Sabtu, 15 Juni 2013

Kisah Gadis Kampung (part 4)

The story before


“Lin, hari ini untungnya banyak, jahitan bordiran kamu yang rapi dan halus bikin orang pada suka, Ini uang untukmu” Bu Rina memujiku dan melekatkan uang di atas telapak tanganku.

“Loh Bu, saya niatnya pengen belajar, kok malah dikasih uang? Bukannya saya yang harus ngasih uang ke Ibu untuk bayar uang les?” ungkapku sambil mengerutkan kening.

“Setiap hasil yang  memuaskan harus dikasih apresiasi Lin, biar lebih semangat” kata Bu Lina bosku ditoko ini.

“Yaudah Bu, ini saya langsung bayar uang les saya belajar sama Ibu” kataku memberikan uang pada Bu Rina.

“ Simpan saja, kamu tu udah pintar banget jahitnya, gak usah kasih uang lagi sama Ibu, mending kamu buat baju, terus jual langsung disini” kata Bu Rina.

Akupun kembali menjahit seperti sebelumnya. Ku nikmati tiap untaian benang yang aku sematkan pada kain secara berurutan, kaki tetap ku mainkan untuk mengayuh mesin jahit agar bisa terus berkarya. Tak dapat aku pungkiri, betapa senang sekali rasanya bisa dapat uang hasil dari jeri payah sendiri.

Benar semua kata-kata dari nenek kalau kita memang berniat baik sekecil apapun dan selalu berusaha pasti ada jalannya. Berusaha lah terus! Jangan mengeluh pada sesuatu yang belum tentu sia-sia, hasil akhir bukan ditangan kita, tapi atas kuasa dan kehendak Sang Pencipta. Nenek benar-benar menginspirasiku sekarang. Makasih nenek.

Kisah Cinta Gadis Kampung (part 4)

“Lina!”

Seseorang terdengar menyebut namaku. Aku pun menoleh kesamping.

“Indra rupanya, dikira siapa? gak nyangka bisa ketemu disini”

Indra pun tertawa. “ Aku juga… gak nyangka nih, belanja apa tu? Banyak banget” ucap Indra melihat kearah semua belanjaanku.

“Iya nih, cari bahan sama benang buat jahit bordiran” balasku pada Indra.

“Jadi ceritanya udah punya toko sendiri yaa?”

“Gak ah, kerja ditempat orang, kapan-kapan mampir In!”

“Yaudah minta alamatnya kalau gitu!”

Dengan senang hati aku memberikan alamatku pada Indra. Memang sesuatu yang tak disengaja aku bisa bertemu  lagi dengannya. Mungkin ini kali ya yang dinamakan jodoh tapi aku tidak berharap pada itu semua. Yaa… aku hanya menganggapnya sebagai teman masa kecil biasa.

Sejak aku memberikan alamat tempat kerjaku pada Indra. Indra sering sekali datang ke untuk meminta dibordirkan bajunya. Dia mimintaku untuk membuatkan namanya pada baju yang akan dikenakannya sehari-hari. Bahkan karena begitu akrabnya Bu Rina menganggap aku dan Indra pacaran dan aku hanya bisa senyam-senyum Bu Rina berkata seperti itu.

Beberapa bulanpun berlalu, disaat itulah aku dan Indra telah mengalami masa-masa bersama. Ya… aku menerima Indra menjadi pacar, walau sebenarnya hati tidak terlalu ingin, tapi aku suka pada sifat dan kegigihannya yang tulus padaku selama ini.

Hari liburpun menjadi kesempatan aku dan Indra untuk menghabiskan waktu  bersama. Tempat-tempat wisatapun menjadi objek tujuan utama. Indra mengajakku keberbagai tempat objek wisata yang terkenal di Bukit Tinggi, mulai dari melihat Jam Gadang, Kebun Binatang yang banyak mengoleksi berbagai hewan-hewan langka dan buas. Kemudian Lubang Jepang, salah satu tempat bersejarah zaman Jepang yang latar pembuatan lubang ini dari hasil kerja Romusha warga setempat. Mengerikan bukan?

Kami terulusri  setiap jalan yang ada. Karena letih aku dan Indra melihat bangku, kami duduk disana sambil menikmati udara segar sambil melihat orang-orang yang lalu-lalang, tak beberapa lama datang seorang pedagang gulali yang menawarkan dagangannya. Aku membeli satu dan Indra satu, Saking asyiknya bercanda dan berbincang ria, tak sadar gulali yang kami makan telah habis.

“Tunggu bentar ya Lin, aku beli minum dulu” Kata Indra meninggalkanku.

Angin kembali menerpa wajahku dengan lembut. Sangat bersahabat hari ini,segalanya begitu lancar tiada gangguan. Kami lewati hari ini dengan hati ceria tanpa ada rasa segan sama sekali. Semua terasa begitu lepas dan tak ingin pisah darinya. Ya.. aku sudah merasakan apa yang ada dihatinya. Dan aku sekarang benar-benar tak ingin pisah darinya.

~~~~~~~~~~

Aku kembali ke kampung halaman. Ku beri tahu  Bapak Ibuku bahwa aku sekarang telah mendapatkan pekerjaan tetap di Bukit Tinggi. Mereka sangat bahagia anak perempuan mereka satu-satunya dapat bekerja keras untuk keluarganya.

Senang rasanya bisa kembali kekamar sendiri. Ku lihat kasur, meja, kursi dan bingkai foto, semuanya tampak bersih dan rapi. Sepertinya Ibu selalu membersihkan kamarku. aku lihat sekilas meja belajarku dulu, entah kenapa seperti ada teriakan keras yang memanggilku untuk segera mendekat kesana. Aku arahkan jemariku sambil menggesernya kekiri seperti sedang mencari buku. Kuraih satu buku yang agak tipis namun tidak terlalu tebal. Aku balikkan halaman demi halaman. Astaga…!!!

Aku dikejutkan oleh suara yang tidak asing lagi terdengar ditelingaku.

“Linaaa….”

Duk….duk…duk…(detak kaki melangkah) pintu kamarku terbuka dan dia memelukku.

“Lina, kamu kok gak ada kasih kabar, aku kangen taukk” ucap Mela dengan mata berkaca-kaca.

“Iihh…cengeng banget sih, baru ditinggal bentar aja pun”

“Oh iya Lin, kamu masih ingat si satria baja hitam super ganteng gak?”Tanya Mela sambil melotot.

“Hhmmm… ingat, kenapa??”

“Taraaaa… kamu dapat surat darinya lagi, lima hari yang lalu Lin” Mela pun memberikan surat itu pada Lina.
Aku baru tersadar ketika aku membuka buku tadi terasa ada yang terjatuh. Spontan saja aku melihat kebawah dan mencarinya.

“Surat apa Lin?”Tanya Mela.

“Surat dari Rafael dulu, terjatuh tadi” ungkapku.

“Yaudah, aku pulang dulu ya”

Mela pun pergi, aku lihat surat yang terjatuh itu sekali lagi dan aku membuka surat yang baru saja Mela berikan padaku. Surat dari Rafael Aditama.

To : Kalina Zulaikha

Assalamualaikum

Kalina adalah lembut, Zulaikha adalah wanita cantik. Kalina Zulaikha  wanita cantik berhati lembut. Nama yang indah untuk orang yang cantik.Dari suratku ini, aku hanya ingin tahu kabarmu. Sekian lama aku tidak melihatmu. Telah lama aku menanti disudut jalan pendakian ini. Aku harap mungkin kita bisa bertemu kembali.

                                                                                          Wassalam

                                                                                From: Rafael Aditama

Senangnya dapat dua surat dari orang kota yang berisikan arti dari namaku, bahkan aku sendiri tidak tahu arti dari namaku. Dari cara dia menulis surat, orangnya to the point, gak terlalu banyak basa-basi. Mungkinkah kalau dia suka padaku? Tapi kenapa dia suka sama gadis kampung tak berpendidikan seperti aku?

````````````````

Ketika aku sedang berjalan-jalan. aku melihat Indra sedang berlari ke arah bawah jalan pendakian biasa. Ternyata Indra juga pulang kampung. Kenapa dia tidak bilang padaku? Dan aku spontan berteriak.

“Innn…….”tiba-tiba suaraku mengecil dan tak sadar aku menutup mulutku dengan tangan kananku. Dan segera pergi menjauh dari tempat aku melihat Indra. Tak sadar butiran-butiran bening air mata mengalir dipipiku. Aku pun  tetap terus berjalan kencang dan tak ingin melihat kebelakang.

to be continued
......


Makasih yang udah baca, jangan lupa like dan komentarnya ya... ;-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar