh, cewek ganjen, awas juga ya kalau loe sampai deket-deket sama bos kita, ingat ya nama bos kita Rangga Guntara. Ingat tuh biar loe gak lupa dan gak ngambil bos dari kita, ya gak temen2?” kata gadis lainnya.

“Iya kak, insya Allah akan saya ingat.Permisi Kak saya beres-beres dulu” kata gadis itu menunduk dan sedikit melihat Kakak-kakak yang satu ruangan denngannya.
----------------------------------------------------------------------------------

Beberapa haripun berlalu.  Sang gadis tampak kelelahan setelah pulang dari kantor. Ditengah perjalanan pulang, hujan turun lagi membasahi kota. Gadis itu pun berteduh ditempat orang-orang yang berteduh lainnya. Kali ini gadis itu tak lupa mengenakan helm sehingga hijabnya tak basah kuyup.

Gadis itu seperti melihat orang yang pernah ia lihat sebelumnya, ia pun menyapanya.

“Haii, kamu orang yang nemuin dompet saya dulu kan?” Kata gadis itu pada lelaki yang ia temui dulu.

“Oh kamu? Gak nyangka ketemu lagi. Oh ya… kemarin gak sempat kenalan, perkenalkan nama saya Rangga Guntara” kata lelaki itu mengulurkan tangannya.

“Saya Zikra Medinna, salam kenal juga” kata gadis itu sembari mengangkat kedua tangannya dan merapatkannya didepan dadanya.

Lelaki itu tampak bingung dan menarik kembali uluran tangannya.

Seketika Zikra seperti mengenal nama itu dan tak asing baginya. Zikra pun ingat kalau lelaki yang ada didepannya adalah Bos yang dibicaran sama kakak-kakak yang ada dikantornya dulu. Zikra takjub karena ternyata bos yang selama ini belum pernah ia temui di kantor adalah Lelaki yang bernama Rangga dan kenyataannya bos nya ini masih muda banget.

“Zikra yaa? Kamu bisa panggil saya Rangga, Zikra!” kata Lelaki yang bernama Rangga itu.

“Iya Rangga, kamu panggil saya Zikra saja”.

Semuanya berlalu begitu cepat, rasanya hari ini begitu special bagi Rangga dan Zikra. Mereka berdua saling memikirkan satu sama lain tanpa ada yang tahu kecuali Sang Pencipta.
-----------------------------------------------------------

Ada rahmat dibalik hujan bagi yang memikirkan, apapun bisa terjadi dibawah hujan. CINTA. Sebuah kata sarat makna dimana Cinta itu sebuah permainan yang dimainkan oleh dua orang dan dimenangkan oleh dua orang tersebut.

Awan tampak gelap, gemuruh mengeluarkan suaranya tanda kan turun hujan kembali. Rintik-rintik hujan pun mulai turun, Zikra cepat-cepat segera memarkirkan motornya dan menuju kantor dengan segera.

Saat melihat jam tangannya dan Zikra pun menabrak sesuatu.

“Bruukkkkkkkk”

Zikra segera bangkit  dan memohon maaf pada orang yang ditabraknya tersebut.

“Maafkan saya Pak, saya sedikit terburu-buru, maafkan saya sekali lagi Pak!” Kata Zikra sambil menunduk tanda menyesal dan segera membereskan alat-alatnya yang terjatuh.

“Zikra! kamu kerja disini, kamu gak apa-apa kan?” Keluar suara yang tak asing bagi Zikra.

Zikra mengangkat pendangannya dan terkejut dengan apa yang ia lihat dihadapannya.

“Rangga! Gak apa-apa kok.Saa… yaa kerja disini Rangga, maaaf udah buat kamu terjatuh” Kata Zikra.

Ketika Zikra menghadap ketempat yang lain, tampak gadis-gadis yang satu ruangan dengan Zikra melihat kejadian itu. Gadis-gadis itu tampak mengeluarkan senyuman sinis dan mengacungkan tinju-tinjunya. Zikra pun segera bergegas meninggalkan tempat itu dan mohon permisi kepada Rangga.

Saat Zikra meninggalkan Rangga, Zikra sedikit menoleh kebelakang dan melihat kepergian Rangga. Ntah mengapa jantung Zikra seakan berdegup kencang ketika melihat Rangga. Sekarang hanya punggung Rangga yang ia lihat dari belakang dan Rangga pun tampak memasuki mobil mewahnya meninggalkan Zikra.
-------------------------------------------------------------------------------------

Rangga sepertinya telah tau dimana ruangan tempat Zikra Medinna. Rangga mulai mencari ruangannya dan menemukan ruangan tersebut, sekilas terdengar kebisingan dari dalam ruangan Zikra. Ranggapun membuka pintu dan terkejut atas apa yang terjadi pada Zikra di ruangan itu.

“Hey berhenti, apa yang kalian lakukan kepada Zikra?” Tanya Rangga menarik tangan Zikra dan melindunginya disebalik punggungnya.

“Apa-apaan kalian ini, kenapa Zikra sampai nangis dan penampilannya acak-acakan gini?” Tanya Rangga pada gadis-gadis jahat yang telah nge-bully Zikra.

“Ah si Bos Rangga kayak gak tau aja. Dia tu sok, bermuka laksana Bidadari tapi hatinya busuk. Dia udah berani merayu bos”  kata gadis yang telah jahat pada Zikra itu.

“Ahh… alasan kalian semuanya. Kalian itu yang bermuka Bidadari dan berhati busuk, seenaknya aja berlaku jahat seperti ini. Awaas kalau ada kejadian seperti ini lagi. Kalian semua akan saya pecat” Kata Rangga lantang.

Zikra pun sibuk memperbaiki penampilannya yang udah diacak-acak sama rekan di dalam ruangnnya. Langsung saja Rangga membawa Zikra pergi dan meninggalkan ruangan itu.
-------------------------------------------------------------------

“Maaf Rangga atas kejadian yang memalukan tadi” Kata Zikra pada Rangga.

“Gak  apa-apa Zikra, memang sudah seharusnya saya nolongin kamu, yuk sekarang kita mulai aja makannya, keburu dingin loh ntar!” ajak Rangga kepada Zikra.

“Terima kasih Rangga” Ucap Zikra penuh ketulusan.

“Iya, sama-sama”

Rangga dan Zikra pun mengabiskan waktu makan siang bersama di kafe favorit Rangga. Ada yang mengganjal dihati Rangga dan ia bena-benar ingin selalu bersama Zikra. Rangga ingin mengungkapkannya tapi rasanya tak bisa sekarang, karena ini masih awal dan ingin jauh lebih mengenal Zikra dahulu.

Tiba-tiba muncul suatu ide dipikiran Rangga. Rangga akan menguji Zikra,kalau misalnya Zikra berhasil, Rangga berharap Zikra lah yang akan menjadi pasangannya kelak.

“Zikra!” panggil Rangga.

“Ya, apa Rangga?” balas Zikra.

“Gimana kalau kamu melepaskan hijab kamu dan perpenampilan yang sedikit… yaaa… kamu tahu lah??” Kata Rangga dengan muka serius.

“Maksud Rangga? Saya kerja gak usah pakai hijab lagi??” Tanya Zikra terbelalak.

“Iyaa….Dari pada kamu di jahatin terus sama mereka, lagian penampilan kamu agak mengganggu gitu, apalagi kamu kan cantik dan berbakat. Sayangkan kalau gak ditonjolkan?”

“Tapi, saya gak bisa Rangga, ini semua udah jadi prinsip hidup saya, dan gak bisa saya ubah lagi” bantah Zikra.

“Pasti bisa Zik, aku yakin, gimana kalau gaji kamu saya naikkan dua kali lipat?”

Zikra kehilangan selera makannya. Dan beranggapan kalau Rangga gak menghargainya, Rangga gak sebaik yang Zikra pikirkan, Zikra menyesal telah bertemu  orang seperti Rangga.

“Tapi saya gak bisa Rangga. Maaf saya harus pergi sekarang, terima kasih atas makan siangnya” kata Zikra meninggalkan kafe itu.

Ada sedikit kepuasan dihati Rangga, ternyata Zikra adalah gadis yang tangguh dan berprinsip. Sekarang Rangga benar-benar yakin atas hatinya. Besok Rangga akan meminta maaf pada Zikra atas kejadian hari ini.
-------------------------------------------------------------------------

Zikra tidak habis pikir sama bos yang dipanggilnya Rangga itu. Cowok yang ia kagumi dan ia sukai ternyata tak menghargainya sebagai seorang muslimah. Rangga hanya mementingkan penampilan fisik dengan iming-iming uang.

Zikra merasa tak sanggup lagi bekerja di kantor yang menyebalkan itu. Mulai dari rekan-rekannya yang tiap hari selalu jahat padanya kemudian bosnya yang ternyata bos genit yang membuat Zikra gak tahan dan ingin menjauh.

‘"Ya Allah, apakah aku harus tetap dikantor itu, sementara banyak gangguan yang aku alami selama ini?  Mungkin kantor ini tak cocok bagiku. Sebaiknya aku mengundurkan diri dari kantor itu. Aku yakin, rezeki dari Allah pasti takkan berkurang kalau aku berhenti dari kantor itu. Aku yakin. Aku akan memulainya semua dari awal kembali. Bismillah…,” Zikra meyakinkan hatinya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Keesokan harinya di kantor.

“Loh, Zikra mana?” Tanya Rangga pada rekan satu ruangannya.

“Jadi bos Rangga gak tau ya kalau Zikra itu mengundurkan diri dari kantor ini?” jawab rekan satu ruangan Zikra.

“Apa? Kenapa?” Tanya Rangga lagi.

“Ya mana saya tau bos” jawab rekannya.

“Zikra ngundurin diri? Kenapa? Apa karena kejadian semalam?Duh, gak bisa dihubungi lagi. Aku hanya ingin minta maaf sama kamu atas kejadian waktu itu Zik, tapi kamunya malah ngundurin diri. Maafkan aku yang udah buat kamu kecewa. Aku ingin bertemu kamu saat ini Zik” Pint Rangga didalam hati.

Mulai dari pertemuan terakhir itu, Rangga tidak pernah bertemu Zikra lagi. Rangga begitu Rindu ingin bertemu Zikra kembali. Tapi terlambat. Kini semua telah terjadi, niat yang awalnya ingin menguji membuat Rangga dan Zikra perpisah berbulan-bulan.

Setiap hari, waktu demi waktu, Rangga selalu menunggu hujan datang kembali. Di saat hujan datang Rangga pergi membawa motor kesayangannya dan berteduh ditempat orang-orang berteduh. Disanalah Rangga selalu berharap supaya kejadian yang lalu sejak ia pertama kali bertemu Zikra akan terulang kembali.

Namun sayang. Rangga tidak pernah bertemu Zikra kembali. Rangga tidak menyangka mengapa ini semua menjadi begitu sulit. Padahal hujan ini lah yang selalu mempertemukannya dengan Zikra dulu.

Sepertinya Rangga melihat sesosok orang dan sedikit berlari sembari menghalau kerumunan orang yang sendang berteduh.

“Zikra!”

Rangga mengerutkan dahi tak percaya pada apa yang dilihatnya.

“Maaf, saya salah orang. Saya kira temen saya” Rangga meminta maaf pada orang yang dianggapnya Zikra.

Rangga pergi meninggalkan orang yang salah tadi dan kembali ketempat ia berada sebelumnya.

“Inikah yang namanya cinta sejati? Kenapa setiap detik terasa begitu sulit. Tapi apakah cinta sejati namanya kalau orang yang kita sukai tak berada disisi? Aku tak mengerti rencana Tuhan. Yang aku ingin saat ini adalah bertemu Zikra, itu saja Tuhan. Ya Allah kabulkanlah Doaku!” Bisik hati Rangga menghadap ke langit.

Rangga sepertinya berhalusinasi kembali, ia melihat lagi sosok Zikra dari kejauhan dan akan mendekat ketempat ia beteduh. Tapi kali ini dia memakai helm dan sangat susah untuk mengenalinya. Sontak saja Rangga berdiri dan lebih memperhatikan.

“Zikra!”

Rangga berlari ke arah gadis yang baru saja membuka helmnya dan terburu-buru berlari ketempat berteduh.
Seketika Zikra pun terkejut dan Rangga  menghampiri Zikra di tengah hujan yang sedang berlangsung.

“Rangga! Ngapain disini hujan tauk, ketempat beteduh aja dulu!” ajak Zikra sedikit berteriak ditengah hujan yang semakin deras.

Zikra ingin melangkahkan kakinya, tapi Rangga meraih tangan Zikra dan menyuruhnya untuk tetap disini.

“Rangga, sekarang sedang hujan, lihatkan sekarang kita jadi basah kuyup” Zikra memandang.

“Biarkan saja Zikra, biarkan hujan ini menjadi saksi diantara kita. Berikan aku waktu dan biarkan aku untuk meminta maaf kepadamu atas kesalahanku dulu, aku gak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin....”

Zikra memotong pembicaraan Rangga ditengah hujan yang semakin deras dan Zikra pun berkata, “ Apapun kesalahanmu, aku telah memaafkanmu, Rangga”

“Aku tau aku salah berbuat kepadamu Zik, aku hanya ingin kamu tetaplah disampingku dan jangan pergi seperti ini lagi”

“Aku akan selalu ada disampingmu Rangga” Balas Zikra kepada Rangga ditengah berlangsungnya hujan.

Keyakinan, itu yang harus kita ikuti. Dikala hujan, tak semuanya berjalan mulus, kadang ada angin ribut, dan kilatan cahaya disertai gemuruh yang membuat kita takut bahkan membuat kerusakan. Percayalah, disaat itu semua terjadi pasti kan muncul pelangi. Dia akan selalu ada dan mewarnai sang langit.


TAMAT


Gimana temen2 bagus gak?? hehe....makasih sebelumnya bagi yang udah baca, dan jangan lupa Like dan koment nya ya... :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar