Rabu, 19 Februari 2014

Bukan Kabut Biasa

Assalamualaikum Sobat semua, gimana aktifitasnya seharian ini? pastinya lancar dong,hehehe. Alhamdulillah sekarang kita masih bisa beraktifitas sebagaimana biasanya. Beda banget Sob dengan saudara-saudara kita yang lagi terkena bencana alam di beberapa daerah di Indonesia. Kayaknya negara kita saat ini sedang dilanda ujian yang hebat. Belum kelar Sinabung memuntahkan laharnya, eh malah banjir terjadi di sebagian daerah Jakarta dan Manado. Terus si Kelud juga ikut-ikutan muntah lahar seakan-akan merasakan betul penderitaan si Sinabung nan jauh disana.


https://www.google.com/

Nah, kalau itu real bencana alam yang tidak bisa di hindari dan bisa datang kapan saja sesuai kehendak sang Pencipta. Tujuannya bisa jadi sebagai bentuk cobaan, ujian atau bahkan hukuman buat hambanya. 

Di kotaku kini sedang diselimuti kabut asap yang tebal nih Sob. Kira-kira itu termasuk bencana alam gak ya?? :D --> Aaaiih, pertanyaan yang bodoh. Jelas dong timbulnya kabut asap yang terjadi di kotaku sekarang bukan bencana alam tapi akibat dari perbuatan manusia.

Risih sekali keluar rumah apalagi berkendara di jalan raya dengan kabut yang sedemikian tebalnya. Hingga sore hari ini pun kabut masih terlihat mengawang-awang. Gak mungkin kabut setebal ini akibat dari pembakaran hutan yang sedikit. Pasti pembakaran hutan  untuk pembuatan lahan itu membakar hutan yang berhektar-hektar. Dan pastinya juga tidak di satu titik, tapi di banyak titik pada berbagai daerah yang ada di Provinsi Riau.

Fuiiich, naik motor aja ini mata udah perih dan berair karena ntu kabut. Jadi malas kemana-mana. Ini bukan kabut  biasa, apalagi dihirup tiap hari, ini kabut asap, kabut pembakaran yang bisa buat terganggunya sistem pernapasan.

Sudah sering sekali kabut asap melanda Riau terkhususnya asap itu sampai ke kota Pekanbaru daerah dimana aku tinggal. Panas ditambah kabut buat risih dan segala aktifitas di luar  jadi terganggu hingga kalau ke luar rumah saja harus memakai masker. 

Aktifitas pembelajaran terkhusus buat anak di bawah umur delapan tahun pun diliburkan agar anak-anak tidak terkena penyakit  pernapasan. Karena anak-anak itu kan rentan sekali terkena sakit. 

Prihatin melihat kondisi kotaku sekarang yang polusi udaranya tercemar. Kota semakin padat, jalanan penuh sama kendaraan diperparah lagi kabut asap yang tak kunjung hilang. Berharap banget hujan datang dan hilangin semua kabut yang merusak ini. Gak mau nelan dan hirup kabut tiap harinya.

Berharap banget kabut asap yang terjadi ini tidak terjadi lagi. Apalagi nih kabut udah menjadi langganan rutin aja datangnya. Absen kek! nafsu kali lah ntu orang- orang bakar hutan sampai-sampai kabutnya kayak gini. Emang bakar hutan itu kayak bakar sate apa yang seketika asapnya langsung lenyap?? gak kan?

Kapan lah kesadaran muncul dan kecintaan lingkungan itu bersemi? Kalau kita sama-sama mencintai alam dan menjaga alam, alam akan baik pula dan berguna buat kita dan anak cucu. Kalau alam dihabisi terus yang ada alam bakal marah dan terjadi bencana.

Lagian selama ini alam telah menyediakan apa yang kita mau, jadi pergunakan secukupnya, jangan dikerok terus dihabisi tanpa tersisa. Kalau sudah tidak ada yang tersisa maka apalagi yang akan kita lakukan? Melongo kah? Menyesal? Hhhmmm tidak ada guna, mending sadar dari sekarang. :)

Wassalam, semoga bermanfaat. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar