Jumat, 14 Oktober 2016

Semangat Si Madan

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh



Apa yang membuat mata dan hati kita selama ini tertutup dengan kehidupan orang-orang yang kurang beruntung dari kita?Jawabannya adalah ‘Kurangnya kepedulian antar sesama’.Kadang seakan kita bungkam, pura-pura tuli, bahkan pura-pura tidak melihat keadaan lingkungan kita kecuali diri kita sendiri???  Dalam jalur kehidupan, kita terbiasa hidup dan nyaman dengan orang-orang yang sekasta atau sederajat dengan kita. Sangat kurang sekali perhatian dan kepedulian kita terhadap lingkungan atau kehidupan lain selain kehidupan yang membuat kita nyaman saja.

Padahal diluar sana, di dunia sana, yang tak pernah terjamah dan tersentuh dalam pikiran kita. Sangat banyak sekali orang-orang yang membutuhkan kita untuk sedikit saja peduli dan dapat membantu mereka, meringankan beban mereka.

Bukankah yang pintar mengajari yang bodoh, yang kuat melindungi yang lemah, yang ceria menyemangati yang down, yang berlebih berbagi kepada yang kurang, yang bahagia merangkul yang sedang bersedih?? Dengan membayangkannya saja, saling berbagi terasa indah, apalagi jika diwujudkan bersama-sama.

Apakah mungkin?? Dengan kondisi yang seperti ini?? Bersama-sama??? Gak ada yang tidak mungkinkan? Sekedar menumbuhkan kembali harapan dan semangat saja sudah bisa menjadi modal awal mereka untuk menyambung hidup.

Terkadang, untuk bekerjasama saja kita masih banyak milih-milih, tolak-menolak, bahkan menolak kerjaan yang sebenarnya sanggup kita kerjakan. Beberapa waktu lalu, ketika aku akan berangkat KKN dan akan menetap selama kurang lebih dua bulan bersama teman-teman yang tidak satupun diantara mereka yang aku kenal, di daerah yang sama sekali belum pernah aku pijak. Papa berpesan, ‘Lakukan apa yang bisa dilakukan, jangan pilih berat-ringannya suatu pekerjaan. Bagi yang mengerjakan itu adalah tabungan amal bagi diri kita sendiri’.

Dari pesan tersebut aku jadi tersadar akan benarnya dan pentingnya pesan Papa ketika berada di lingkungan yang sedang aku jalani. Memang benar, banyak hal-hal yang membuat aku geleng-geleng kepala. Jika satu pekerjaan saja yang tidak dikerjakan dengan alasan,capek lah, malas lah, bukan tugas kami lah....pada akhirnya sebuah pekerjaan tidak selesai, semua kerjaan jadi terlalaikan dan terbengkalai. Memang harus ada yang mengerjakannya dan itu adalah kepekaan diri kita sendiri.

Si Madan, adalah salah satu bocah yang menginsprirasi terkhususnya bagi diri aku sendiri selama dua bulan berada di daerahnya. Nama lengkapnya yaitu Ahmad Ramadhan. Dengan bahasa dan logat melayunya yang kental, bocah itu sering menyebut dirinya adalah Madan. Aku pun tak ayal sering memanggilnya si Madan .

Pangilan ‘Kakak KKN’ tidak pernah hilang dari ucapannya ketika memanggil kami. Wajahnya ceria, diumur yang masih bocah adalah khas jika ia adalah anak periang dan suka bermain. Namun ada satu hal yang mengganjal dalam pikiran aku ketika kami belajar bersama. Si Madan berbeda dengan teman-teman seusianya, baik dalam proses ia berpikir maupun berbicara.

Malam itu, pertama kali ia datang di Posko KKN menemui kami untuk belajar bersama teman-temannya. Bisa aku ingat dengan jelas raut semangat wajahnya untuk mengaji dan belajar. Dari sebalik pintu ia mengintip kami dan mengucapkan salam sambil tersenyum. Kami pun mempersilahkan masuk, baik Madan maupun segerombolan teman-temannya.

Rame!!!

Jujur aku kurang suka keramaian yang membuat bising, sedikit ribut dan membuat kepala aku pusing. Sedangkan suara bising adik-adikku dirumah saja kadang membuat aku terganggu apa lagi dengan kondisi seperti itu. Disini agaknya salah satu kesabaran aku di uji kali ya :)

Aku melihat Madan dan dua orang lagi sedang bingung ingin belajar dengan siapa karena teman-teman aku yang lain sudah banyak dihampiri oleh anak-anak yang lain, sehingga Dengan hati terbuka aku memanggilnya untuk belajar denganku saja bersama beberapa teman lainnya. Ada Madan, si Farizi dan Si Kelsa. Madan duduk dikelas 2 SD, Farizi kelas 2 SD dan Kelsa belum sekolah dan masih berumur 4 tahun. Ternyata yang dua orang lagi adalah adik-adik si Madan,

Setelah mengaji bersama, aku mengajari Madan matematika sesuai permintaannya. Cara Madan berbicara, cara Madan belajar, bisa aku rasakan kalau Madan seperti susah memahami semua yang aku ajarkan, matanya tidak terfokus kepada pelajaran, tapi terfokus pada teman-temannya yang sedang bermain, terkadang fokus melihat wajahku saja bukan bukunya. Ketika dikasih latihan ia masih belum sanggup untuk mengerjakannya sendiri.

Aku jadi menggertaknya sambil bercanda untuk fokus belajar. Malah adikknya si Farizi yang banyak membantu abangnya (si Madan) dalam mengerjakan latihan yang aku beri. Aku katakan pada Farizi biar abangnya mengerjakan sendiri dahulu latihannya,pada saat itulah Farizi langsung to the point tentang kondisi abangnya yang sebenarnya yaitu Si Madan.

“Dia ini aturannya kelas 4 SD kak, tapi tinggal kelas 2 tahun, kata Ibu kami seharusnya abang disekolahkan di Sekolah Khusus, bukan disekolah SD biasa, tapi sekolah itu tidak ada disini,” Ujar Farizi dengan tanggap.

Bisa aku tarik maksud dari perkataan Si Farizi. Aku jadi salut banget dengan Farizi, selain pintar berbicara, ia sangat peduli dan mau membantu abangnya yang sedang dalam kesusahan mengerjakan latihan soal.

Dari perkataan Farizi aku jadi mengerti, kalau Madan bukanlah anak-anak seperti biasanya. Ia hanya seorang anak ceria dan penuh semangat. Madan butuh bimbingan dan semangat dari kami-kami agar tetap bisa belajar meskipun dalam keadaan terbatas.

Si Madan adalah anak yang aktif dan ceria, pun kondisi ekomoni keluarga yang pas-pasan membuat kami anak-anak KKN tersentuh. Sulut api semangatnya untuk berjalan tiap malam menuju ke posko KKN untuk belajar selalu ia tapaki bertiga bersama adik-adiknya yang pintar dan lucu itu.

Aku senang... Madan dan adik-adiknya mempercayakan aku buat jadi tutor mereka ketika  belajar bersama di Posko. Meskipun aku sering terkaget-kaget sama Farizi yang kalo punya PR banyak banget, bisa dalam semalam mengerjakan tiga sampai empat PR, Katanya biar PR nya tidak menumpuk dan selesai. Bener juga sih, tapi kaget aja :D Di penghujung KKN  Una pun juga sempat bantuin aku belajar dan bantu buatin tugas si Farizi ini. Hehhe. Makasi Una.  

Belum lagi si Kelsa yang cantik itu, meskipun belum sekolah tapi Iqro dan buku tulis untuk belajarnya selalu iya bawa dan hasil tulisan tangannya baik tentang berhitung dan menulis selalu ia praktekkan di depan aku dan menunjukkan hasilnya padaku. Pintar!!

Yang aku salut dari Madan adalah setiap datang ke posko ia selalu bilang, “Kak, mau belajar!” Sambil membuka  tas dan mengambil buku-bukunya kemudian duduk manis di depan aku. Setiap selesai belajar pun aku terbiasa memberinya PR, namun ketika aku tidak memberinya PR, ia malah meminta dikasih PR. Alasannya biar bisa pintar dan ketemu kakak cantik terus :”) ntah mau terharu atau merasa terhina atau apa gitu kan, jarang-jarang ada yang bilang cantik :”) eehh, tapi anak kecil jujur kan ya? Haha.

Kami anak KKN merasa sangat senang ketika Madan dan adik-adiknya yang sering membawa titipan Ibunya, biasanya Farizi sering memberi buah-buahan dan makanan. Enak!!! Makasih Ibu Madan, Farizi dan Kelsa.

Masih teringat jelas juga ketika saat-saat berada dipenghujung akhir KKN, aku pengen Madan lebih percaya dengan dirinya sendiri, bisa sedikit saja lebih lancar dalam mengungkapkan kata-kata dengan fasih dan jelas.

Saat itu kebetulan di posko aku sedang bersama Ando dan Juntak. Kami mengajari Madan untuk berbicara pemperkenalkan diri sendiri di depan umum. Kami bertiga sempat tertawa ketika Madan memulai dengan mengucapkan salam yang tidak jelas dan kencang dan sangat kaku sekali memperkenalkan dirinya.

Aku pun mulai mengajarinya pelan-pelan namun tetap sedikit sulit, Juntak dan Ando pun juga mencoba mengajarinya dan malah semakin membuatnya malu, tidak ingin berdiri dan berbicara lagi. Untung Ando sabar dan kami juga sabar mengajarnya, sedikit demi sedikit selama dua hari berturut-turut lafal Madan dalam mengucapkan kata-kata memperkanalkan dirinya berangsur baik, dan percaya diri meskipun masih banyak yang harus dipelajari.

Walaupun Madan malu dan tidak hebat dalam satu sisi, tapi semangat nya untuk terus belajar tidak luntur. Sering salah pun membuat Madan gak pernah bosan dan malu untuk belajar ke Posko. Keterbatasan Madan yang ada tidak membuatnya minder dihadapan teman-temannya, Madan sempat malu dan menyuruh adiknya Farizi tutup mulut ketika menyampaikan kalau Madan pernah tinggal kelas ke aku pertama kalinya. Hufftt.... tapi walaupun jujur itu memalukan namun selama kita menganggap kejujuran itu hal yang positif, hasilnya akan positif juga. Ibarat kata pepatah ‘Malu bertanya sesat dijalan.’

Tentang cita-cita nya yang ingin membahagiakan kedua orangtuanya dan ingin menjadi dokter Madan utarakan kepada kami. Semoga bisa terwujud ya Madan, meskipun kakak dan abang-abang sudah pergi tetap semangat buat belajar ya. Kakak rindu sama Madan, sayang...momen kita bersama belum sempat terabadikan dan kita belum sempat perpisahan. Terakhir sebelum pergi kakak hanya ketemu Farizi di jalan dan titip salam semangat ke Madan dan Kelsa.

Memang... hati dan mata kita akan terbuka lebar dan tergerak membantu ketika kita langsung merasakankan sendiri lingkungan yang berbeda. 

Setidaknya bukan hanya satu orang yang seperti Madan, tapi banyak orang diluar sana hidup dalam ketidakberuntungan namun mereka masih memiliki harapan dan semangat buat menjalani hari-hari mereka.  Kisah si Madan dapat kita ambil pelajaran dan hikmahnya. Sekali lagi bahwa keterbatasan tidak membatasi kita dalam melakukan sesuatu yang ingin dicapai.

Ini hanya baru cerita si Madan,  masih banyak mungkin cerita-cerita lainnya yang tidak terekspos dan butuh perhatian dari kita, dari masyarakat, maupun pemerintah. Kita saling peduli kepada sesama toh tidak akan mendatangkan kerugian ataupun menurunkan derajat kita. Tetapi meninggikan derajat, bukan hanya dihadapan manusia, tetapi dihadapan Allah SWT. Dimana Allah berfirman:

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.“ 
QS. Al-Zalzalah 7-8

Sekecil apapun kebaikan yang kita kerjakan pasti berbalas dengan kebaikan, begitu lah  janji Allah kepada kita dan dengan kita menolong orang lain, kita pun juga akan mendapatkan pertolongan entah melalui perantara manusia atau pun langsung dari sang Maha Kuasa, sebagaimana sabda Nabi SAW, yakni:

Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW, bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya. (HR. Muslim)

Mungkin itu saja tentang kisah si Madan, sederhana tapi ada nilai yang bisa kita ambil sebagai pemacu kita untuk terus semangat biar dalam kondisi apapun. Semoga bermanfaat ya bagi kita terkhususnya bagi diri aku sendiri. Wassalam






Yang menulis tidak lebih baik dari yang membaca


6 komentar:

  1. Nice :), pengalaman yg berharga ya selama KKN. Nanti klau sdh lulus pun dan sampai kapanpun teruslah berkontribusi nyata pada masyarakat, lakukan yg real, bukan cuma bicara atau menulis, contohnya mngajar gratis, atau tergabung dlm klompok sosial manapun asal positif. Klo tiap dari kita punya kontribusi yg nyata pd masyarakat, insyaAllah masyarakat yg tdk punya cepat terbantu.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. KKN itu istilah kamu masih testing mencelupkan satu jari ke warna-warninya dunia kerja. Nanti setelah terjun ke dalamnya, kamu akan mengalami lebih banyak kejadian menarik. Kadang menyenangkan, kadang menyebalkan, tapi ya itulah mengapa disebut warna-warni hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Ka...
      Warna warni??? kayak lagu pelangi-pelangi....hehe...Kyaknya emang begitu ka, hidup banyak warnanya :")

      Hapus
  4. Wii KKN. Dulu waktu kuliah nggak ngerasain KKN sih. Tapi pernah juga ngajar anak2. Dan pengalaman yang didapet pasti beda-beda. Terutama pas ngadepin anak-anak. Ada yang gampang paham ada yang susah. Tapi sejauh ini belom pernah ngajar anak berkebutuhan khusus sih. Jadi salut aja gitu, kamu bisa ngajar anak berkebutuhan khusus. Dan menceritakan ceritamu di blog. Belom lagi Madan mengajari hal penting yaitu, semangatnya Madan patut dicontoh. Dan juga kita patut bersyukur apapun kondisi kita. Gitu, Aku menangkapnya seperti itu. Nice story.

    BalasHapus