Jumat, 14 Maret 2014

Ini Sungai Kami


Ini sungai kami, tempat kami dahulu selalu menggantungkan hidup disela-sela rutinitas kami. Tempat kami mandi, mencuci pakaian, tempat anak-anak kami bermain riang, tempat minum berbagai jenis makhluk hidup, dan sekaligus menjadi tempat hidup segala macam jenis makhluk air yang berada didalam sungai.

Ini sungai kami, diujung sana terdapat air terjun yang  indah, tak jauh dari sana terdapat air mata air yang begitu terjaga oleh rerimbunan semak dan tertutupi oleh sulur-sulur pohon yang saling mengait satu sama lain. Menurut leluhur moyang kami, kami menemukannya kala itu ketika ingin menebang bambu. Kemudian kami berpikir dan akhirnya memutuskan untuk bergotong royong bersama beberapa pemuda dan tetua untuk membuat sekat pembatas antara air sungai dan air mata air agar kami mudah untuk meraih dan meminum airnya.

Ini sungai kami, sungai ini menjadi tempat persinggahan yang paling nyaman ditambah lagi banyak para petani kecil yang lewat untuk mengambil air mata air dan dibawa ke tempat bekerja. Kami percaya bahwa air itu adalah air suci yang Tuhan berikan dan dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Hal ini membuat pikiran kami kian terbuka, kami berinisiatif untuk membuat pondok singgah. Kami kembali bergotong royong. Membuat anyaman sebagai dinding, membuat rangka dan pondasi dari kayu yang kami tebang, kemudian mengumpulkan dedaun kering pohon kelapa untuk dijadikan atap. Kami bangun pondok singgah itu disamping air mata air yang tenang. Tampak serasi dan indah.

Ini sungai kami, semilir angin datang menerbangkan dedaunan kering dari rantingnya. Udara dingin seakan menyergap masuk melalui ubun-ubun. Hingga membuat refleks tubuh menggigil dingin. Begitu indahnya irama aliran sungai hingga membuat pendengaran terasa segar.  Saat ini kami merasakan kaya akan kenikmatan yang Tuhan beri, bertahun-tahun lamanya sungai ini yang membuat kami tetap bertahan hidup, air mata airnya dengan sekali tegukan dapat menghilanngkan dahaga yang sangat dengan seketika. Segala aktifitas dapat terlihat pula sejak pondok singgah dibangun dan hingga saat ini terus berlanjut, mulai dari para petani yang singgah ketika ingin makan siang, duduk istirahat dan bahkan menjadi tempat untuk beribadah menghadap illahi. Bukankah itu adalah pemandangan yang menakjubkan?

Ini sungai kami, jernih dan beningnya air dapat membuat kami bercermin  melihat rupa . Adakah sungai kalian yang bisa seperti itu? Sungai kami seakan hidup. Deburan air terjun yang jatuh menambah hebohnya kegembiraan alam seolah-olah alam berbicara dan mengucapkan rasa terima kasih yang sangat karena telah menjaganya.

Ini sungai kami, suara serangga, burung-burung yang berkicau, riuh angin, deburan air nan jatuh termasuk suara-suara malaikat seakan menyatu dengan alam sungai ini. Betapa indahnya ciptaan Tuhan ini. Rimbunnya pepohonan kayu dan bambu seakan ikut menjaga dan menutupinya dari dunia luar. Ya, alam tau bahwa manusia begitu serakah dan tidak pernah puas. Alam menjauhkannya dari jangkauan manusia serakah, sungai kami bak ditutupi tabir hingga tak satupun dunia luar yang meilhatnya apalagi ingin merusak dan mengambilnya dari kami.

Sungguh, ini sungai kami, kami juga tak merasa keberatan berbagi kebahagiaan jika ada yang datang ingin merasakan kenikmatan alam yang kami tinggali kerena setiap orang berhak untuk bahagia akan karunia Tuhan. Yang penting, mari sama-sama kita menjaga alam yang indah ini. Lihatlah air di sungai itu, pantulan cahaya mentari di permukaan sungai seakan diapungi oleh batu-batu mutiara lautan. Sungai ini sudah seperti bingkai kehidupan kami yang jika bingkai itu hilang maka tak akan ada tempat kami untuk begantung dan berdiri.

Ini sungai kami dan lihatlah apa yang sekarang terjadi! Tiba-tiba saja sungai kami berubah keruh kecoklatan termasuk air mata air dan pondok singgah kami yang sudah hancur tertimpa pepohonan raksasa yang habis ditebang. Bahkan terkadang sungai kami berubah warna seperti warna pelangi. Sungai kami tak lagi berbentuk, kerikil dan pasirnya habis dikeruk paksa. Apakah yang terjadi? Kami hanya orang awam yang tak paham dengan kecanggihan teknologi, yang kami tau hanya hidup damai dan sejahtera. Oh, jadi kalian orangnya, orang dari dunia luar yang menyingkap tabir dari atas udara. Benar, kalian begitu pintar tapi licik dan picik akalnya, padahal kita sama-sama manusia. Tak taukah kalian kalau ini harus dijaga? Sungguh kami tidak sejalan dengan pikiran kalian yang terlampau hebat dan jenius.

Dan sekarang sungai kami seperti ini, lihat!! Anggota keluarga kami mulai tergerogoti penyakit aneh karena terpaksa harus mengonsumsi air sungai sumber kehidupan kami satu-satunya. Kalian yang berotak jenius hanya mampu mempertebal kantong sendiri dan tak menghirukan kami yang sama-sama manusia seperti kalian.

Ini sungai kami yang dulu adalah tempat kami tumbuh besar. Sekarang, kepada siapa kami mengadu dan meminta pertanggungjawaban. Kami sadar, kami adalah rakyat jelata yang tak diakui keberadaannya.  Suara yang tak didengar dan jika kami terlalu banyak bicara maka disaat kami sedang tertidur lelap  maka akan datang orang tak dikenal yang kapan saja dapat memutuskan urat leher kami dalam hitungan detik secara misterius.

Ini sungai kami tempat kami menyambung hidup merasakan sejahtera. Tapi sekarang berubah, kami hidup dalam ketakutan,terkekang, dan seperti tinggal menunggu ajal menjelang. Hutan yang selama ini menjaga keindahan alam dan kami, kini hilang habis ditebang bak ditelanjangi oleh keserakahan. Semua pohon yang mengintari sungai dipotong dan dibawa pergi oleh makhluk-makhluk baja beroda raksasa ditambah lagi suara khasnya yang sangat memekakkan telinga kami. Dari kejauhan kami hanya bisa memantau dan melihat tanpa kekuatan,  disana ada seorang yang berbadan besar dan bertubuh gemuk padat yang sedang asyik menyuruh anak buahnya dengan tangan yang diacungkan kesana-kemari ditambah lagi ia mengeluarkan suara yang keras dan lantang.

Ini sungai kami yang keindahannya hanya tinggal kenangan. Tolong kembalikan sungai kami, kami juga ingin hidup bahagia bersama keluarga yang kami cintai.

1 komentar:

  1. terusterang saya sangat sedih kalau melihat indonesia sekarang, dulu indonesia pernah di juluku paru-paru dunia tapi saat ini indonesia bukan paru paru dunia lagi, indonesia saat ini di kuasai oleh oleh orang orang rakus. marilah kita bersahabat dengan alam jika kita bersahabat dengan alam insyaAllah alam juga akan bersahabat dengan kita, semoga di pulau kecil kami alamnya tetap asri amin.

    BalasHapus