Senin, 09 Juni 2014

Hari Ini

Assalamualaikum Sobat, gimana kabarnya? mudah-mudahan baik selalu ya. Hari ini beneran cukup melelahkan ya, jujur sih sebenarnya gak ada melakukan aktivitas yang memberatkan, cuma gak nahannya itu tadi sempat pulang pergi dari rumah sepupu aku si Mila buat wawancara Teta (Sapaan ke Ayahnya Mila), trus panas-panasan, haha. Ini loh ada tugas mengenai penataran P4 pada zaman orde baru. Jadi harus wawancara orang yang usianya di atas 40 tahun dan pernah mengikuti penataran P4. 

Aku ke rumah Mila sekitar jam 9 nan arah ke kubang yang gak jauh dari kampus aku, tadi sempat makan cukup banyak disana. Sebelum ke kampus tadi pagi udah sarapan juga di rumah. Sampai di rumah Mila aku malah disuguhin bubur kacang ijo semangkok plus roti tawar yang dibanamkan dalam ntu mangkok. Aku wawancara Teta sekalian makan ntu bubur, sambil-sambilan gitu. Tapi lama-lama mumet juga ni perut karena kekenyangan, mau gak mau mesti dihabisin, laaaah wong aku dari kecil gak dibolehin buang-buang makanan, mubazir, rezeki dari Allah. Masih kebayang dulu pernah di cubit Ibu karena buang makanan. Jadi pas ada niat mau buang makanan kadang ada aja gitu rasa sakit yang masih tertinggal, hahhaha :D maksudnya udah terbiasa gitu laah.

Terus Teta habis masak gitu kayaknya. Weeeeeww.. kerang rebus. Bikin aku tergoda aromanya, sumpeh sumpeh tueek deh. Akhirnya aku coba ntu kerang berdua makannya sama Mila, cukup banyak juga sih makannya. Kenyang bener. Trus nyobain sedikit buah mangga dari pohon yang ada di rumah Mila, manis juga ternyata :D Siang pun balek lagi ke rumah Mila, ngetik hasil wawancara plus makan lagi. Tambah kenyang ane :D

Nah, back to the topic. Lupa nih jelasin tentang penataran P4. Selengkapnya simak aja hasil wawancara aku dengan Teta.

Nama : Dr. Hasanuddin, M.Si
Umur : 51 tahun
Pendidikan terakhir : s3
Pekerjaan : dosen
Sebagai peserta : sekitar tahun 1983
Komentar: Sebagai narasumber mengenai P4.

1.      Menurut  Bapak apa yang dimaksud dengan penataran P4?
P4 ada pada masa pemerintahan orde baru, adalah memberikan pedoman bagi warga negara untuk bertindak  sesuai dengan nilai-nilai pancasila, P4 itu singkatan dari pedoman penghayatan dan pengamalan pancasila yaitu pemerintah yang ingin memberikan pedoman untuk berperilaku pada semua warga negara, tapi kalau dilihat dari tafsiran-tafsiran yang dimaksud dengan P4 itu adalah upaya pemerintah orde baru untuk menciptakan kestabilan politik supaya warga negara tidak bertindak diluar dari kehendak pemerintah orde baru pada saat itu.

2.      Bagaimana bentuk dari pelaksanaan P4 itu sendiri?
Biasanya dalam bentuk penataran misalnya dalam satu ruangan orang-orang dikumpulkan bersama dengan satu orang penceramah atau pembicara, ada tanggung jawab dan ada diskusi-diskusi kelompok yang membahas menganai pancasila atau pedoman penghayatan itu beserta nilai-nilai pancasila.

3.      Kepada siapa saja ditujukannya P4?
P4 itu ditujukan kepada semua lapisan masyarakat tpi pelaksanaannya bisa berkelompok2, dimulai dari anak sma dengan sesama anak sma, mahasiswa dengan sesama mahasiswa, kelompok masyarakat, petani, nelayan itu dikelompokkan sendiri-sendiri namun kadang-kadang ada juga yang dicampur antara petani, nelayan, pedagang kemudian disatukan. Kemudian pegawai-pegawai,  pegawai juga mendapat penataran. Yang inti  sasaran sebenarnya itu ditujukan kepada seluruh warga negara.

4.      Sejak kapan pelaksanaan P4 itu dilakukan?
Adanya P4 sekitar tahun 80-an sudah ada, 78 an juga sudah ada, jadi  setelah pemilu kedua pemilu tahun 78, sudah mulai dikembangkan P4 itu.

5.      Kenapa tidak diterapkannya lagi P4 pada saat ini?
Tidak diterapkannya P4 dikarenakan sistem pemerintahan yang sudah berganti  disebut dengan rezim, dengan pergantian rezim itu, ada penglihatan bahwa P4 itu terlalu mendoktrin warga negara sesuai dengan keinginan pemerintah dan itu dilihat tidak demokratis, jadi harusnya menurut paham demokrasi, warga negara itu punya pandangan sendiri, punya perilaku sendiri didalam negara itu tanpa harus didoktrin oleh pemerintah. Reformasi salah satu tujuannnya.

6.      Apakah P4 dilakukan sepihak oleh pemerintah?
P4 atas kesepakatan semua, bahkan DPR pun memberikan suara dalam memutuskan penerapan P4.  Ada bentuk-bentuk lain dari penerapan ideologi P4, kalau bisa dengan memperbanyak peluang ceramah-ceramah agama, baik itu di sekolah, mata pelajaran, bentuk budi pekerti, tapi hal yang tidak diinginkan itu adalah penyeragaman warga negara yang dibuat oleh pemerintah. Jadi harus ada diskusi-diskusi di masyarakat untuk merumuskan apa ideologi atau pandangan dari warga negara itu sendiri.

7.      Apakah P4 bisa diterapkan pada saat ini?
Pernah dicoba penerapannya dengan menerapkan 4 pilar yang serupa dengan P4. Ada pilar PILAR Pancasila, pilar NKRI, pilar ideologi dan pilar UUD 1945, tapi dilihat dari doktrin seperti itu tidak banyak gunanya dan tidak membawa kemanfaatan. Dimana dulu P4 mengajarkan warga negara untuk lurus tapi tidak begitu terlihat nilai-nilainya, dikarenakan pemerintahan pada masa itu hanya ingin rakyat menuruti segala kemauan pemerintah pada masa orde baru. Tapi berangkat dari p4 bisa diterapkan lagi pada saat ini semua itu tergantung pemerintah di zaman, mungkin di zaman sekarang penataran P4 memang tidak diberlakukan lagi, tapi disisi lain masih banyak cara-cara pedoman penghayatan pengamalan pancasila yang bisa diterapkan tanpa merugikan atau mengutuntungkan di lain pihak dan tanpa mendoktrin warga negaranya. Penerapan p4 itu memang penting apalagi kita adalah negara yang berasaskan pancasila dimana tingkah laku kita mewakili dari nilai-nilai penerapan pancasila itu sendiri yang memiliki nilai agar masyarakat bertingkah laku terarah sebagaimana mestinya, namun kita melihat lagi bahwa setiap warga negara punya pandangan tersendiri dan tidak mudah untuk menyeragamkan.

8. Apakah ada penolakan-penolakan atas adanya pemberlakukan penataran P4 pada masyarakat?
Ada, banyak kelompok yang kritis tidak setuju pada P4 itu karena pemerintah hanya mengimingkan stabilitas politik saja dan otoriter, jadi bukan penghayatan nilai-nilai moral berdasarkan pancasila itu yang lebih di utamakan tapi bagaimana supaya rakyat itu patuh kepada perintah. Jadi P4 itu dijadikan alat untuk kepatuhan rakyat kepada pemerintah karena jika ada pertentangan pertentangan nilai, di P4 kita diajarkan bermusyawarah tapi justru pemerintahnya itu yang otoriter semaunya sendiri, jadi ada pertentangan. Pemerintah ada mendorong supaya orang berketuhanan kemudian dihidupkan kembali misalanya aliran-aliran kepercayaan tapi ada satu diantaranya banyak yang bertentangan. Trus ada mendorong kemanusian, tapi begitu bayak orang miskin yang tidak dipelihara oleh negara. Keadilan sosial, seharusnya keadilan ditujukan untuk semua orang tapi yang terlihat justru keadilan itu hanya dinikmati oleh kalangan elit dan rakyat biasa tak mendapatkan apapun. Itulah sifat yang disebut hipokriti salah satu sifat munafik dari pemerintah makanya ada penolakan saat itu. P4 itu hanya buang-buang uang  yang sebenarnya pelaksaan itu pastinya memakai uang negara dan itu dikelola oleh BBP4 yaitu Badan Pelaksana dari P4, pemerintah baru atas asas demokrasinya tidak lagi melihat bahwa warga negara itu harus didoktrin untuk menciptakan stabilitas.

Ok. itu dia hasil wawancaranya. Bagus tak pertanyaannya??? pas gak?? :D 

Tadi siang pulang ngampus sekitar jam 3 an, ternyata masih ada aktivitas gitu. Yap, tugas feature dari Gagasan. Mengharuskan aku untuk betanggung jawab terhadap tugas yang telah diberi bersama temen-temen. Tapi tadi rada males juga wawancara, yang semangat nanya-nanya noh si Hikmah dan Riska. Aku kebanyakan ngangguk-ngangguk, dengarin, jalan sana-sini, ntah laah, ntah apa yang aku lakukan, hahha. Yang pergi aku, Hikma, Rizka dan gak lupa Fazri juga ikut nemenin, kami melaju ke arah kota dengan motor. Wiiiiii malah jalanan panas dan berdebu lagi. Hahha... Tujuan kami lumayan jauh, awalnya aku sempat malas mau pergi tapi akhirnya pergi juga setelah diingatkan oleh Kak JM. Tujuannya itu ke Taman Makam Pahlawan Kerja. Disana ada kereta api peninggalan zaman penjajah Jepang beserta kuburan para pekerja Romusha dahulu.

Lumayan bagus lah tempatnya, katanya juga ada unsur-unsur mistis gitu. Sempat agak merinding juga pas dikasih tau Hikmah. Yaaa... kami sempat naik ke dalam kereta apinya. Jujur aku belum pernah naik kereta api. Noh, baru tadi naik kereta api sungguhan tapi gak jalan :D kalau naik kereta api odong-odong sih pernah, tapi malunya gak nahan, habisnya yang naik pada anak balita semua waktu itu. Laaah aku disuruh temenin adek naik ntu kereta api. Maaluuuu :(

Jujur juga lama tinggal di Pekanbaru, tapi baru kali ini coba main ke Taman itu, walau kecil tapi bagus juga buat mengenang sekalian bisa ziarah juga di makam pahlawan *bagi yang mau :D. Kata Bapak itu, taman ini juga pernah di kunjungi oleh prpgram acara TV "Dunia Lain" yang hostnya si Tukul itu. Serasa pernah tonton sih dulu cuma gak nyangka aja itu di Pekanbaru, hahha.

Ternyata ini pula enaknya dapat rubrik tugas Feature, bisa jala-jalan juga. Kemaren aku juga dapat rubrik ini pas suluh pertama, yaitu ke Museum Sang Nila Utama. Tempatnya banyak menampilkan barang-barang kuno dan prasasti gitu. Ayoooo.... Laila semangat, tadi masih banyak bengong dan malasnya!!!

Selesai mewancara dan melihat-lihat kami pun pulang. Sayang gak ada ambil foto :D kapan-kapan ke sana lagi laaah. Kereta apinya unik lagi. Hihi. Aku pun pulang langsung bareng si Fazri :D siapakah diaa??? biarlah dunia aku saja yang tau :D 

OK.... itu saja yang pengen aku ceritain di tulisan dunia maya ini. See you to the next posts.

Sabtu, 07 Juni 2014

Resensi Novel : Kenang Langit



Judul Buku                  : Kenang Langit
Pengarang                   : Kirana Kejora
Penerbit                       : Zettu
Harga Buku                 : Rp. 65.000,00
Tahun Terbit                : 2014
Jumlah Halaman          : x + 316 halaman

Persahabatan sejati tak akan termakan waktu, tergilas zaman, atau pun lekang dengan jauhnya jarak, terpisahnya ruang. Dia senantiasa terus tumbuh dan sanggup mengukir gambar-gambar bagus di dinding hati pemiliknya, mereka yang punya jiwa tulus, memberi tanpa mengharap sedikitpun kembali.

Jangan pernah sebut dia IDIOT,” adalah sepenggal kalimat yang diungkapkan dalam novel ini. Novel Kenang Langit karya Kirana Kejora terinspirasi dari kisah nyata tentang seorang kakak dari sahabat penulis. Sekilas, novel ini seperti kebanyakan novel lainnya yang mengangkat tema tentang persahabatan, namun yang membedakan adalah salah satu dari tokoh yang menjalani  persahabatan adalah seorang penyandang cacat mental.

Novel ini menceritakan kisah persahabatan empat sekawan anak-anak Anyer. Alur yang digunakan adalah alur mundur (flashback). Tokoh utama pada novel ini yaitu Langit. Langit sangat benci dengan kata-kata idiot apalagi jika kalimat itu disandangkan ke salah seorang dari sahabatnya. Disamping itu ia bersahabat dengan Kenang seorang anak yang mengalami retardasi mental dan selalu menyayangi Langit, membantu dan memberi segala sesuatu untuk membantu Langit. Kemudian Rubi yang selalu percaya diri dan giat mencari uang kemudian Ali yang siap sedia selalu membantu Langit dan dapat dipercaya. Mereka semua adalah sahabat yang saling membantu, menyokong, berusaha, selalu bekerja untuk bisa meraih rupiah demi rupiah. Disamping itu kesabaran mereka juga diuji oleh hadirnya Kenang yang mengalami kelainan mental, hingga tiga sahabat lainnya berusaha agar Kenang dapat menjadi manusia selayaknya yang bisa mengurus dirinya sendiri, berbagi dan dapat merasakan segala hal.

Takdirpun berkata lain, biarpun dari keluarga yang miskin namun berkat usaha dan kerja keras begitu pun atas bantuan ibu dan sahabat-sahabatnya, Langit dapat melanjutkan studi di Kedokteran Yogyakarta. Ibu dan sahabatnya merasa terpukul atas kepergian Langit termasuk Kenang yang sangat menyayangi Ali. Kepergian Langit tak lain hanya untuk bisa menjadi dokter kemudian mengobati ibunya yang sakit dan Kenang sahabatnya yang mengalami retardasi mental.  

Novel dengan tebal 316 halaman ini, sarat degan makna persahabatan yang menggugah,walau pada akhirnya Kenang meninggal dunia tanpa sepengetahuan Langit sebelumnya hingga menyebabkan Langit merasa bersalah yang sangat. Kemudian, isi cerita juga dibumbui oleh kisah cinta khas anak remaja pada umumnya yang membuat novel ini terasa segar dan menarik untuk dibaca. 

Disamping itu tokoh-tokoh yang digambarkan sangat berkarakter, sama-sama memiliki kebersamaan dan rasa sosial yang tinggi terhadap sahabatnya. Ceritanya juga menyentuh pada bagian ending novel. Kemudian desain cover yang khas anak pantai pun terlihat klasik dengan warna coklat keemasan dan uniknya ada jejak telapak kaki yang tak lain itu adalah Kenang.

Novel ini juga banyak mengandung amanat yang bermanfaat bagi yang membacanya tentang pentingnya persahabatan, keyakinan hati, keterbukaan, kejujuran, kebersamaan, kerja keras, dan kesabaran. Gaya bahasa pun ringan, mudah dipahami dan dapat dibaca oleh semua kalangan. Pada bagian cerita juga disisipkan kata-kata motivasi ringan dan informasi-informasi tentang suatu tempat yang jarang dikunjungi lagi dan juga seputar orang-orang hebat yang mengalami cacat fisik, sehingga menonjolkan keunggulan tersendiri bagi novel yang ditulis oleh lulusan cumlaude Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya ini.

Adapun kelemahan dari novel ini, terdapat beberapa percakapan yang menggunakan bahasa daerah Jawa yang mungkin saja tidak dipahami oleh sebagian besar orang. Walau begitu, novel ini sangat eksentrik karena mengangkat tema seorang penyandang cacat retardasi mental yang mungkin sangat sering kita temui namun masih kurang dan minimnya perhatian kita. Ditambah lagi kurangnya pengetahuan kita terhadap mereka yang mengalami retardasi mental, padahal  mereka sangat membutuhkan  kita sebagai penolongnya.

Resentator : Laila Muqaddasa