Sabtu, 15 Juni 2013

Kisah Gadis Kampung (part 3)

The story before
...

“Linaa…. Banguunn!! kita pergi mandi lagi”

Terdengar olehku teriakkan Mela yang kencang membangunkanku. Akupun bersiap-siap mengambil semua peralatanku dan bergegas pergi. Selagi aku dan Mela berjalan, dari kejauhan aku melihat orang duduk diatas motornya memakai baju yang serba hitam dan memakai helm, akupun sangat susah mengenalinya dari kejauhan.

Kisah Cinta Gadis Kampung (part 3)....

“Tunggu Mel, ada yang aneh dari orang yang jauh disana” kataku menyetop Mela.

“Mana mana??”

“Itu tu,coba lihat!!” ujarku berbisik.

“Oh  iya, mending kita gak usah lewat situ, lewat belakang balai aja yok!” Mela menarik tanganku

Kami memutar haluan jalan yang awalnya ingin lewat ke tempat biasa akhirnya harus lewat ke belakangBalai yang memakan waktu sedikit lebih lama. Saat itu aku dan Mela memang agak sedikit takut.

Setelah aku dan Mela selesai mandi dan berjalan pulang, tiba-tiba disebalik semak keluar orang yang memakai pakaian serba hitam seperti yang aku dan Mela lihat tadi. Sontak aku dan Mela teriak terkejut.

“Sssstttttt….. jangan teriak, aku orang baik-baik” kata orang itu sambil mengangkat jari telunjuknya dan menempelkannya didepan helmnya.

“Siapa kamu? Pagi gelap kayak gini ada disini?” kataku takut menjauh.

“Lin, mending kita pergi aja yok, orang asing, tengok pakaiannya! Sok-sok kayak pakaian satria baja hitam” Mela pun menarik tanganku pergi.

Selangkah saja aku berjalan, aku terkejut tanganku tiba-tiba dipegang dari belakang oleh orang itu. Dan akupun tercegat.

“Aku hanya pengen tahu nama kamu” keluar suara serius dibalik helmnya yang belum terbuka.

“Eh lu, pengen tau nama orang siapa, tapi datang tiba-tiba kayak hantu, terus bicara gak buka helm, gak sopan banget ya” kata Mela membelalakkan mata pada cowok itu.

Cowok itu perlahan-lahan melepaskan helmnya kemudian mengacungkan tangan kanannya padaku.

“Saya Rafael Aditama, nama kamu?”

Aku coba dulu untuk memperhatikan betul-betul siapa orang ini, mana tau dari tampangnya bisa dilihat baik,jahat,bibit,dan bobotnya.  Secara tak sadar aku menerawang jauh pada sesosok makhluk yang tengah berdiri didepanku.

Ya ampun, baru kali ini lihat orang sempurna kayak gini, wajahnya ganteng dan  gak da sedikitpun ciri khas kalau dia itu cowok asli sini. Kira-kira ini cowok dari planet mana yah? Mars? Jupiter?atau venus kali ya? Indra pun kelewat nih.

“Maaf, nama kamu?” ucap cowok itu lagi yang membuyarkan lamunanku.

“Lin, nama kamu tuh ditanya” kata Mela menyenggol bahuku.

“Oh iya Na…na… ma aku Kalina Zulaikha” ucapku gagap sambil menyambut tangannya yang telah ngambang sejak tadi.

“Wah, nama yang bagus, cocok untuk orangnya. Maaf juga untuk waktu itu, aku gak sengaja berbuat salah ketika kalian jalan pagi kemarin” kata Rafael kepadaku dan Mela.

“Ooh…ooooo… jadi kamu pelakunya? gara-gara kamu baju aku robek tau, mending kamu pergi dari sini!” kata Mela  marah pada Rafael.

“Ah sudahlah Mela, kita maafin saja. Lagian kayaknya dia orang baru disini ya kan Rafael?” kataku melirik pada Rafael.

“Hhhmm…aku memang udah lama banget gak kesini. yaa...ya bener, aku baru datang dari Kota diii…”

Mela pun memotong pembicaraan Rafael.

“Sudah selesai kan kenalannya?yok kita pulang Lin, cowok gak jelas”  kata Mela menarik tanganku untuk pergi.

Cowok itupun aku tinggalkan begitu saja dan semuanya berlalu.

Tangannya terasa dingin dan kaku, genggaman tangannya juga tidak terlalu kuat. Auranya memancarkan ketulusan dan kelembutan berbalut keberanian. Ketika mendengar namanya pun ada perasaan yang membuat jantungku berdebar-debar tidak seperti biasanya. Mata itu…. Benar-benar tulus. Itu yang aku rasakan. 

~~~~~~~~~~~~~~~
 Juara satu lomba membordir baju nih, selamat ya Lina” kata  Indra semangat dengan sedikit sindiran.

“Iya Lin, udah kita sama-sama lulus SMA, trus kamu juga dapat juara lomba pula,lengkap semua tujuan,bener gak?”ungkap Mela sambil menyenggol bahuku dan aku tersenyum.

“Oh iya Lina, Mela, bentar lagi aku bakalan gak disini lagi, aku kuliah  di Padang, doain ya semoga aku sukses” Indra memotong.

“Yaaah…kamu In, ke sawah sono bantu emak bapakmu, kuliah ngabis-ngabisin duit tauk!”balas Mela mengejek.

“Yehh… elu Mel, aku kan dapat beasiswa, gratis pula, sayang kalau aku gak ngambil, lagian Bapak emak aku udah ngerestui”

“Bener tu Mel, Indra otaknya encer kayak es teler ini kok disia-siain,kan sayang banget,aku dukung kamu In” ujarku member semangat.

Sesampai dirumah.

Assalamualaikum” aku pergi mencari Bapak dan Ibuku. Meraka sedang makan di ruang makan.

“Lina lulus Yah,Bu, Mela dan Indra juga, ini Lina dapat piala menang lomba membordir tingkat kabupaten” kataku pada Bapak sambil membanggakan piala.

“Alhamdulillah menang lomba dan lulus, selama nak ” kata Bapak  menyambut dan memelukku erat.

Kemudian tiba-tiba saja Bapak menatapku dengan pandangan lurus dan serius.

“Gak apa-apa Pak, Lina gak usah kuliah, Lina belajar menjahit saja, Lina udah ada dasar kok Pak” ungkapku seolah-olah aku mengetahui apa yang ada dipikiran Bapak, kemudian aku pergi meninggalkannya di ruang tamu.

Ku berdiri ditepi jendela kamarku, meyakinkan apa yang telah aku bilang ke Bapak tadi sudah bulat. Bapak akan merasa terbebani  jika aku kuliah.

Bapak, dari hati yang paliiiiingg daleem, sebenarnya Lina pengen kuliah lagi, biar lebih pintar dan bisa memajukan kampung kita nanti, tapi ketika Lina melihat mata Bapak, kenapa  Bapak sedih gitu? Lina kan jadi gak tega. Maafin Lina buat Bapak kecewa. Lina gak pengen Bapak terlalu membanting tulang nantinya. Mending Lina aja ya Pak yang cari kerja.

Berapalah gaji seorang kepala desa yang  hanya menerima uang atas dasar suka  rela warga kampung, bahkan uang yang didapatpun banyak digunakan untuk kepentingan-kepentingan kampung.  Tapi, adik-adikku masih kecil dan banyak butuh biaya. Aku akan pergi belajar menjahit  ke Bukit Tinggi, itu lebih baik dan lebih banyak manfaatnya bagi keluargaku dan tanpa mengeluarkan banyak uang.

Terbayang olehku betapa susahnya hidup apalagi ketika aku SD dulu. Lantaran badan yang sudah lumayan besar dan seragam sekolah yang tidak muat lagi, mengharuskan ku menjual radio kesayanganku. Radio yang selalu aku putar untuk mendengarkan berita apapun yang sedang hangat-hangatnya.

Sejak radio ku dijual aku merasakan kesepian dan marah terasa ingin menangis sambil menatap seragam sialan itu.

“Kenapa tidak jawi  saja yang dijual?kenapa harus radioku?”

Waktu itu nenek  datang dan masuk ke kamarku.

“Tidak mungkin jawi yang dijual hanya untuk membeli seragam Lin, Lina harus sabar dan mengerti keadaan” ucap
nenek sambil mengelus-elus rambut panjangku.

“Tapi Lina ingin radio, Lina gak bisa tanpa radio itu”

“Kalau ado pitih lai, nenek ba janji ka bali a untuak Lina radio saroman jo iko lai  jo sarat kanak an seragam tu jo niek ka mambantu orang tuo” kata nenek  memegang bahuku.

Nenek membalikkan badanku untuk melihat nya. Dan akupun menatap matanya yang telah layu dimakan zaman itu.

“Apapun yang kita lakukan selagi itu baik, lakukanlah,sekecil apapun! Jadikan sabar itu sebagai penolongmu”

~~~~~~~~~~~~
“Lin, hari ini untungnya banyak, jahitan bordiran kamu yang rapi dan halus bikin orang pada suka, Ini uang untukmu” Bu Rina memujiku dan melekatkan uang di atas telapak tanganku.

“Loh Bu, saya niatnya pengen belajar, kok malah dikasih uang? Bukannya saya yang harus ngasih uang ke Ibu untuk bayar uang les?” ungkapku sambil mengerutkan kening.

“Setiap hasil yang  memuaskan harus dikasih apresiasi Lin, biar lebih semangat” kata Bu Lina bosku ditoko ini.

“Yaudah Bu, ini saya langsung bayar uang les saya belajar sama Ibu” kataku memberikan uang pada Bu Rina.

“ Simpan saja, kamu tu udah pintar banget jahitnya, gak usah kasih uang lagi sama Ibu, mending kamu buat baju, terus jual langsung disini” kata Bu Rina.

Akupun kembali menjahit seperti sebelumnya. Ku nikmati tiap untaian benang yang aku sematkan pada kain secara berurutan, kaki tetap ku mainkan untuk mengayuh mesin jahit agar bisa terus berkarya. Tak dapat aku pungkiri, betapa senang sekali rasanya bisa dapat uang hasil dari jeri payah sendiri.

Benar semua kata-kata dari nenek kalau kita memang berniat baik sekecil apapun dan selalu berusaha pasti ada jalannya. Berusaha lah terus! Jangan mengeluh pada sesuatu yang belum tentu sia-sia, hasil akhir bukan ditangan kita, tapi atas kuasa dan kehendak Sang Pencipta. Nenek benar-benar menginspirasiku sekarang. Makasih nenek.

to be continued.....


Note:

balai     = salah satu tempat multi-fungsi yang banyak digunakan oleh orang kampung.

jawi      = salah satu hewan seperti kerbau dan hitam.

Kalau ado pitih lai, nenek ba janji ka bali a untuak Lina radio saroman jo iko lai  jo sarat kanak an seragam tu jo niek ka mambantu orang tuo  =  Kalau ada uang lagi, nenek berjanji membelikan Lina radio yang sama dengan syarat pakailah seragam itu dengan niat meringankan beban orang tua.

terima kasih yang telah membaca.... jangan lupa ya like dan komentarnya....
terima kasih dariku sebelumnya untuk para readers.... :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar