Selasa, 05 November 2013

Karena Setiap Cinta Memiliki Ceritanya Sendiri (My Love is A Photographer)

"Buset dah panas kok kebangetan amat yah?" risih Nina sambil membuka helmnya seraya menyipitkan mata. Rina terus barjalan disamping emperan toko-toko kecil disekitar pasar yang akan ditujunya. Ya, hari ini Ibunya Nina akan mengadakan arisan, kebetulan Nina lagi tidak sibuk dan menyuruh Nina belanja ke pasar.

Nina telah sampai di tempat dimana orang selalu masuk ke dalam pasar melalui jalan alternatif dipojok sana, biar tidak kena becek gitulah. Setelah Nina hampir keluar dari jalan itu, nampak oleh Nina seorang nenek tua yang bajunya sudah lusuh banget duduk di ujung jalan alternatif itu. Spontan Nina ingin memberi sedikit uangnya untuk nenek itu.

Ketika Nina sampai didepan sang nenek, Nina mengulurkan tangannya yang sebelumnya telah ia selipkan sedikit uang dan memasukkan uang itu dalam ember yang disediakan sang nenek.

Klik... Seketika ada seberkas pantulan sinar yang menyorot Nina dan nenek barusan yang membuat Nina terkejut. Seorang pria stelan kaos biru-jeans berlari kencang keluar pasar ketika Nina melihatnya.

"Heeeiiii jangan lariiii...... heeiiiii," Nina memanggil pria itu kencang.

Tiba-tiba saja sang nenek buka suara dan Nina pun membiarkan pria yang berlari tadi. "Makasih nak, mudah-mudahan dapat jodoh yang terbaik," kata nenek itu kepada Nina.

Gleeeeekk. Nina seperti menelan sesuatu dalam mulutnya dan seketika membuat Nina sedikit bingung dan langsung mengucapkan, "ooh, makasih nek,atas doanya" balas Nina kepada sang nenek tua diiringi secercah senyuman tipis dan Nina pun kembali pergi untuk belanja sebagaimana tujuan awalnya.

***
Ibunya Nina berjalan ke arah pintu kamar Nina dan langsung saja membuka pintu kamar Nina. "Nina, yuk ikut Ibu yuk ke ruang tengah! mau Ibu kenalin sama teman-teman Ibu," Ajak Ibunya Nina dengan lembut.

"Yaaah Ibu, Nina males... Nina masih ada yang mau dikerjakan sama Desi nih," ucap Nina pada Ibunya sambil cemberut kayak ikan cucut.

"Desi, Tente pinjam Ninanya dulu yaaa?" izin Ibunya Nina pada Desi, teman satu sekolahnya Nina.

"Ah, Tante ini pake izin segala, silahkan Tante cantik! gak ada yang larang kok," Balas Desi pada Ibunya Nina sambil tertawa lepas.

Nina ikut sama Ibunya keruang tengah. Suasana rumah Nina tampak ceria, teman-teman ibunya Nina ternyata sangat ramah dan humoris. Seketika Nina yang cemberut itu berubah rona wajahnya menjadi kemerah-merahan.

"Buk Septi, beruntung deh punya anak secantik Nina,ya gak ibuk-ibuk?" kata salah satu ibuk-ibuk kepada Ibunya Nina dan ibuuk-ibuk yang lain.

"Ah, Bu Titik bisa saja, siapa dulu donk,ibunyaaaa," jawab Ibunya Nina sambil tertawa diiringi tawa ibuk-ibuk lainnya.

"Eh, ngomong-ngomong Nina udah punya pacar belom? kalau belom sama anak tente aja... masih lajang loh," tanya seorang ibuk kepada Nina.

Belum sempat Nina menjawab, alias Nina masih kelihatan berpikir. Ibuk yang lain juga pada ikutan nanya. "Sama anak Tante aja Nina, masih lajang dan udah punya kerja," tawar ibuk-ibuk itu pada Nina.

"Eh, gak usah dengarin ibuk-ibuk yang itu,sama anak Tante aja. Udah ganteng, pintar, lajang. terus udah kerja di kantor pemerintah lagi," tawar ibuk-ibuk yang lain kepada Nina.

Nina kelihatan bingung, dan rona wajahnya semakin memerah. Melihat anaknya yang gugup, Ibunya Nina angkat bicara.

"Aduh ibuk-ibuk,ada waktunya itu kalau ngomong begituan, kasihan kan Nina saya jadi malu begini," tawa Ibunya Nina dan ibuk-ibuk yang lainpun ikutan tertawa seraya meminta maaf kepada Nina yang merasa terpojok.

Tiba-tiba saja salah seorang dari teman Ibunya Nina memecah kemeriahan tawa dengan menyodorkan sebuah kertas kecil kepada Nina.

"Apa ini Tante?" tanya Nina sambil memperhatikan isi dari kertas itu.

"Itu undangan untuk datang ke pameran karya seni anak Tante, anak Tante seorang Fotografer. Jangan lupa datang ya!" ajak Tante itu bersemangat.

"Oh, OK Tante, pasti," ujar Nina meyakinkan.

***

"Desiiii, gue diundang ke acara pameran ama teman ibu gue, yeyeyye," kata Nina kegirangan pada Desi yang waktu itu lagi asyik menulis.

"Whaat?? pameran?" tanya Desi terbelalak dan langsung duduk siap di depan mukanya Nina.

"Iyaaa... pameran Des, tapi masalahnya gue mau pergi dengan siapa, masa sama loe mulu si Des? nanti gue dikira orang gak laku terus lesbong pulaaa....aaaaaa,, gak mau gak mau," ucap Nina teriak sambil mengacak-acak rambutnya.

"Isshh, pikiran loe kejauhan amat sih ama gue, kalau beneran terjadi gimana?" tanya Desi sambil mengedip-ngedipkan matanya.

"Dessiiii..... gue serius, jangan sampai lah." 

"Iya deh, emang lu kira gue mau gitu? jijayy tauuk," balas Desi manyun.

"Ok ok, tapi gue emang serius Des, banyak yang bilang gue cantik, tapi apa yang terjadi selama ini sama gue coba? gue ini jomblo Des, JOMBLO SEJATI!!"

"Sssssstttt, setiap kata adalah doa," kata Desi berbisik sambil menutup mulut Nina.

"Apaaan sih, lo jangan nakutin gue donk Des," kata Nina sambil menghalau tangan Desi saat itu.

"Nin, setiap orang pasti bakal punya pasangan dan itu udah janji Allah pada kita makhluknya. Mungkin sekarang, ini bukan waktu lo. Dan mungkin waktu lo itu ada di masa yang akan datang," ucap Desi bijak yang seketika membuat Nina ngelamun.

"Bener sih Des, tapi masalahnya gue sekarang udah kuliah, setahun lagi bakal tamat,masa belom punya gebetan juga, gue juga mau. Lo sih enak ngomong, lo udah pernah ngerasain dan udah punya 10 mantan, lah gue?" ungakap Nina murung dan berjalan menuju jendela kamarnya seperti ingin melihat sesuatu.

"Nin, asal lo tau aja, lo kira enak pernah punya mantan 10? lo lihat apa yang gue korbanin! air mata, kesedihan,kebencian, kemunafikan, kebohongan, dan sebagainya bahkan gue hampir di nodai, lo masih ingat itu kan? jadi sekarang apa yang lo inginkan? lo lihat sekarang gue kan, gue udah gak punya gebetan lagi sejak diceramahin sama si Aisyah yang orangnya alim banget itu," ucap Desi tegas bak Hitler yang kayak di pelajaran sejarah.

"Desiiiiii... gue salut punya sahabat kayak loe," Ninapun berbalik dan memeluk sahabatnya erat yang telah membuka lebar pemikirannya selama ini.

Lama Desi berada di rumah Nina, akhirnya Desi pulang dan tinggallah Nina di kamarnya sendiri. Nina memperhatikan undangan yang diberi teman ibunya tadi dengan seksama dan membacanya. Ya. acara itu akan diadakan seminggu lagi. Nina berpikir akan mengajak Desi sahabat baiknya itu ke pameran.

***

Tibalah Nina di pameran yang sebelumnya ia tak pernah pergi kesana. Nina dan Desi berkeliling mengintari setiap jalan yang disisinya telah ditempeli beberapa foto yang spektakuler, yaaa.... it's so amazing! Kira-kira siapa orang yang dapat memfoto ini sebegitu kerennya?? ucap Nina dalam hati.

"Ninaaaa......," teriak suara Desi dari kejauhan. Ternyata Desi telah berada di ujung pameran  yang buntu. Nina berjalan menuju Desi dengan langkah cepat.

"Apa sih? ini pameran tau, bukan hutan, asal teriak aja," bentak Nina pada Desi.

"Gue terkejut tauk, nih liat fotonya," suruh Desi kepada Nina.

"Haaaaaahh.... itu gue yaa?" tanya Nina.

"Lo sakit ya? itu emang lo Nina sayang. Kok bisa sih? lo gak pernah bilang kalau lo pernah jadi foto model," kata Desi sambil menarik bahu Nina untuk melihat wajahnya.

"Whaat?  foto model? lu sedeng yaa? gak mungkin kalii, lo liat baik-baik Des! gini ceritanya, waktu itu gue disuruh ibu ke pasar, kebetulan gue nampak nenek-nenek yang bikin gue kasihan banget. Terus gue kasih duit deh," ujar Nina santai.

"Oh gitu toh, terus siapa yang fotoin lo?" kata Desi balik nanya.

"Tunggu dulu.....(Nina berpikir), ohhh, gue ingat sekarang, waktu itu pas gue ngasih duit ke nenek tua itu, gue terkejut karena ada yang fotoin ke arah gue dan nenek, gue kira itu cowok foto ntah siapa, kiranya fotoin gue," kata Nina panjang lebar.

"Azeeeh, yang udah punya fans misteriuzz, by the way fotonya bagus banget. Menurut analisa gue, sang nenek kumal dan seorang gadis baik hati yang memberi uang sang nenek, itu kan adalah gambaran sifat murah hati ditambah lagi background suasana hiruk pikuk pasar seakan menambah potret pelengkap yang mendramatisir seluruh aspek yang dialami sang nenek. Cahaya yang tampak buram seakan menambah amukan naluri hati yang pilu melihat penderitaan si nenek. Foto yang sungguh indah, namun kecut dan penuh teka-teki," Ungkap Desi sambil melihat secara detail setiap sudut dari foto itu.

Prok prok prok. Seketika Desi terkejut dan melihat semua orang yang ada disekitar Desi bertepuk tangan mendengar komentar Desi tentang foto itu. Desi sadar ternyata ia telah ditinggal oleh Nina. Desi pun beranjak pergi sambil tersenyum kepada orang-orang yang masih bertepuk tangan padanya.

Ketika sedang mencari Nina, ternyata Desi melihat Nina dari kejauhan yang sepertinya sedang berbicara dengan seorang cowok. Desi pun berjalan menuju Nina.

“Nin, lo kok tega ninggalin gue bicara sendiri disitu,” gerutu Desi ngambek.

“Lo sih, bicaranya hamper kayak Vicky nya si Gotik, makanya gue lari,” kata Nina tertawa. Dan si cowok itupun ikutan tertawa.

“Eh, siapa nih? Kenalin donk!” rayu Desi sambil menyenggol bahu Nina.

“Lah, gue aja belom kenal dia, ini aja baru mulai ngobrol,hehe,” ujar Nina.

“Dari pada kita gaje, ikut gue dulu yok!” ajak cowok itu.

“Ha? kemana?” tanya aku dan Desi serentak.
“Udah, ikut aja!” balas cowok yang masih belom diketahui namanya itu.

Nina dan Desi pun mengikutinya dari belakang. Dalam hati kecil Nina sepertinya terdapat perasaan yang menggebu-gebu tak biasa. Yaa… cowok itu baru pertama kali ia temui, tatapan mata cowok itu sungguh membekas pada pandangan imajinasi Nina. Matanya, menyorotkan sesuatu yang sulit diungkapkan. Nina terus saja memperhatikan cowok itu dari belakang. Mata Nina lurus pas berada di pundak cowok itu. Nina ingin cowok itu menjadi pangerannya di alam imajinasinya kalau perlu menjadi pria yang akan mengisi kekosongan hari-harinya selama ini.

“Jangan mimpi dia jadi pangeran lo ya Nin?”  suara bisik Desi membuyarkan lamunan Nina.

“Dasar lo Des, bukannya support, malah ngejatuhin,” kata Nina sambil menjulurkan lidahnya.

Cowok itu mengajak Nina dan Desi pada sebuah café yang tak jauh dari pamerannya berada. Dan cowok itupun mempersilahkan Nina dan Desi untuk duduk kemudian memesan makanan ataupun minuman.

Saat sedang menikmati makanan, cowok itupun buka suara. “Nama gue Rio Nugraha, biasa dipanggil Rio.”

“Oh, Rio… nama aku….” (Rio memotong pembicaraan Nina). “Aku udah tau nama kamu, Nina kan? dan teman kamu Desi.”

Nina dan Desi terbelalak dan berhenti seketika mengunyah makanan. “Iyaaa… kok tau sihh? Kita kan belum pernah ketemu,”kata Nina.

“Makanya, kalau sama tetangga itu jangan sombong,” ujar Rio sambil menghadapkan wajahnya kearah Nina.

“Tetangga?” Tanya Desi.

“Iya, gue dan Nina itu sebenarnya tetangga loh Desi,” kata Rio pada Desi.

“Oh, jadi itu lo ya Rio, anaknya Tante Ria yang ngasih gue undangan untuk kesini. Jadi lo yang bikin pameran dan yang foto gue?” tanya Nina penasaran.

“Iyaa, maafin gue ya sebelumnya udah bikin lo terkejut pas di pasar waktu itu.”

“Yaudah, gak apa kok,” ujar Nina malu dan seketika langsung melihat Desi yang mukanya udah kayak udang rebus gak tahan mau teriak kayaknya.

“Lo masih ingat gak Nin, waktu itu lo pulang ke rumah lagi jalan sendirian, terus saat itu lo nendang kaleng minuman dan langsung kena kepala gue yang saat itu gue sedang jogging sore , waktu itu gue sumpah ingat betul wajah jelek lo pas lari ketakutan terbirit-birit,” ungkap Rio tertawa lepas sendiri.

“Udah selesai ketawanya?” kata Nina jutek.

“Ha?apa? maaf Nin, maaf,” Rio pun berhenti tertawa dan menahan malu. Nina dan Desi pun ikut tertawa dan selanjutnya mereka melanjutkan makan mereka yang sempat terhenti.

Selanjutnya Rio membawa Desi dan Nina ke galeri tempat Rio memajang foto Nina bersama nenek tua itu. Ketika mereka sampai di lokasi. Rio mengambil sepucuk mawar putih yang ada diatas meja tepat dibawah foto Nina dan nenek tua dipajang. Seketika membuat Nina dan Desi bingung saling bertatapan. Rio tepat berada dihadapan Nina diantara foto Nina dan Nenek tua.

“Nina, selama ini gue suka sama lo sejak lo nendangin kaleng ke kepala gue. Sejak saat itu gue penasaran sama lo dan sering ngikutin lo kemana lo pergi, dan satu keinginan gue dari loNin, gue mohon lo mau jadi pendamping hidup gue selamanya,” Ujar Rio mengungkapkan perasaannya pada Nina, sambil berlutut dihadapan Nina seraya mengangkat mawar putih itu kehadapan Nina.

“Rio, tapi kita belum saling kenal, kita baru aja kenal. Terus apa alasan gue harus nerima lo?” balas Nina bingung sambil melihat Desi.

“Tapi gue kenal lo, gue suka dan cinta banget sama lo Nina, Plis terima gue dan ambil mawar putih ini,” kata Rio memohon dengan sangat.

Nina tampak bingung. Rio bukan minta jadi pacar tapi malah minta jadi pendamping hidup, apa artinya ini semua? Nina sangat bingung. Nina melihat ke Desi yang asyik melihat-lihat kamera si Rio yang sejak tadi ia pegang.

“Des, gimana nih? Gue terima?” Tanya Nina pada Desi.

“Nin, gue nungguin nih, gue mau lo ikhlas berikan rasa cinta lo ke gue sama seperti rasa ikhlas dan tulus lo ketika memberi  nenek yang ada didalam foto itu!” Rio mengingatkan yang kelihatannya udah pegel-pegel.

“Rio, lo jangan buat gue merasa kasihan dan iba gitu donk, gue bingung!” kata Nina galau ketulungan.

“Nin,ini adalah kesempatan besar dari hidupmu yang harus lo aktualisasikan agar terciptanya kemakmuran harmonisasi dan tiada kudeta diantara lo dan Rio, TERIMA!” kata Desi yakin.

TERIMA! TERIMA! TERIMA! Sorak-sorai teriakan dan iringan tepuk tangan membuat suasana hati Nina menggebu , semua orang yang ada di pameran ini menyaksikan ikrar cinta Rio pada Nina.

Nina mengambil mawar putih itu, “ Rio, berdirilah, gue nerima lo sekarang.”

“Lo serius Nina?” tanya Rio gak percaya.

“Iya,gue serius taukk, atauu….”

“Ok…ok, gue percaya, makasih Ninaa,” Rio pun berdiri dan berhambur langsung memeluk Nina dihadapan orang-orang yang ada di pameran itu. Semua orang pun memberikan bertepuk tangan.

Desi melihat kamera Rio yang sedari tadi ia pegang. Yaaa…. Desi mendapat satu jepretan foto saat itu. Satu lagi momen paling indah terabadikan. Desi mendapatkan foto  indahnya ikrar cinta  Rio kepada Nina. Sama halnya ketika Nina menunduk memberikan keihklasannya pada sang nenek di pasar. Dan sekarang Nina pun menunduk kembali sembari menerima keikhlasan dan ketulusan cinta dari  Rio yang akan menjadi belahan jiwanya, tepat didepan foto Nina dan nenek tua itu.



TAMAT




Tidak ada komentar:

Posting Komentar