Selasa, 22 November 2011

Resensi Novel Sujud Cinta di Masjid Nabawi

                          Perjuangan Cinta
                                     Judul Buku              :  Sujud Cinta di Masjid Nabawi
                                    Pengarang               : Putri Indah Wulandari
                                    Penerbit                   : Sabil
                                    Tahun Terbit         : Agustus  2011  
Jumlah Halaman  : 423 halaman
         
     Sujud Cinta di Masjid Nabawi adalah sebuah novel 423 halaman yang ditulis oleh novelis muda Indonesia kelahiran Cirebon,15 Maret 1992 yang bernama Putri Indah Wulandari. Ia adalah seorang mahasiswa Fakulatas  Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung(UNISSULA) Semarang. Terinspirasi novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburahman El-Shirazy, ia menerbitkan “Sujud Cinta”. Sepintas lalu, novel ini seperti novel-novel Islami kebanyakan yang mencoba menebarkan dakwah melalui sebuah karya seni, namun setelah ditelaah lebih lanjut ternyata novel ini merupakan gabungan dari novel Islami, budaya dan juga novel cinta yang banyak disukai anak muda. Dengan kata lain, novel ini merupakan sarana yang tepat sebagai media penyaluran dakwah kepada siapa saja yang ingin mengetahui lebih banyak tentang Islam,khususnya buat para kawula muda yang kelak akan menjadi penerus bangsa.
     Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur campuran, namun dominan menggunakan alur maju. Tokoh utama dalam novel ini adalah Sabrina Lailatun Nida, yang kerap dipanggil Nida, gadis penghapal Al-Quran dan juga cerdas. Disamping itu Maryam Muhsin teman satu pesantren Nida yang sering menceritakan saudara kembarnya Muhammad Muhsin. Ayah Nida juga berperan dalam membantu anaknya dalam hal apapun. Azhar pemuda cerdas dan tampan yang disukai para gadis namun ia hanya mencintai Nida.
     Gaya bahasa yang digunakan dalam penulisan novel ini dapat kita cerna dan dipahami oleh siapa saja yang membacanya. Selain itu  dalam novel ini terdapat beberapa bahasa yaitu seperti bahasa Arab/Mesir,dan juga Belanda.
    Kisah dalam Sujud Cinta ini menceritakan tentang Shabrina Lailatun Nida sosok yang lahir dari keturunan ibu-Indonesia dan ayah-Kufah. Masa kecilnya dijalani di Indonesia, namun hanya sebentar,kemudian mereka sekeluarga pindah ke Kufah. Saat remaja, ia kembali ke Indonesia untuk belajar menghapal Al-Qur’an di Pesantren Husnul Khotimah. Ia bertemu dengan seorang santri baru bernama Maryam Muhsin yang berasal dari Madinah. Maryam sering bercerita tentang saudara kembarnya yang bernama Muhammad Muhsin. Tetapi , justru hanya dari cerita-cerita itulah, Nida tanpa sadar telah jatuh cinta kepada saudara Maryam tersebut. Cinta yang begitu rapat ia sembunyikan,meski hatinya sangat yakin bahwa lelaki dasyat itulah kelak akan menjadi jodohnya!
    Setelah menghatamkan hafalan Qurannya, mereka pun berpisah. Maryam pulang ke Madinah, Nida kembali ke negeri ayahnya di Kufah dan kemudian melanjutkan studi di Al- Azhar,Mesir. Dari sinilah cerita cinta itu dimulai dimana  skenario Tuhan atas dirinya terpampang begitu terang.
     Bermula dari seorang mahasiswa Al-Azhar,pemuda yang dipanggil Azhar yang ingin berkenalan dengan Nida. Tidak lama setelah itu datang sebuah surat yang tidak diketahui siapa  pengirimnya sdan pada akhirnya surat yang tidak diketaui siapa tuannya itu terungkap juga,  orangnya adalah Azhar yang surat terakhirnya berisi tentang niatnya untuk meminang Nida sebagai istrinya. Tentu saja Nida begitu bingung dan dia teringat akan Muhammad Muhsin walaupun Nida tidak pernah menemuinya sama sekali tapi Nida mengambil langkah dengan istikharahnya dan Nida menolak dan meminta maaf kepada Azhar. Dan Nida menceritakan semua alasannya kepada Azhar. Mendengar itu Azhar pergi ke Madinah , didalam perjalanan Azhar meninggal dunia karena kecelakaan pesawat.
    Karena tuntutan studi ke Amerika dan semua temannya yang akan pergi adalah non muslim, Nida boleh membawa pendamping yakni harus suaminya. Maka dari itu ayah Nida memilih Aziz sebagai menantunya. Nida terpikir lagi akan bayangan Muhammad Muhsin kembali. Jelang satu hari pernikannya Nida membatalkan pernikahannya dengan Aziz karena selama ini Aziz telah mempunyai istri yang sangat mencintainya. Isrinya sengaja memperbolehkan karena istrinya tidak bisa memberi Aziz keturunan. Dan Nida sangat sedih mendengar itu. Disamping itu Nida mengidap kanker stadium tiga yang menggerogoti otaknya. Dan ayah Nida mengajak Nida pergi umroh. Seketika Nida teringat akan Muhsin kembali yang selama ini hanya bayangan baginya. Ketika di Mekkah Nida dan ayahnya bertemu dengan ibunya Azhar dan mengajak singgah kerumahnya. Nida bertemu kembali dengan Maryam. Dan ternyata ayahnya Azhar bersaudara dengan ayahnya Muhammad Muhsin. Setelah terpikir barulah Nida tau alasan mengapa Azhar ngotot sekali ke Madinah. Tidak lama setelah itu akhirnya Nida menceritakan isi hatinya pada ibu Azhar yang ia anggap sebagai ibunya. Dan selang beberapa waktu akhirnya Nida menikah dengan Muhammad Muhsin dan kanker otak Nida berangsur pulih oleh terapi air zam-zam.
    Para tokoh yang tergambar dalam novel ini benar-benar mendalam dan berkarakter. Dalam novel ini penyampaian cerita bisa membawa kita pada setiap kejadian yang tak terduga dan tokohnya yang sama-sama memiliki kekuatan iman dan kesabaran yang ulet.  Ceritanya begitu menyentuh dan mengalir seakan pembaca mengalami berbagai problema yang melilit sang tokoh.
    Novel ini banyak mengandung amanat yang sangat bermanfaat bagi yang membacanya. penulis yang bermottokan berusaha terus hingga aku memenangkan hidup ini mengajak kita untuk selalu bersabar apapun yang terjadi,berusaha,pengorbanan, menimba ilmu dengan sungguh-sungguh dan menyerahkan hasil akhirnya hanya pada Allah SWT semata.
     Hal yang menarik dari novel ini adalah pengorbanan dan kesabaran tokoh-tokoh yang terkait dalam menghadapi suatu masalah. Putri pandai dalam memilih latar dan tempat sesuai dengan cerita. Seperti di Belanda , ia menggambarkan bahwasanya Belanda sangat menghargai sejarah dan hal itu dibuktikan dengan adanya museum-museum yang terdapat di Amsterdam,Belanda yang digambarkan didalam novel. Kisah-kisah hubungan antar manusia (kisah cinta) digambarkan secara menarik dan utuh tanpa terkesan berlebihan.
     Walaupun penulis menggambarkan tokoh yang mencintai bayangan tanpa ada usaha sebelumnya dan sosok awal Muhammad Muhsin tidak diceritakan secara detail pada awal dan konflik cerita dan hanya sekilas, namun inilah yang membuat pembaca menjadi penasaran dan ingin mengetahuinya dan membacanya lebih lanjut lagi. Demikian cerita ini tetap memukau dan penuh dengan muatan pesan yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis resensi :  Laila Muqaddasa (IX IPA 1)

3 komentar: