Sabtu, 26 Desember 2015

Ketika Ku Bertanya




Hari ini begitu panas, air di botol minum hijau yang sering aku bawa kini telah habis ku minum. Kini aku duduk termangu menunggu teman-teman yang tak kunjung datang untuk rapat lanjutan. Katanya ngumpul pukul setengah dua belas siang, toh nyatanya sudah setengah jam lewat menunggu. Daripada membuang waktu, aku pun beranjak pergi dan tunaikan yang wajib dahulu. Ku langkahkan kaki menuju musholla kampus. Kebetulan adzan zuhur sudah berkumandang.

Fakultas tampak sepi, lorong-lorong jalan di fakultas menuju musholla yang aku lalui bak pipa raksasa yang kedap angin dan suara. Aku pun tetap melanjutkan langkah kaki ke musholla seorang diri dengan rasa sedikit horor. Mungkin ini hanya imanjinasi akibat kebanyakan menonoton film horor ya. Pikirku.

Aku pun berjalan menuju WC kampus. Bismillah, ku ambil air wudu. Setelah selesai berwudu aku merasa segar sedia kala. Yang awalnya aku  merasa gerah dan kehausan, kini berubah menjadi kesegaran. Mungkin inilah yang namanya keberkahan. Mudah-mudahan ya Robb. Aamin.

Setelah tunaikan sholat, aku duduk di kursi panjang di depan musholla untuk memakai sepatu.  Masih dengan seorang diri tanpa siapa pun. Aku sedikit merasa asing dan bingung kenapa fakultas tetap sesepi ini.

“Kak Zahra!”

Sontak aku pun menoleh ke arah sumber suara. “Eh…. Si Dul,” kata ku spontan kaget sambil nyengir aneh.

“Tumben sendiri Kak? mana yang satu lagi?” tanya si Dul. Dul pun ikutan duduk di ujung kursi panjang yang aku duduki sementara aku juga sedang duduk di ujung kursi yang berlawanan.

“Satu lagi apa ni Dul? Udah ngagetin, sekarang di bom pertanyaan ihh,” jawabku polos sambil sibuk memasang tali sepatu. Nama aslinya adalah Abdullah, lebih sering di panggil si Dul. Seorang adik junior di kampusyang tampan, aktif, cerdas, luas wawasan agamanya hingga tak jarang terkadang di panggil Ustadz.

“Itu loh, cowok yang selama ini barengan turus sama Kakak?”

Aku menoleh ke si Dul dengan muka datar kemudian tersenyum kecut. Aku alihkan pandangan ke arah yang lain. Pertanyaan itu membuat aku diam seribu bahasa. Sesaat suasana aku buat berubah menjadi hening tak bernyawa karena pertanyaan si Dul yang tak langsung kujawab.

Beberapa detik pun berlalu.

“Kami udah punya jalan masing-masing Dul,” jawabku dengan bingkai wajah sumringah.

“Lah, bukannya kalo jalan emang masing-masing ya Kak, emangnya kakak dan dia jalan sambil gendongan apaah? haha” kata Dul tertawa dengan lepas dan gaduh.

Aku pun telah selesai memakai sepatu dan langsung aku sahut candaan si Dul. “ Yaelah Dul, Kakak jawab serius ini loh, pandai amat yaak kalo becanda, multi talent, sekalian ikutan stand up komedi aja gih!” jawabku dengan nada cerewet ingin memojokkan si Dul itu.

“Hehe… maap kak, gak maksud gitu, biar cairin suasana aja loh kak.”

“Ye lah…yelahh…” jawabku dengan pasang muka cuek.

“Duluan ya Kak, mau pulang lagi nii...” kata si Dul berdiri sambil melihat jam tangan hitam yang melingkar ditangannya.

“Cepet amat pulangnya, temenin Kakak ngobrol kek disini, kakak lagi nungguin temen. Lagian fakultas kita kok hari ini aneh banget ya, gak ada orang,” kataku sambil celingak-celinguk kiri-kanan.

“Ya ampun kak, kemana aja sih?” tanya Dul tertawa lebar. Aku pun mengerutkan dahi sambil berpikir. Apakah mungkin ada sesuatu yang aku lewatkan? Batinku. “Fakultas kita kan lagi ada acara di PKM kak, jadi orang-orang pada kesana semua, emang gak ada yang kasih tau kakak?” sambung si Dul.

Sekilas dengan sigap, ku rogoh kantong rok dan aku raih HP sambil ngecek  HP. “Amsyooooooongg, HP pakek mati segala ternyata sejak tadi, sama sekali gak ada ngecek HP Dul.”

“Haha, anak kekinian ada gitu ya lupa cek HP,” sahut si Dul nyengir ngejek memperlihatkan giginya yang rapi itu.

Akhirnya Dul nyaranin buat ikutan aja sama dia pergi ke acara Fakultas karena akan ada banyak bazar dan kegiatan disana. Sayang banget kalau langsung pulang. Aku pun memutuskan untuk pergi dari fakultas dan ikut bersama Dul.

Sambil berjalan kaki ke arah PKM yang cukup jauh, kami berdua sedikit banyak bercerita. Si Dul dengan aktivitasnya yang mulai disibukkan dengan berbagai kegiatan dan lomba sedangkan aku  bercerita tentang kegiatan perkuliahan dan pekerjaan rumah yang seabrek. Mungkin ceritaku sedikit membosankan ketimbang cerita si Dul. Ya…Dul sedikitnya membuat aku kagum padanya. Jarang-jarang anak muda kayak Dul udah memiliki segudang potensi dan prestasi yang luar biasa. Aku akui kalau aku sedikit malu menjadi kakak seniornya. Huuufftt….

“Dul, bagaimana cara kamu ngelakuinnya dan bisa seperti ini?? Kakak kenal kamu dari SMA Dul dan kakak tau betul kamu dulu tidak seperti ini,  kamu  pernah terpuruk karena ‘dia’ dan semua karena ‘dia’, Dul ingat kan waktu Dul curhat di sekre dulu ke kakak? pokoknya kamu berubah Dul…” tanyaku sedikit malu dan dengan suara yang mulai tenggelam.

“Iya kak, Dul sadar dengan perubahan sekarang ini Kak. Dul bersyukur atas semua yang terjadi sebelumnya. Dan Dul seneng banget bisa seperti ini, setidaknya Dul bisa ngebahagiain orang-orang udah pasti sayang sama Dul. Dul ngerti apa maksud pertanyaan Kakak barusan,” ujar Dul seraya tersenyum ke arahku lagi.

Selama diperjalanan menuju PKM Dul pun bercerita panjang lebar tentang sekelumit kisah  yang ia lalui sejak ia berpisah dengan seorang sosok yang pernah ia sayangi. Dul juga bercerita kalau dia telah berusaha iklhas namun hatinya terkadang masih belum bisa menerima, berusaha menyibukkan diri dengan hal-hal positif, dan pastinya Dul sadar kalau hidup ini pasti ada ujian dan perlu ada motivasi.

Hari itu pun berlalu, Dul setidaknya membuka mata ku yang sempat dihinggapi oleh debu. Debu yang membuat mataku perih berkepanjangan, hingga mengeluarkan buturan air mata kesakitan. Bahkan air mata yang terus  mengalir itu pun tak kunjung berhenti meskipun aku seka dengan jari-jemari.

Dul berkata pada ku,”Jangan karena satu ­momen bullshit, momen-momen bahagia, senang, dan positif yang Kak Zahra punya jadi sia-sia gitu aja, jangan kita kayak pribahasa ‘karena nila setitik rusak susu sebelanga.’ Coba deh manfaatkan sesuatu yang benar-benar ada disekeliling kita Kak!” Kata Dul dengan wajah semangat.

Dul benar, semua yang Dul katakan benar. Apakah mungkin aku bisa seperti Dul? Pertanyaan yang aku beri ke Dul membuat aku sedikit tertampar. Merasa konyol karena berusaha memenangkan  hati orang lain, tetapi hati sendiri terpuruk. Pertanyaan yang aku lontarkan ke Dul membuat aku harus flashback kembali, terpaksa harus teringat dan memikirkannya lagi hingga membuka luka lama yang sebenarnya udah di close book.

Ada perkataan super Dul kepadaku ketika itu, dimana perkataannya terngiang terus ditelingaku hingga kini, “Kak, masa lalu dan kenangan buruk itu ibarat mata pisau yang tertancap di dalam hati.  Jika mata pisau dibiarkan terus tetap menancap, maka kita akan terus-menerus merasakan sakit bahkan sakitnya itu tak akan hilang dan semakin bertambah. Bagaimana cara agar mata pisau yang tertancap itu terlepas dan hilang? Caranya itu tak lain tak bukan dimulai dari diri kita sendiri  dan hanya diri kita yang bisa melakukannya. Pertama, Cabutlah mata pisau itu dengan tangan kita sendiri, cabutlah perlahan-lahan agar tidak terlalu sakit, cabutlah mata pisau itu dengan lembut agar tidak mengoyak sisi hati yang lain. Kemudian setelah terlepas buanglah mata pisau itu jauh-jauh. Sekarang hati kita bisa terlepas dari mata pisau yang menyakitkan itu dan hati kita akan mulai menyembuhkan dirinya sendiri. Meskipun luka yang sembuh itu akan meninggalkan bekas. Namun, bekas itu setidaknya mampu menutupi luka lama tersebut.”

Makasih Dul atas waktu, cerita, saran dan motivasi yang kamu berikan ke Kakak. Meskipun kakak tau ini gak mudah bagi kamu sebelumnya tentunya buat kakak yang labil ini. Kakak akan berusaha dan belajar semangat darimu Dul.Tetaplah menjadi bintang yang paling terang, biarkan sinarmu menuju kesegala arah, memberikan cahaya semangat kepada siapa pun yang meminta petuahmu. Moga kau kelak menjadi sesosok yang arif dan dikagumi banyak orang.

Pelajaran berharga memang tak harus didapat dari orang-orang yang lebih tua. Bahkan yang muda pun dapat mengerti selama kaya pengalaman dan cara yang mereka lakukan benar dan bisa membuat mereka bangkit dari keterpurukan masa lalu.



by. Laila


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Assalamualaikum hehe...Nah, cerita diatas hanya fiksi belaka ya Guys. Mudah-mudahan dapat kita ambil pelajaran bagi kita semua dan khususnya buat aku sendiri. Itu hadiah buat blog kesayangan dari aku karena udah lama banget gak ada update blog -_- :p Senang deh  rasanya bisa kembali menulis setelah sekian lama gak ada menghiasi blog dengan kata-kata. Senang bisa kembali meluangkan waktu buat menulis. Gak terasa juga kita udah berada di penghujung tahun 2015. 


Keep spirit buat kita semua ya guys!! I love you more. See you next time. Wassalam 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar