Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Saturday, 26 December 2015

Ketika Ku Bertanya




Hari ini begitu panas, air di botol minum hijau yang sering aku bawa kini telah habis ku minum. Kini aku duduk termangu menunggu teman-teman yang tak kunjung datang untuk rapat lanjutan. Katanya ngumpul pukul setengah dua belas siang, toh nyatanya sudah setengah jam lewat menunggu. Daripada membuang waktu, aku pun beranjak pergi dan tunaikan yang wajib dahulu. Ku langkahkan kaki menuju musholla kampus. Kebetulan adzan zuhur sudah berkumandang.

Fakultas tampak sepi, lorong-lorong jalan di fakultas menuju musholla yang aku lalui bak pipa raksasa yang kedap angin dan suara. Aku pun tetap melanjutkan langkah kaki ke musholla seorang diri dengan rasa sedikit horor. Mungkin ini hanya imanjinasi akibat kebanyakan menonoton film horor ya. Pikirku.

Aku pun berjalan menuju WC kampus. Bismillah, ku ambil air wudu. Setelah selesai berwudu aku merasa segar sedia kala. Yang awalnya aku  merasa gerah dan kehausan, kini berubah menjadi kesegaran. Mungkin inilah yang namanya keberkahan. Mudah-mudahan ya Robb. Aamin.

Setelah tunaikan sholat, aku duduk di kursi panjang di depan musholla untuk memakai sepatu.  Masih dengan seorang diri tanpa siapa pun. Aku sedikit merasa asing dan bingung kenapa fakultas tetap sesepi ini.

“Kak Zahra!”

Sontak aku pun menoleh ke arah sumber suara. “Eh…. Si Dul,” kata ku spontan kaget sambil nyengir aneh.

“Tumben sendiri Kak? mana yang satu lagi?” tanya si Dul. Dul pun ikutan duduk di ujung kursi panjang yang aku duduki sementara aku juga sedang duduk di ujung kursi yang berlawanan.

“Satu lagi apa ni Dul? Udah ngagetin, sekarang di bom pertanyaan ihh,” jawabku polos sambil sibuk memasang tali sepatu. Nama aslinya adalah Abdullah, lebih sering di panggil si Dul. Seorang adik junior di kampusyang tampan, aktif, cerdas, luas wawasan agamanya hingga tak jarang terkadang di panggil Ustadz.

“Itu loh, cowok yang selama ini barengan turus sama Kakak?”

Aku menoleh ke si Dul dengan muka datar kemudian tersenyum kecut. Aku alihkan pandangan ke arah yang lain. Pertanyaan itu membuat aku diam seribu bahasa. Sesaat suasana aku buat berubah menjadi hening tak bernyawa karena pertanyaan si Dul yang tak langsung kujawab.

Beberapa detik pun berlalu.

“Kami udah punya jalan masing-masing Dul,” jawabku dengan bingkai wajah sumringah.

“Lah, bukannya kalo jalan emang masing-masing ya Kak, emangnya kakak dan dia jalan sambil gendongan apaah? haha” kata Dul tertawa dengan lepas dan gaduh.

Aku pun telah selesai memakai sepatu dan langsung aku sahut candaan si Dul. “ Yaelah Dul, Kakak jawab serius ini loh, pandai amat yaak kalo becanda, multi talent, sekalian ikutan stand up komedi aja gih!” jawabku dengan nada cerewet ingin memojokkan si Dul itu.

“Hehe… maap kak, gak maksud gitu, biar cairin suasana aja loh kak.”

“Ye lah…yelahh…” jawabku dengan pasang muka cuek.

“Duluan ya Kak, mau pulang lagi nii...” kata si Dul berdiri sambil melihat jam tangan hitam yang melingkar ditangannya.

“Cepet amat pulangnya, temenin Kakak ngobrol kek disini, kakak lagi nungguin temen. Lagian fakultas kita kok hari ini aneh banget ya, gak ada orang,” kataku sambil celingak-celinguk kiri-kanan.

“Ya ampun kak, kemana aja sih?” tanya Dul tertawa lebar. Aku pun mengerutkan dahi sambil berpikir. Apakah mungkin ada sesuatu yang aku lewatkan? Batinku. “Fakultas kita kan lagi ada acara di PKM kak, jadi orang-orang pada kesana semua, emang gak ada yang kasih tau kakak?” sambung si Dul.

Sekilas dengan sigap, ku rogoh kantong rok dan aku raih HP sambil ngecek  HP. “Amsyooooooongg, HP pakek mati segala ternyata sejak tadi, sama sekali gak ada ngecek HP Dul.”

“Haha, anak kekinian ada gitu ya lupa cek HP,” sahut si Dul nyengir ngejek memperlihatkan giginya yang rapi itu.

Akhirnya Dul nyaranin buat ikutan aja sama dia pergi ke acara Fakultas karena akan ada banyak bazar dan kegiatan disana. Sayang banget kalau langsung pulang. Aku pun memutuskan untuk pergi dari fakultas dan ikut bersama Dul.

Sambil berjalan kaki ke arah PKM yang cukup jauh, kami berdua sedikit banyak bercerita. Si Dul dengan aktivitasnya yang mulai disibukkan dengan berbagai kegiatan dan lomba sedangkan aku  bercerita tentang kegiatan perkuliahan dan pekerjaan rumah yang seabrek. Mungkin ceritaku sedikit membosankan ketimbang cerita si Dul. Ya…Dul sedikitnya membuat aku kagum padanya. Jarang-jarang anak muda kayak Dul udah memiliki segudang potensi dan prestasi yang luar biasa. Aku akui kalau aku sedikit malu menjadi kakak seniornya. Huuufftt….

“Dul, bagaimana cara kamu ngelakuinnya dan bisa seperti ini?? Kakak kenal kamu dari SMA Dul dan kakak tau betul kamu dulu tidak seperti ini,  kamu  pernah terpuruk karena ‘dia’ dan semua karena ‘dia’, Dul ingat kan waktu Dul curhat di sekre dulu ke kakak? pokoknya kamu berubah Dul…” tanyaku sedikit malu dan dengan suara yang mulai tenggelam.

“Iya kak, Dul sadar dengan perubahan sekarang ini Kak. Dul bersyukur atas semua yang terjadi sebelumnya. Dan Dul seneng banget bisa seperti ini, setidaknya Dul bisa ngebahagiain orang-orang udah pasti sayang sama Dul. Dul ngerti apa maksud pertanyaan Kakak barusan,” ujar Dul seraya tersenyum ke arahku lagi.

Selama diperjalanan menuju PKM Dul pun bercerita panjang lebar tentang sekelumit kisah  yang ia lalui sejak ia berpisah dengan seorang sosok yang pernah ia sayangi. Dul juga bercerita kalau dia telah berusaha iklhas namun hatinya terkadang masih belum bisa menerima, berusaha menyibukkan diri dengan hal-hal positif, dan pastinya Dul sadar kalau hidup ini pasti ada ujian dan perlu ada motivasi.

Hari itu pun berlalu, Dul setidaknya membuka mata ku yang sempat dihinggapi oleh debu. Debu yang membuat mataku perih berkepanjangan, hingga mengeluarkan buturan air mata kesakitan. Bahkan air mata yang terus  mengalir itu pun tak kunjung berhenti meskipun aku seka dengan jari-jemari.

Dul berkata pada ku,”Jangan karena satu ­momen bullshit, momen-momen bahagia, senang, dan positif yang Kak Zahra punya jadi sia-sia gitu aja, jangan kita kayak pribahasa ‘karena nila setitik rusak susu sebelanga.’ Coba deh manfaatkan sesuatu yang benar-benar ada disekeliling kita Kak!” Kata Dul dengan wajah semangat.

Dul benar, semua yang Dul katakan benar. Apakah mungkin aku bisa seperti Dul? Pertanyaan yang aku beri ke Dul membuat aku sedikit tertampar. Merasa konyol karena berusaha memenangkan  hati orang lain, tetapi hati sendiri terpuruk. Pertanyaan yang aku lontarkan ke Dul membuat aku harus flashback kembali, terpaksa harus teringat dan memikirkannya lagi hingga membuka luka lama yang sebenarnya udah di close book.

Ada perkataan super Dul kepadaku ketika itu, dimana perkataannya terngiang terus ditelingaku hingga kini, “Kak, masa lalu dan kenangan buruk itu ibarat mata pisau yang tertancap di dalam hati.  Jika mata pisau dibiarkan terus tetap menancap, maka kita akan terus-menerus merasakan sakit bahkan sakitnya itu tak akan hilang dan semakin bertambah. Bagaimana cara agar mata pisau yang tertancap itu terlepas dan hilang? Caranya itu tak lain tak bukan dimulai dari diri kita sendiri  dan hanya diri kita yang bisa melakukannya. Pertama, Cabutlah mata pisau itu dengan tangan kita sendiri, cabutlah perlahan-lahan agar tidak terlalu sakit, cabutlah mata pisau itu dengan lembut agar tidak mengoyak sisi hati yang lain. Kemudian setelah terlepas buanglah mata pisau itu jauh-jauh. Sekarang hati kita bisa terlepas dari mata pisau yang menyakitkan itu dan hati kita akan mulai menyembuhkan dirinya sendiri. Meskipun luka yang sembuh itu akan meninggalkan bekas. Namun, bekas itu setidaknya mampu menutupi luka lama tersebut.”

Makasih Dul atas waktu, cerita, saran dan motivasi yang kamu berikan ke Kakak. Meskipun kakak tau ini gak mudah bagi kamu sebelumnya tentunya buat kakak yang labil ini. Kakak akan berusaha dan belajar semangat darimu Dul.Tetaplah menjadi bintang yang paling terang, biarkan sinarmu menuju kesegala arah, memberikan cahaya semangat kepada siapa pun yang meminta petuahmu. Moga kau kelak menjadi sesosok yang arif dan dikagumi banyak orang.

Pelajaran berharga memang tak harus didapat dari orang-orang yang lebih tua. Bahkan yang muda pun dapat mengerti selama kaya pengalaman dan cara yang mereka lakukan benar dan bisa membuat mereka bangkit dari keterpurukan masa lalu.



by. Laila


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Assalamualaikum hehe...Nah, cerita diatas hanya fiksi belaka ya Guys. Mudah-mudahan dapat kita ambil pelajaran bagi kita semua dan khususnya buat aku sendiri. Itu hadiah buat blog kesayangan dari aku karena udah lama banget gak ada update blog -_- :p Senang deh  rasanya bisa kembali menulis setelah sekian lama gak ada menghiasi blog dengan kata-kata. Senang bisa kembali meluangkan waktu buat menulis. Gak terasa juga kita udah berada di penghujung tahun 2015. 


Keep spirit buat kita semua ya guys!! I love you more. See you next time. Wassalam 



Friday, 14 March 2014

Ini Sungai Kami


Ini sungai kami, tempat kami dahulu selalu menggantungkan hidup disela-sela rutinitas kami. Tempat kami mandi, mencuci pakaian, tempat anak-anak kami bermain riang, tempat minum berbagai jenis makhluk hidup, dan sekaligus menjadi tempat hidup segala macam jenis makhluk air yang berada didalam sungai.

Ini sungai kami, diujung sana terdapat air terjun yang  indah, tak jauh dari sana terdapat air mata air yang begitu terjaga oleh rerimbunan semak dan tertutupi oleh sulur-sulur pohon yang saling mengait satu sama lain. Menurut leluhur moyang kami, kami menemukannya kala itu ketika ingin menebang bambu. Kemudian kami berpikir dan akhirnya memutuskan untuk bergotong royong bersama beberapa pemuda dan tetua untuk membuat sekat pembatas antara air sungai dan air mata air agar kami mudah untuk meraih dan meminum airnya.

Ini sungai kami, sungai ini menjadi tempat persinggahan yang paling nyaman ditambah lagi banyak para petani kecil yang lewat untuk mengambil air mata air dan dibawa ke tempat bekerja. Kami percaya bahwa air itu adalah air suci yang Tuhan berikan dan dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Hal ini membuat pikiran kami kian terbuka, kami berinisiatif untuk membuat pondok singgah. Kami kembali bergotong royong. Membuat anyaman sebagai dinding, membuat rangka dan pondasi dari kayu yang kami tebang, kemudian mengumpulkan dedaun kering pohon kelapa untuk dijadikan atap. Kami bangun pondok singgah itu disamping air mata air yang tenang. Tampak serasi dan indah.

Ini sungai kami, semilir angin datang menerbangkan dedaunan kering dari rantingnya. Udara dingin seakan menyergap masuk melalui ubun-ubun. Hingga membuat refleks tubuh menggigil dingin. Begitu indahnya irama aliran sungai hingga membuat pendengaran terasa segar.  Saat ini kami merasakan kaya akan kenikmatan yang Tuhan beri, bertahun-tahun lamanya sungai ini yang membuat kami tetap bertahan hidup, air mata airnya dengan sekali tegukan dapat menghilanngkan dahaga yang sangat dengan seketika. Segala aktifitas dapat terlihat pula sejak pondok singgah dibangun dan hingga saat ini terus berlanjut, mulai dari para petani yang singgah ketika ingin makan siang, duduk istirahat dan bahkan menjadi tempat untuk beribadah menghadap illahi. Bukankah itu adalah pemandangan yang menakjubkan?

Ini sungai kami, jernih dan beningnya air dapat membuat kami bercermin  melihat rupa . Adakah sungai kalian yang bisa seperti itu? Sungai kami seakan hidup. Deburan air terjun yang jatuh menambah hebohnya kegembiraan alam seolah-olah alam berbicara dan mengucapkan rasa terima kasih yang sangat karena telah menjaganya.

Ini sungai kami, suara serangga, burung-burung yang berkicau, riuh angin, deburan air nan jatuh termasuk suara-suara malaikat seakan menyatu dengan alam sungai ini. Betapa indahnya ciptaan Tuhan ini. Rimbunnya pepohonan kayu dan bambu seakan ikut menjaga dan menutupinya dari dunia luar. Ya, alam tau bahwa manusia begitu serakah dan tidak pernah puas. Alam menjauhkannya dari jangkauan manusia serakah, sungai kami bak ditutupi tabir hingga tak satupun dunia luar yang meilhatnya apalagi ingin merusak dan mengambilnya dari kami.

Sungguh, ini sungai kami, kami juga tak merasa keberatan berbagi kebahagiaan jika ada yang datang ingin merasakan kenikmatan alam yang kami tinggali kerena setiap orang berhak untuk bahagia akan karunia Tuhan. Yang penting, mari sama-sama kita menjaga alam yang indah ini. Lihatlah air di sungai itu, pantulan cahaya mentari di permukaan sungai seakan diapungi oleh batu-batu mutiara lautan. Sungai ini sudah seperti bingkai kehidupan kami yang jika bingkai itu hilang maka tak akan ada tempat kami untuk begantung dan berdiri.

Ini sungai kami dan lihatlah apa yang sekarang terjadi! Tiba-tiba saja sungai kami berubah keruh kecoklatan termasuk air mata air dan pondok singgah kami yang sudah hancur tertimpa pepohonan raksasa yang habis ditebang. Bahkan terkadang sungai kami berubah warna seperti warna pelangi. Sungai kami tak lagi berbentuk, kerikil dan pasirnya habis dikeruk paksa. Apakah yang terjadi? Kami hanya orang awam yang tak paham dengan kecanggihan teknologi, yang kami tau hanya hidup damai dan sejahtera. Oh, jadi kalian orangnya, orang dari dunia luar yang menyingkap tabir dari atas udara. Benar, kalian begitu pintar tapi licik dan picik akalnya, padahal kita sama-sama manusia. Tak taukah kalian kalau ini harus dijaga? Sungguh kami tidak sejalan dengan pikiran kalian yang terlampau hebat dan jenius.

Dan sekarang sungai kami seperti ini, lihat!! Anggota keluarga kami mulai tergerogoti penyakit aneh karena terpaksa harus mengonsumsi air sungai sumber kehidupan kami satu-satunya. Kalian yang berotak jenius hanya mampu mempertebal kantong sendiri dan tak menghirukan kami yang sama-sama manusia seperti kalian.

Ini sungai kami yang dulu adalah tempat kami tumbuh besar. Sekarang, kepada siapa kami mengadu dan meminta pertanggungjawaban. Kami sadar, kami adalah rakyat jelata yang tak diakui keberadaannya.  Suara yang tak didengar dan jika kami terlalu banyak bicara maka disaat kami sedang tertidur lelap  maka akan datang orang tak dikenal yang kapan saja dapat memutuskan urat leher kami dalam hitungan detik secara misterius.

Ini sungai kami tempat kami menyambung hidup merasakan sejahtera. Tapi sekarang berubah, kami hidup dalam ketakutan,terkekang, dan seperti tinggal menunggu ajal menjelang. Hutan yang selama ini menjaga keindahan alam dan kami, kini hilang habis ditebang bak ditelanjangi oleh keserakahan. Semua pohon yang mengintari sungai dipotong dan dibawa pergi oleh makhluk-makhluk baja beroda raksasa ditambah lagi suara khasnya yang sangat memekakkan telinga kami. Dari kejauhan kami hanya bisa memantau dan melihat tanpa kekuatan,  disana ada seorang yang berbadan besar dan bertubuh gemuk padat yang sedang asyik menyuruh anak buahnya dengan tangan yang diacungkan kesana-kemari ditambah lagi ia mengeluarkan suara yang keras dan lantang.

Ini sungai kami yang keindahannya hanya tinggal kenangan. Tolong kembalikan sungai kami, kami juga ingin hidup bahagia bersama keluarga yang kami cintai.

Tuesday, 5 November 2013

Karena Setiap Cinta Memiliki Ceritanya Sendiri (My Love is A Photographer)

"Buset dah panas kok kebangetan amat yah?" risih Nina sambil membuka helmnya seraya menyipitkan mata. Rina terus barjalan disamping emperan toko-toko kecil disekitar pasar yang akan ditujunya. Ya, hari ini Ibunya Nina akan mengadakan arisan, kebetulan Nina lagi tidak sibuk dan menyuruh Nina belanja ke pasar.

Nina telah sampai di tempat dimana orang selalu masuk ke dalam pasar melalui jalan alternatif dipojok sana, biar tidak kena becek gitulah. Setelah Nina hampir keluar dari jalan itu, nampak oleh Nina seorang nenek tua yang bajunya sudah lusuh banget duduk di ujung jalan alternatif itu. Spontan Nina ingin memberi sedikit uangnya untuk nenek itu.

Ketika Nina sampai didepan sang nenek, Nina mengulurkan tangannya yang sebelumnya telah ia selipkan sedikit uang dan memasukkan uang itu dalam ember yang disediakan sang nenek.

Klik... Seketika ada seberkas pantulan sinar yang menyorot Nina dan nenek barusan yang membuat Nina terkejut. Seorang pria stelan kaos biru-jeans berlari kencang keluar pasar ketika Nina melihatnya.

"Heeeiiii jangan lariiii...... heeiiiii," Nina memanggil pria itu kencang.

Tiba-tiba saja sang nenek buka suara dan Nina pun membiarkan pria yang berlari tadi. "Makasih nak, mudah-mudahan dapat jodoh yang terbaik," kata nenek itu kepada Nina.

Gleeeeekk. Nina seperti menelan sesuatu dalam mulutnya dan seketika membuat Nina sedikit bingung dan langsung mengucapkan, "ooh, makasih nek,atas doanya" balas Nina kepada sang nenek tua diiringi secercah senyuman tipis dan Nina pun kembali pergi untuk belanja sebagaimana tujuan awalnya.

***
Ibunya Nina berjalan ke arah pintu kamar Nina dan langsung saja membuka pintu kamar Nina. "Nina, yuk ikut Ibu yuk ke ruang tengah! mau Ibu kenalin sama teman-teman Ibu," Ajak Ibunya Nina dengan lembut.

"Yaaah Ibu, Nina males... Nina masih ada yang mau dikerjakan sama Desi nih," ucap Nina pada Ibunya sambil cemberut kayak ikan cucut.

"Desi, Tente pinjam Ninanya dulu yaaa?" izin Ibunya Nina pada Desi, teman satu sekolahnya Nina.

"Ah, Tante ini pake izin segala, silahkan Tante cantik! gak ada yang larang kok," Balas Desi pada Ibunya Nina sambil tertawa lepas.

Nina ikut sama Ibunya keruang tengah. Suasana rumah Nina tampak ceria, teman-teman ibunya Nina ternyata sangat ramah dan humoris. Seketika Nina yang cemberut itu berubah rona wajahnya menjadi kemerah-merahan.

"Buk Septi, beruntung deh punya anak secantik Nina,ya gak ibuk-ibuk?" kata salah satu ibuk-ibuk kepada Ibunya Nina dan ibuuk-ibuk yang lain.

"Ah, Bu Titik bisa saja, siapa dulu donk,ibunyaaaa," jawab Ibunya Nina sambil tertawa diiringi tawa ibuk-ibuk lainnya.

"Eh, ngomong-ngomong Nina udah punya pacar belom? kalau belom sama anak tente aja... masih lajang loh," tanya seorang ibuk kepada Nina.

Belum sempat Nina menjawab, alias Nina masih kelihatan berpikir. Ibuk yang lain juga pada ikutan nanya. "Sama anak Tante aja Nina, masih lajang dan udah punya kerja," tawar ibuk-ibuk itu pada Nina.

"Eh, gak usah dengarin ibuk-ibuk yang itu,sama anak Tante aja. Udah ganteng, pintar, lajang. terus udah kerja di kantor pemerintah lagi," tawar ibuk-ibuk yang lain kepada Nina.

Nina kelihatan bingung, dan rona wajahnya semakin memerah. Melihat anaknya yang gugup, Ibunya Nina angkat bicara.

"Aduh ibuk-ibuk,ada waktunya itu kalau ngomong begituan, kasihan kan Nina saya jadi malu begini," tawa Ibunya Nina dan ibuk-ibuk yang lainpun ikutan tertawa seraya meminta maaf kepada Nina yang merasa terpojok.

Tiba-tiba saja salah seorang dari teman Ibunya Nina memecah kemeriahan tawa dengan menyodorkan sebuah kertas kecil kepada Nina.

"Apa ini Tante?" tanya Nina sambil memperhatikan isi dari kertas itu.

"Itu undangan untuk datang ke pameran karya seni anak Tante, anak Tante seorang Fotografer. Jangan lupa datang ya!" ajak Tante itu bersemangat.

"Oh, OK Tante, pasti," ujar Nina meyakinkan.

***

"Desiiii, gue diundang ke acara pameran ama teman ibu gue, yeyeyye," kata Nina kegirangan pada Desi yang waktu itu lagi asyik menulis.

"Whaat?? pameran?" tanya Desi terbelalak dan langsung duduk siap di depan mukanya Nina.

"Iyaaa... pameran Des, tapi masalahnya gue mau pergi dengan siapa, masa sama loe mulu si Des? nanti gue dikira orang gak laku terus lesbong pulaaa....aaaaaa,, gak mau gak mau," ucap Nina teriak sambil mengacak-acak rambutnya.

"Isshh, pikiran loe kejauhan amat sih ama gue, kalau beneran terjadi gimana?" tanya Desi sambil mengedip-ngedipkan matanya.

"Dessiiii..... gue serius, jangan sampai lah." 

"Iya deh, emang lu kira gue mau gitu? jijayy tauuk," balas Desi manyun.

"Ok ok, tapi gue emang serius Des, banyak yang bilang gue cantik, tapi apa yang terjadi selama ini sama gue coba? gue ini jomblo Des, JOMBLO SEJATI!!"

"Sssssstttt, setiap kata adalah doa," kata Desi berbisik sambil menutup mulut Nina.

"Apaaan sih, lo jangan nakutin gue donk Des," kata Nina sambil menghalau tangan Desi saat itu.

"Nin, setiap orang pasti bakal punya pasangan dan itu udah janji Allah pada kita makhluknya. Mungkin sekarang, ini bukan waktu lo. Dan mungkin waktu lo itu ada di masa yang akan datang," ucap Desi bijak yang seketika membuat Nina ngelamun.

"Bener sih Des, tapi masalahnya gue sekarang udah kuliah, setahun lagi bakal tamat,masa belom punya gebetan juga, gue juga mau. Lo sih enak ngomong, lo udah pernah ngerasain dan udah punya 10 mantan, lah gue?" ungakap Nina murung dan berjalan menuju jendela kamarnya seperti ingin melihat sesuatu.

"Nin, asal lo tau aja, lo kira enak pernah punya mantan 10? lo lihat apa yang gue korbanin! air mata, kesedihan,kebencian, kemunafikan, kebohongan, dan sebagainya bahkan gue hampir di nodai, lo masih ingat itu kan? jadi sekarang apa yang lo inginkan? lo lihat sekarang gue kan, gue udah gak punya gebetan lagi sejak diceramahin sama si Aisyah yang orangnya alim banget itu," ucap Desi tegas bak Hitler yang kayak di pelajaran sejarah.

"Desiiiiii... gue salut punya sahabat kayak loe," Ninapun berbalik dan memeluk sahabatnya erat yang telah membuka lebar pemikirannya selama ini.

Lama Desi berada di rumah Nina, akhirnya Desi pulang dan tinggallah Nina di kamarnya sendiri. Nina memperhatikan undangan yang diberi teman ibunya tadi dengan seksama dan membacanya. Ya. acara itu akan diadakan seminggu lagi. Nina berpikir akan mengajak Desi sahabat baiknya itu ke pameran.

***

Tibalah Nina di pameran yang sebelumnya ia tak pernah pergi kesana. Nina dan Desi berkeliling mengintari setiap jalan yang disisinya telah ditempeli beberapa foto yang spektakuler, yaaa.... it's so amazing! Kira-kira siapa orang yang dapat memfoto ini sebegitu kerennya?? ucap Nina dalam hati.

"Ninaaaa......," teriak suara Desi dari kejauhan. Ternyata Desi telah berada di ujung pameran  yang buntu. Nina berjalan menuju Desi dengan langkah cepat.

"Apa sih? ini pameran tau, bukan hutan, asal teriak aja," bentak Nina pada Desi.

"Gue terkejut tauk, nih liat fotonya," suruh Desi kepada Nina.

"Haaaaaahh.... itu gue yaa?" tanya Nina.

"Lo sakit ya? itu emang lo Nina sayang. Kok bisa sih? lo gak pernah bilang kalau lo pernah jadi foto model," kata Desi sambil menarik bahu Nina untuk melihat wajahnya.

"Whaat?  foto model? lu sedeng yaa? gak mungkin kalii, lo liat baik-baik Des! gini ceritanya, waktu itu gue disuruh ibu ke pasar, kebetulan gue nampak nenek-nenek yang bikin gue kasihan banget. Terus gue kasih duit deh," ujar Nina santai.

"Oh gitu toh, terus siapa yang fotoin lo?" kata Desi balik nanya.

"Tunggu dulu.....(Nina berpikir), ohhh, gue ingat sekarang, waktu itu pas gue ngasih duit ke nenek tua itu, gue terkejut karena ada yang fotoin ke arah gue dan nenek, gue kira itu cowok foto ntah siapa, kiranya fotoin gue," kata Nina panjang lebar.

"Azeeeh, yang udah punya fans misteriuzz, by the way fotonya bagus banget. Menurut analisa gue, sang nenek kumal dan seorang gadis baik hati yang memberi uang sang nenek, itu kan adalah gambaran sifat murah hati ditambah lagi background suasana hiruk pikuk pasar seakan menambah potret pelengkap yang mendramatisir seluruh aspek yang dialami sang nenek. Cahaya yang tampak buram seakan menambah amukan naluri hati yang pilu melihat penderitaan si nenek. Foto yang sungguh indah, namun kecut dan penuh teka-teki," Ungkap Desi sambil melihat secara detail setiap sudut dari foto itu.

Prok prok prok. Seketika Desi terkejut dan melihat semua orang yang ada disekitar Desi bertepuk tangan mendengar komentar Desi tentang foto itu. Desi sadar ternyata ia telah ditinggal oleh Nina. Desi pun beranjak pergi sambil tersenyum kepada orang-orang yang masih bertepuk tangan padanya.

Ketika sedang mencari Nina, ternyata Desi melihat Nina dari kejauhan yang sepertinya sedang berbicara dengan seorang cowok. Desi pun berjalan menuju Nina.

“Nin, lo kok tega ninggalin gue bicara sendiri disitu,” gerutu Desi ngambek.

“Lo sih, bicaranya hamper kayak Vicky nya si Gotik, makanya gue lari,” kata Nina tertawa. Dan si cowok itupun ikutan tertawa.

“Eh, siapa nih? Kenalin donk!” rayu Desi sambil menyenggol bahu Nina.

“Lah, gue aja belom kenal dia, ini aja baru mulai ngobrol,hehe,” ujar Nina.

“Dari pada kita gaje, ikut gue dulu yok!” ajak cowok itu.

“Ha? kemana?” tanya aku dan Desi serentak.
“Udah, ikut aja!” balas cowok yang masih belom diketahui namanya itu.

Nina dan Desi pun mengikutinya dari belakang. Dalam hati kecil Nina sepertinya terdapat perasaan yang menggebu-gebu tak biasa. Yaa… cowok itu baru pertama kali ia temui, tatapan mata cowok itu sungguh membekas pada pandangan imajinasi Nina. Matanya, menyorotkan sesuatu yang sulit diungkapkan. Nina terus saja memperhatikan cowok itu dari belakang. Mata Nina lurus pas berada di pundak cowok itu. Nina ingin cowok itu menjadi pangerannya di alam imajinasinya kalau perlu menjadi pria yang akan mengisi kekosongan hari-harinya selama ini.

“Jangan mimpi dia jadi pangeran lo ya Nin?”  suara bisik Desi membuyarkan lamunan Nina.

“Dasar lo Des, bukannya support, malah ngejatuhin,” kata Nina sambil menjulurkan lidahnya.

Cowok itu mengajak Nina dan Desi pada sebuah café yang tak jauh dari pamerannya berada. Dan cowok itupun mempersilahkan Nina dan Desi untuk duduk kemudian memesan makanan ataupun minuman.

Saat sedang menikmati makanan, cowok itupun buka suara. “Nama gue Rio Nugraha, biasa dipanggil Rio.”

“Oh, Rio… nama aku….” (Rio memotong pembicaraan Nina). “Aku udah tau nama kamu, Nina kan? dan teman kamu Desi.”

Nina dan Desi terbelalak dan berhenti seketika mengunyah makanan. “Iyaaa… kok tau sihh? Kita kan belum pernah ketemu,”kata Nina.

“Makanya, kalau sama tetangga itu jangan sombong,” ujar Rio sambil menghadapkan wajahnya kearah Nina.

“Tetangga?” Tanya Desi.

“Iya, gue dan Nina itu sebenarnya tetangga loh Desi,” kata Rio pada Desi.

“Oh, jadi itu lo ya Rio, anaknya Tante Ria yang ngasih gue undangan untuk kesini. Jadi lo yang bikin pameran dan yang foto gue?” tanya Nina penasaran.

“Iyaa, maafin gue ya sebelumnya udah bikin lo terkejut pas di pasar waktu itu.”

“Yaudah, gak apa kok,” ujar Nina malu dan seketika langsung melihat Desi yang mukanya udah kayak udang rebus gak tahan mau teriak kayaknya.

“Lo masih ingat gak Nin, waktu itu lo pulang ke rumah lagi jalan sendirian, terus saat itu lo nendang kaleng minuman dan langsung kena kepala gue yang saat itu gue sedang jogging sore , waktu itu gue sumpah ingat betul wajah jelek lo pas lari ketakutan terbirit-birit,” ungkap Rio tertawa lepas sendiri.

“Udah selesai ketawanya?” kata Nina jutek.

“Ha?apa? maaf Nin, maaf,” Rio pun berhenti tertawa dan menahan malu. Nina dan Desi pun ikut tertawa dan selanjutnya mereka melanjutkan makan mereka yang sempat terhenti.

Selanjutnya Rio membawa Desi dan Nina ke galeri tempat Rio memajang foto Nina bersama nenek tua itu. Ketika mereka sampai di lokasi. Rio mengambil sepucuk mawar putih yang ada diatas meja tepat dibawah foto Nina dan nenek tua dipajang. Seketika membuat Nina dan Desi bingung saling bertatapan. Rio tepat berada dihadapan Nina diantara foto Nina dan Nenek tua.

“Nina, selama ini gue suka sama lo sejak lo nendangin kaleng ke kepala gue. Sejak saat itu gue penasaran sama lo dan sering ngikutin lo kemana lo pergi, dan satu keinginan gue dari loNin, gue mohon lo mau jadi pendamping hidup gue selamanya,” Ujar Rio mengungkapkan perasaannya pada Nina, sambil berlutut dihadapan Nina seraya mengangkat mawar putih itu kehadapan Nina.

“Rio, tapi kita belum saling kenal, kita baru aja kenal. Terus apa alasan gue harus nerima lo?” balas Nina bingung sambil melihat Desi.

“Tapi gue kenal lo, gue suka dan cinta banget sama lo Nina, Plis terima gue dan ambil mawar putih ini,” kata Rio memohon dengan sangat.

Nina tampak bingung. Rio bukan minta jadi pacar tapi malah minta jadi pendamping hidup, apa artinya ini semua? Nina sangat bingung. Nina melihat ke Desi yang asyik melihat-lihat kamera si Rio yang sejak tadi ia pegang.

“Des, gimana nih? Gue terima?” Tanya Nina pada Desi.

“Nin, gue nungguin nih, gue mau lo ikhlas berikan rasa cinta lo ke gue sama seperti rasa ikhlas dan tulus lo ketika memberi  nenek yang ada didalam foto itu!” Rio mengingatkan yang kelihatannya udah pegel-pegel.

“Rio, lo jangan buat gue merasa kasihan dan iba gitu donk, gue bingung!” kata Nina galau ketulungan.

“Nin,ini adalah kesempatan besar dari hidupmu yang harus lo aktualisasikan agar terciptanya kemakmuran harmonisasi dan tiada kudeta diantara lo dan Rio, TERIMA!” kata Desi yakin.

TERIMA! TERIMA! TERIMA! Sorak-sorai teriakan dan iringan tepuk tangan membuat suasana hati Nina menggebu , semua orang yang ada di pameran ini menyaksikan ikrar cinta Rio pada Nina.

Nina mengambil mawar putih itu, “ Rio, berdirilah, gue nerima lo sekarang.”

“Lo serius Nina?” tanya Rio gak percaya.

“Iya,gue serius taukk, atauu….”

“Ok…ok, gue percaya, makasih Ninaa,” Rio pun berdiri dan berhambur langsung memeluk Nina dihadapan orang-orang yang ada di pameran itu. Semua orang pun memberikan bertepuk tangan.

Desi melihat kamera Rio yang sedari tadi ia pegang. Yaaa…. Desi mendapat satu jepretan foto saat itu. Satu lagi momen paling indah terabadikan. Desi mendapatkan foto  indahnya ikrar cinta  Rio kepada Nina. Sama halnya ketika Nina menunduk memberikan keihklasannya pada sang nenek di pasar. Dan sekarang Nina pun menunduk kembali sembari menerima keikhlasan dan ketulusan cinta dari  Rio yang akan menjadi belahan jiwanya, tepat didepan foto Nina dan nenek tua itu.



TAMAT




Tuesday, 27 August 2013

Antara Tito dan Cici

"Makasih sayang!" Ucap Mama pada ku setelah aku menyuapkannya sesendok kue dan mengecup keningku.

"Iya Mama, aku sayang Mama," Balasku.

Kemuadian aku kearah Papaku sembari memotongkan kue untuk ku suapkan dan ia juga mengecup keningku lembut sama seperti Mama.

"Makasih Pap, udah buatin acara ini," ucapku.

"Sama-sama sayang," Balas Papa.

Malam ini terasa begitu lelah, aku pun segera menuju kamar dengan langkah yang gontai. Ku raih boneka winne the poohku seraya memeluknya erat dan memandang kembali lekat-lekat wajah bonekaku.

 "Tito, terima kasih selama ini telah menemaniku. Sekarang aku sangat bahagia, hari ini hari ulang tahunku yang ke-19, gak terasa umur aku juga semakin berkurang saja, saat ini aku bahagiaaa banget punya Papa Mama yang selalu menyayangiku, tapi mengapa aku rasa Tito gak seperti dulu lagi, lebih sering diam, dan tak hirau padaku, apa yang terjadi?"


***

10 tahun yang lalu.

"AAaaww, sakiiit sekali"

Seketika aku seperti terduduk ditanah tak sanggup berdiri, terasa butiran-butiran air mata mengalir di pipiku seraya memegang tangan kananku kuat-kuat.

"Cici,  kau kenapa? ayo bangun! Cici! Cici! Cici!" Suara Mela menyuruhku untuk segera bangun.

Tapi aku tak sanggup bangun, tangan kananku begitu sakit yang tak tertahankan.

"Mela, bantu aku berdiri!" Ucapku lirih menahan sakit.

Sekuat tenaga aku mengulurkan tangan kiriku pada Mela tapi belum sempat Mela menyambut uluran tanganku, seketika pandanganku menjadi gelap.
--------------

Aku seperti tersadar dari tidur tapi hal yang pertama kali aku rasakan adalah aroma khas suatu ruangan yang tak pernah aku hirup sebelumnya. Perlahan aku buka mata yang masih terpejam ini, mataku langsung tersorot pada langit-langit yang terbingkai, dan berwarna putih. Seperti bukan dikamarku, karena langit-lanngit kamarku bewarna biru muda.

"Cici, kamu sudah bangun nak, Mama Papa dan Mela menghawatirkanmu," Sebuah suara lirih langsung terdengar oleh telingaku, seketika aku meoleh ke arah sumber suara itu. 

"Mam.... aaawwww," Jeritku ketika tangan ini ingin ku gerakkan memeluk Mama. Akupun hanya bisa terdiam sambil menahan rasa sakit yang masih menjalar disekitar  lenganku.

"Coba jelaskan pada Mama kenapa tanganmu bisa seperti ini nak?" Tanya Mama padaku yang masih menahan sakit.

"Anu Ma, Cici gak sengaja melewati abang kelas yang sedang  bermain bola kaki di halaman sekolah, waktu itu Cici dan Mela assik bicara, dan  bola tiba-tiba saja mengenai tangan Cici," Jawabku polos.

"Maafkan Cici Mam, Cici yang salah gak hati-hati," sambungku.

"Jadi Cici kena bola, siapa benar dia? setelah dia menendang bola kearahmu, dia tak bertanggung jawab, malah Mela yang melapor kerumah bersama guru-guru bahwa Cici telah dirumah sakit. Sekarang mana dia? biar Mama beri pelajaran dan memarahi dia yang  main bola sembarangan," Ucap Mama tegas seperti marah besar.

"Saya tante!"

Terdengar olehku sebuah suara cengil polos yang penuh keberanian menunjukkan siapa dia.

"Saya Tito Dimas Prayoga, maafkan saya yang tidak sengaja menendang bola ke arah anak tante, saya benar-benar menyesal,"

"Ooohh,kamu toh? menyesal kamu bilang? apakah dengan kata menyesal tulang tangan anak saya yang patah bisa bersambung kembali dengan sendirinya?" Hardik Mamaku yang emosi tak tahan melihat aku menderita kesakitan seperti ini.

Seketika ruangan serba putih itupun menjadi hening seolah tak ada penghuni. Ku lihat Abang kelas yang bernama Tito itu membisu tak percaya atas keadaanku.

Tito berjalan ke arahku pelan. Aku mengrutkan kening tak tahu apa yang akan ia lakukan padaku. Aku pun sedikit menjauhkan posisi ku darinya. 

"Awwww, Mam..." Aku merintih kesakitan lagi.

Tito tampak berhenti mendekatiku. Dan Mama menyambar tangan anak yang bernama Tito itu dan meyuruhnya keluar dari ruangan ini sekarang juga.

"Apa kamu mau membunuh Cici lagi setelah kamu mematahkan tangannya. Pergi kamu dari sini!" Bentak Mamaku kepada Tito.

Tiba-tiaba saja sepasang manusia masuk kedalam ruangan ini. Menangkap Tito yang hampir saja terjatuh oleh dorongan Mamaku. Papaku tampak menyuruh Mama untuk sedikit sabar, sedangkan Mela hanya mematung seakan tak mengerti apa yang terjadi.

"Yoga,Reza Prayoga?? Ja...jadi dia anakmu?" Kata Mamaku ragu kearah sepasang manusia yang sepertinya suami-istri itu."Pa, Mama gak sanggup lagi dengan masalah ini, tolong Papa usir mereka dari sini, Mama capek," Ungkap Mama seakan meredam kemarahan dan fokus melihat keadaanku.

"Maafkan anakku Pak, Mira juga tolong maafkan kesalahan anak saya, ia tidak sengaja, tolong maafkanlah Tito." Papa terus mendesak agar keluarga Tito segera pergi dan tak menghiraukan apa kata lelaki yang  bernama Reza itu.

Setelah mereka semua pergi aku memberanikan diri bertanya pada Mama siapa orang yang Mama panggil Reza itu. Mama menjawab dia adalah masa lalu Mama yang membuat Mama terluka. Mama menyayangakan keadaan dimana apa yang Mama alami terjadi padaku atas kelakuan anaknya Reza. Bedanya kalau Mama terluka ketika hari pernikahannya dengan Reza di masa lalu terpaksa batal karena Reza yang tak muncul-muncul saat akan ijab kabul.

--------------

Setelah hampir dua minggu tak sekolah, senang rasanya aku bisa bersekolah kembali, walaupun tanganku masih menggantung dan dibalut perban. 

Tapi baru saja aku selesai menaiki anak tangga dan mengangkat wajahku, alangkah terkejutnya aku melihat boneka besar Winnie the pooh menggantung di tangan seseorang.

"Apa kau sudah sembuh? Aku dengar kau menyukai Winnie the pooh, terimalah boneka ini sebagai permintaan maafku karena membuat tanganmu patah?" Terdengar suara anak laki-laki yang tak asing bagiku.

"Apakah itu kau, Tito?" Tanya ku.

"Iya, aku yang kerumah sakit waktu itu."

"Aku memaafkanmu, tapi jangan kau lakukan lagi hal seperti ini?" Kataku pada Tito.

"Iya, aku tak akan mematahkan tanganmu lagi," jawab Tito.

"AAIIKK.... mematahkan? maksud aku, kalau ingin minta maaf sama orang jangan lagi menutupi muka dengan benda seperti ini lagi, aku jadi susah mengenalinya," Sanggahku yang membuat Tito langsung memberikan boneka cantik itu dan tersenyum lebar ke arahku.

"Terima kasih Cici, mulai sekarang aku akan melindungi mu, aku janji gak akan ada lagi yang namanya "patah"," Ucap Tito pergi dan meninggalkanku. Akupun saat itu hanya bisa tersenyum sambil melihat punggungnya tak percaya ia melakukan ini untukku.

---------------

Hari demi hari berlalu, sejak aku pertama kali masuk sekolah setelah kecelakaan itu ia lebih sering menjemputku ke kekelas III A, padahal kelasnya yang di V A lumayan jauh. Aku juga selalu ikut ketika Tito mengajakku makan dibawah pohon rindang halaman sekolah dan Tito selalu membawakan makanan yang enak-enak buatan ibunya khusus untukku. Tito selalu menyuapiku ketika makan, aku tak bisa suap sendiri karena tangan kananku yang masih menggantung dan dibalut perban. Dari itu semua banyak yang mengira waktu itu aku dan Tito adalah kakak-adik ditambah lagi wajah yang katanya hampir mirip. Sejak itu aku merasa senang dan gak ingin pisah dari Tito.


Tapi apa dikata, takdir berkata lain. Sesusah apapun aku berkata bahwa Tito baik tapi Mama bersikukuh tidak memperbolehkan aku dekat-dekat dengan Tito, apalagi ayahnya Tito yang membuat hati Mama terluka.

Hal yang tak diinginkan pun terjadi. Aku sempat bingung mengapa Mama memutar arah ketika mengantar aku ke sekolah, dan ternyata Mama telah memindahkan aku kesekolah lain. Aku marah besar sama Mama dan gak akan mau sekolah lagi kalau  kayak gini. Tapi Mama memarahiku dan aku hanya bisa menurut.

Selang beberapa bulan kemudian Papa ada tugas di Kalimantan yang mengharuskan keluargaku pindah dari Pekanbaru. Yaaa.... aku akan meninggalkan Tito, mungkin untuk selamanya dan gak akan ada harapan lagi.

Aku pun hanya bisa mengucapkan salam perpisahan kepadanya dalam hati Selamat tinggal Tito, semoga kita berjumpa lagi.

***

Sudah gila rasanya berbicara terus sama boneka Titoku yanng tak pernah memberikan jawabannya. Titoku hanya diam,bisu. Ahhh... apakah aku gila karenanya. Tapi aku merasa aku masih waras. Aku sangat merindukan Tito aku ingin bertemu dia, setidaknya satu kali saja.

Papa ada cuti dari kantornya dan kebetulan aku baru siap ujian di kampus dan sedang libur. Keluargaku akan berangkat dari Kalimantan ke Pekanbaru untuk bertemu keluarga Mama yang masih menetap disana. 

Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Ya Robb, aku pengen ketemu Tito, bantu aku Ya Robb.

Ku gayuhkan sepeda sepupuku yang aku pinjam menuju SD aku dulu. Kebetulan rumah sepupuku tidak begitu jauh dari tempat aku bersekolah dulu. Ku lihat-lihat sekeliling dan telah banyak berubah, termasuk rumah lamaku dulu. Aku masih melihatnya., masih kelihatan mirip walaupun catnya berbeda dan tak banyak bunga ku tampak. Dulu rumahku banyak sekali bunga-bunga yang cantik, Mama sangat suka bunga dan menghias rumah dengan bunga-bunga. Seneng rasanya rumah  saudara tak terlalu jauh dari SD. Jadi bisa mampir nostalgia di SD dulu walaupun tanpa dia.

Waaaahhh..... lega sekali hati ini, bangku dan pohon tempat aku makan bersama Tito tak ditebang, melihat renovasi sekolah ini. Kenangan masih nampak abadi disini. Ku keluarkan hape kamera dan ku letakkan boneka Tito di bangku itu, langsung deh aku jepret. 

"Gimana, hasilnya bagus gak?"

"Waaah... bagus banget, boneka Titoo...." aku tersentak dan terdiam.

Seseorang meraih pundakku dari belakang. Aku pun menoleh, satu kata yang hanya keluar yaitu,

"Titooo!"

Dia meraih tangan kananku, dan menyibak sedikit lengan bajuku yang menutupi tangannku.

"Sepertinya membaik, hanya ada bekas jahitan, apakah terasa sakit bila disentuh?" tanya nya.

"Tidak sakit kok, tapi di tanganku tertanam baut-baut kecil" jawabku.

Seketika aku dan Tito tertawa lepas, ku raih Boneka Titoku, ku peluk ia dengan erat. Tito tersenyum dan membuka lebar tangannya, aku mendekat kearahnya memeluknya rindu bersama boneka Titoku.

"Mulai sekarang jangan pergi lagi tanpa kabar, bukankah aku berjanji akan melindungimu? aku sayang kamu Cici,"

Tangis yang menjadi tak dapat aku bendung lagi. Ku biarkan ia mengalir sederas aliran sungai menemukan lautan. Aku hanya dapat mengangguk iya terhadap apa yang dikatakan Tito. "Thanks God, You answered my prayers." Ungkapku dalam hati.

TAMAT





Friday, 5 July 2013

Senyum Bunda


Dalam kelamnya malam, mata indahku menatap hamparan langit bertahtakan bintang-bintang sembari memeluk lutut dan menghela nafas pelan. Aku rasakan sejuknya malam dan hembusan angin yang syahdu,membuat aku merasa terbang bebas dari balkon kamarku menuju dunia pelangi kasih sayang dengan berjuta  warna yang  menyejukkan hati. Pikiranku mengembara pada kegiatanku dari bangun tidur hingga menjelang tidur kembali. Aku tersenyum pahit. Semua itu tiada berarti karena ada satu hal dalam hidup ini yang tidak kudapat.
***
“Pagi sayang, Bunda berangkat ke kantor dulu ya.” Sapa Bunda sembari tersenyum manis menatapku.
“Eng. Nggak sarapan dulu Bun? Aku buat nasi goreng special untuk Bunda.” tawarku sambil menyodorkan semangkuk nasi goreng dengan ditaburi potongan kecil keju-keju.
“Maaf Audy, Bunda sibuk nih. Masih banyak job yang belum terselesaikan. Kapan-kapan aja ya? Bunda pergi dulu. Assalamu’alaikum.” Ucap Bunda dengan langkah kakinya yang mulai menjauhiku.
Ku tatap punggung Bunda dengan perasaan sedih. Bunda pergi meninggalkanku begitu saja tanpa mencicipi sedikitpun makanan yang aku persembahkan dengan penuh cinta untuknya. Sejak Ayah meninggal lima tahun silam, Bunda yang menggantikan Ayah bekerja ke kantor untuk menghidupi aku dan adik laki-lakiku. Bunda selalu pulang diatas jam Sembilan malam, membuat hati ini merasa kesepian.
Sangat jarang sekali kulihat wajah Bunda kecuali ketika aku akan berangkat kesekolah, bagaimana tidak, ia selalu pulang malam dan ketika ia datang aku telah terlelap  dengan  berjuta mimpi-mimpiku.
Oh, Bunda. tak sadarkah bahwa diriku sangat merindukanmu? Merindukan belain tanganmu? Merindukan senyum manismu? Merindukan pelukanmu? Merindukan semua tentangmu!! Batinku sembari menghela nafas pelan.
***
Lambat laun hari akan terus berganti. Mataharikan selalu memancarkan sinarnya. Bumi akan terus berputar dan tahun akan senantiasa berlalu. Tak terasa aku telah menginjak bangku kelas  tiga SMA. Bunda selalu saja memberikan hadiah jika aku berprestasi di sekolah dan aku sangat senang, tapi ia tidak pernah memberikannya secara langsung kepadaku, selalu saja lewat orang lain. Sebenarnya, aku nggak butuh semua hadiah Bunda. aku hanya butuh Bunda! butuh perhatian dari Bunda. salahkah? bisikku ringkih.
Malam ini, mataku kembali tak ingin terpejam. Pikiranku berputar keepisode masa silam. Suara ketukan pintu menghentikan lamunanku. Sepertinya Bunda baru pulang. Panddanganku mengarah pada jam winnie the pooh berwarna kuning yang tengah tersenyum indah disalah satu sisi kamarku. 21.25 desisku lirih.
Disaat hampir jam  sebelas malam, aku menyelinap masuk ke kamar Bunda. Tidak ada yang berubah sejak kepergian Ayah. Buku-buku Ayah masih tertata rapi diatas meja. Pandanganku kini mengarah pada wanita yang memiliki senyum emas dan hati seindah pelangi.  Wajah itu sudah semakin menua, dimakan oleh usia. Rambutnya sudah mulai memutih dengan bingkain wajah yang terlihat  begitu lelah. Sebelumnya aku ingin berterima kasih pada Bunda yang selalu mejaga kami dengan baik. Jika aku selalu mengecewakanmu, maka maafkan aku Bunda. Aku hanya ingin bunda nggak lagi mengacuhkanku. Aku dan Raihan butuh perhatian Bunda. Aku pengen berbagi kisah tentang dia pada Bunda. Aku sudah tujuh belas tahun Bun, aku punya seseorang yang special dan aku ingin membagi cerita itu padamu. Bisakah? Salahkah? Aku butuh perhatianmu! butuh senyummu! Ucapku dalam hati. Aku menghela nafas pelan. Mataku tak henti-hentinya menatap wajah wanita itu. Wanita yang telah rela memberikan seluruh hidupnya untuk aku dan Raihan.
***
“Audy, tolong antarin Raihan ya ke tempat les. Bunda nggak bisa ngantar, soalnya lagi buru-buru ke bank nih.” Ujar Bunda menyuruhku. Aku termangu pelan sembari menatap kepergian Bunda yang buru-buru. Sebuah pertanyaan hinggap dimemori otakku. Ingin rasanya kulontarkan pertanyaan itu, tapi rasanya mulut ini telah menahan lebih dari seribu kalimat yang pada akhirnya akan hilang termakan oleh larutnya kekecewaan.
Aku pergi bersama adikku dengan mengendarai motor. Dari kaca spion motor, kulihat adikku begitu senang. Berbeda sekali dengan ku. Padahal ia hanya murid SMP yang pastinya lebih membutuhkan perhatian lebih dari aku. Apa mungkin aku terlalu egois? Adikku saja tidak terlalu memikirkannya. Ah, bodoh sekali! Bagaimana pun juga aku ya aku. Raihan ya Raihan. Aku dan Raihan memiliki pola pikir yang berbeda.
***
Disaat pagi menjelang dan mentaripun menampakkan senyumnya kearah jendela kamarku, seakan ia menyuruhku untuk ikut pula tersenyum dengannya. Baiklah, aku harap bunda hari ini mau ikut sarapan pagi bersamaku.
“Bun, sarapan bareng yuk. Ayolah Bun sekali ini saja, sudah lama kita tidak sarapan bareng. Please!” ungkapku penuh harap.
“Makasih sayang, tapi bunda lagi buru-buru nih. udah telat. Bunda nggak bisa, kapan-kapan kalau bunda lagi nggak ada kerjaan aja ya, pasti kita akan makan bersama, ok cantik?” ucap Bunda sambil berjalan meninggalkanku dalam kesendirian. Aku berlari menuju kamarku dan kubanting pintu dengan sekuat tenaga. Tidak peduli apakah pintu itu rusak atau hancur. Kuhempaskan tubuhku diatas kasur. Butiran-butiran bening tak terbendung lagi di ujung mataku dan keluar  begitu saja membasahi pipiku.
“Bunda selalu saja seperti ini, aku hanya ingin lebih dekat dengan Bunda. Aku  tidak ingin kejadian seperti ayah dulu terulang kembali.  Ayah yang selalu sibuk dikantor dan tak pernah perhatian serta berbicara kepadaku hingga akhirnya ayah meninggal, tanpa memberikan kenangan yang berarti padaku. Aku tak ingin hal serupa terjadi pada bunda” isakku dalam tangis. Kuraih selembar kertas berwarna hijau muda dan pena hijau Winnie the pooh yang ada di dekatku. Ku tuliskan segala isi hatiku yang rapuh,gundah,dan galau gulana.
***
“Raihan, kamu bawa motor kesekolah gih.” Ucapku sambil menyodorkan kunci motor dihadapannya.
“Bener nih? Trus kak Audy naik apa? Mendingan sama seperti biasa aja deh kak, kan kita searah” jawab Raihan dengan tampang polosnya.
“Kakak nebeng sama temen aja Rei. Udah janjian. Buruan pergi gih, entar telat lagi.”
“Beres kak. Cabut dulu ya. Makasih kakakku yang cantik.” jawab Reihan.
“Dasar cowok,  dipinjemin motor girangnya bukan main. Apalagi kalau udah punya motor sendiri, pasti ntu motor udah di jungkir balik sama yang makai.” Ungkapku.
Kulihat keadaan diluar rumah, awan hitam semakin pekat menggulung-gulung di langit, dan sepertinya hujan akan turun. Temanku ternyata telah menungguku didepan rumah.
“Audy, ayo! Keburu hujan nih.” Panggil Yola, sahabatku.
“Iya Yola. sabar !”, jawabku.
Dalam perjalanan menuju sekolah hujan turun begitu deras dan kami memutuskan untuk berteduh sejenak menunggu hujan reda di dekat emperan toko. Selang beberapa saat, hujanpun mulai reda.
“Audy, kita bolos aja yuk! lagian hari ini pelajarannyapun lagi ngebosenin”, rayu Yola.
“ ha, bolos? Gak ah nanti kalau ada yang lihat gimana? Bisa mampus kita” jawab ku terbelalak.
“ udah lah, sekali aja pun, lagian masih gerimis juga. Daripada nanti disekolah kena hujan lokalnya Pak Heri nanti, iddiiihh..jijay banget deh. Tersiksa ne bathin, apalagi kita duduk paling depan, bisa-bisa harus nyediain payung pas pelajaran bapak tu”, ungkap Yola dengan nada kesal kecentilan.
Setelah aku resapi kata-kata Yola, ada benarnya juga. Apalagi aku juga lagi malas ke sekolah, bundapun tidak pernah  memperhatikan aku. Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk pergi bersama Yola dan pergi menuju kafe langganan Yola. Aku dan Yola beserta teman-temannya bersenang-senang hingga lupa waktu, dan tidak sengaja aku melihat jam biru yang menempel dipergelangan tanganku, jarumnya menunjukkan jam 20.10.
Seketika aku pergi dari kafe dengan tergesa-gesa,kuraih tas ransel hijauku yang berada diatas meja kafe dan pergi meninggalkan teman-temanku. Aku benar-benar tidak menyadari ini. Aku terlalu terbawa dunia yang sebenarnya hanya membuang-buang waktu ku yang sangat berharga saja.
Saat aku telah keluar dari kafe,aku melihat kearah rumah makan yang berada didepan kafe, kebetulan perutku udah menunjukkan sinyal-sinyal dengan bunyi yang membuat aku risih,disekitar rumah makan itu kulihat dari kejauhan sesosok yang begitu aku kenal turun dari mobil merahnya dan iapun juga melihat kearahku.
“Ha… bunda?”, ucapku panik.
Dengan segera akupun pergi berlari dengan sekuat tenaga meninggalkan tempat itu. Terdengar dari kejauhan bunda  berteriak memanggil-manggil namaku. Namun aku acuhkan saja, toh selama ini dia tidak pernah peduli padaku, ia hanya sibuk mencari uang. Sampai-sampai dia lupa kalau dia mempunyai dua orang anak yang sangat membutuhkannya dan sama sekali tidak pernah meluangkan waktunya sedikitpun buat buah hatinya ini.
Dalam keadaan berlari aku menoleh kebelakang, ku lihat bunda ternyata sedang mengejarku. Akupun berlari lebih kencang lagi karena ketakutan, entah apa waktu itu yang sedang aku pikirin, aku hanya terus berlari dalam keadaan menoleh ke belakang. Dan pada saat itu juga aku tidak menyadari apa yang ada didepanku. Aku berhenti seketika dan melihat cahaya lurus kearahku juga suara klakson mobil yang begitu kencang, aku berteriak memanggil “bundaaa”. Kemudian gelap……..
s
“ Audy sayang, bangunlah nak! Bunda menyayangimu,” isak tangis seseorang.
Sayup-sayup suara lembut yang tidak begitu asing lagi terdengar ditelingaku. Begitu lekat sampai  ke hati.
“Apakah aku masih hidup atau sudah mati?”, bisik hatiku yang pilu.
Perlahan-lahan ku coba membuka kedua kelopak mataku dengan sangat hati-hati. Sedikit terlihat kabur. Lalu kucoba mengedipkan kedua kelopak mataku beberapa kali. Kemudian terlihatlah langit-langit bewarna putih dan suasana yang serba putih, dan aku melihat Raihan dan wajah bunda yang lembab karena air matanya yang mengalir. Sungguh menyakitkan melihat bunda menangis seperti itu karena aku.
“dimanakah aku sekarang bunda?” ucapku lirih penuh kekhawatiran.
“Audy,akhirnya kamu sudah sadar,kamu berada di rumah sakit, maafkan bunda sayang,bunda takut kehilangan kamu,!” ucap bunda pilu sambil meneteskan butiran-butiran air mata seraya memeluk tubuhku erat.
Pelukan ini begitu hangat, sudah lama aku tidak merasakannya sejak lima tahun yang lalu. Begitu damai, tentram, dan penuh kasih sayang.
Mengapa harus dalam keadaan seperti ini bunda baru memelukku, selama ini bunda kemana saja?ungkapku dalam hati, tak terasa mata ini tidak sanggup lagi membendung deraian air mata ini.
“maafkan Audy karena  membuat bunda sedih dan menangis seperti ini”.
“tidak apa-apa Audy, maafkan bunda pula yang selalu membuat dirimu kesepian dan tidak memperhatikanmu, bunda baru sadar setelah membaca catatanmu yang ada dikamarmu, untuk itu, maafin bunda ya!”, ucap bunda memelukku erat kembali.
Dan akupun berjanji kepada bunda untuk tidak bolos lagi, dan hura-hura seperti yang sebelumnya dan harus mengingatkan bunda jika bunda terlalu sibuk hingga tidak memperhatikan aku dan Raihan lagi..
Pagi akan terus berganti dengan datangnya siang, siangpun akan terus berganti dengan datangnya malam, dan rodapun akan terus berputar yang pada akhirnya akan kembali pada posisinya semula. Burung-burung yang biasanya enggan bernyanyi kini telah mengeluarkan alunan melodi-melodi dalam kehampaan dunia. Kasih sayang,cinta tak perlu harus dipaksa ataupun dicari, sepanjang-panjangnya sungai yang ada didunia ini, pasti hanya akan bermuara ke satu tujuan yakni lautan lepas nan biru yang didalamnya terdapat kebebasan, ketenangan dan kedamaian abadi. Makasih Tuhan. Makasih atas semua yang Engkau limpahkan padaku. Pada kami semua. Kini aku sadar, dibalik semua masalah yang menimpa hidupku, pasti ada hikmah dibalik semua ini. Setelah kesusahan pasti ada kemudahankan? Makasih juga udah kasih Bunda sebaik beliau. Aku hanya ingin selalu natap senyum Bunda karena senyumnya adalah semangat hidupku. Smile is my mother.  I can not live without that smile. And I’d rather not live without you. :)
The End



Ketika Hujan Datang

Dibalik cinta, termaktub berbagai rahasia yang hanya bisa diungkapkan oleh dua orang yang saling mencintai. Alam raya secara tak sadar menggabungkan kedua tanggannya untuk mempersatukan dua makhluk paling sempurna dengan hujan sebagai saksinya.

Hujan mengguyur kota dengan derasnya. Sesosok gadis mengendarai motor terlihat bergegas mendekati bangunan terdekat untuk berteduh. Seketika gadis itu turun dari motornya dan berlari ketempat orang-orang berteduh. Dia kelihatan sangat sibuk sendiri dengan tas besar yang di selipkan di lengannya. Hijabnya yang basah kuyup membuat sebagian wajahnya tertutup.

“Assalamualaikum , kamu kehilangan sesuatu?” suara lelaki terdengar mngucapkan salam.

“Waalaikumsalam , iya nih ada yang hilang, barang penting juga sih” jawab gadis itu tak memandang kearah lelaki yang menyapanya.

“Apakah ini yang hilang itu?” lelaki itu memperlihatkan dompet hijau kecil sambil menggantung ditangannya.

Gadis itupun menyibak hijabnya yang sudah mulai mengering dan berbalik arah melihat lelaki yang sepertinya menemukan barang yang dicarinya.

“Hai haii… halloooo…ini benar punya saya!” kata gadis itu sambil melambai-lambaikan kedua tangannya tepat dimuka lelaki yang melamun itu.

“Oh maaf, ini dompet kamu, lain kali hati-hati!”

“Iya, makasih banyak udah nemuin dompet saya, ini dompet pasti terjatuh barusan pas saya lagi kasak-kusuk nyari barang” kata gadis lugu itu polos.

“Oh iya lain kali nanti jangan lupa pake helm, nanti ada apa-apa gimana, trus sayang juga kan hijabnya sekarang jadi basah kuyup gitu” Kata lelaki itu mengingatkan.

“Oh, helm ya? Iya nih, lupa pakai karena terburu-buru!” jawab gadis itu berlalu.

Hujan sepertinya akan segera berhenti, hanya rintik-rintik kecil yang tersisa. Sebagian orang sudah mulai pergi meninggalkan tempat berteduh. Gadis itu sepertinya agak bingung dan ingin mengatakan sesuatu.

“Saya mauu….” Tiba-tiba saja gadis dan lelaki itu berbicara berhadapan dan berbarengan.

“haha… silahkan ngomong duluan!” pinta lelaki itu seraya tertawa.

“Maaf, kayaknya hujan sudah mulai reda, mau pamit dulu, dan makasih banyak udah nemuin dompet saya” kata gadis itu sembari mengeluarkan senyum tipisnya.

Gadis itu langsung saja berlari kearah motornya tanpa memberikan kesempatan berbicara kepada lelaki itu. Tampak lelaki itu melangkahkan kakinya sedikit seperti ingin mengejar gadis itu.

“Tunggu! Yah, gak sempat nanya nama pulak” kata lelaki itu.

Lelaki itu ntah mengapa selalu memikirkan gadis yang baru saja ia temui. Ada rasa menyesal didalam dada karena tak sempat bertanya siapa nama gadis itu. Hanya satu kalimat yang terpikir oleh lelaki itu. “Gadis itu begitu cantik dan mempesona dengan balutan hijabnya yang basah kuyup oleh hujan”.
-------------------------------------------------------------------------

Gadis itu sampai ditempat tujuan, ini adalah hari pertama ia bekerja disebuah perusahaan ternama. Gadis itu berjalan dengan sedikit laju sambil melihat-lihat dimana ruangan yang akan ia tepati segera. Akhirnya ia menemukan ruangannya, tampak beberapa orang gadis lain sedang berbicara.

“Assalamualaikum” gadis itu memasuki ruangannya.

“Ooooh ini toh orang yang ngambil posisi temen kita, dari tampang gak ada bagusnya” kata gadis lain itu.

“Eh, cewek ganjen, awas juga ya kalau loe sampai deket-deket sama bos kita, ingat ya nama bos kita Rangga Guntara. Ingat tuh biar loe gak lupa dan gak ngambil bos dari kita, ya gak temen2?” kata gadis lainnya.

“Iya kak, insya Allah akan saya ingat.Permisi Kak saya beres-beres dulu” kata gadis itu menunduk dan sedikit melihat Kakak-kakak yang satu ruangan denngannya.
----------------------------------------------------------------------------------

Beberapa haripun berlalu.  Sang gadis tampak kelelahan setelah pulang dari kantor. Ditengah perjalanan pulang, hujan turun lagi membasahi kota. Gadis itu pun berteduh ditempat orang-orang yang berteduh lainnya. Kali ini gadis itu tak lupa mengenakan helm sehingga hijabnya tak basah kuyup.

Gadis itu seperti melihat orang yang pernah ia lihat sebelumnya, ia pun menyapanya.

“Haii, kamu orang yang nemuin dompet saya dulu kan?” Kata gadis itu pada lelaki yang ia temui dulu.

“Oh kamu? Gak nyangka ketemu lagi. Oh ya… kemarin gak sempat kenalan, perkenalkan nama saya Rangga Guntara” kata lelaki itu mengulurkan tangannya.

“Saya Zikra Medinna, salam kenal juga” kata gadis itu sembari mengangkat kedua tangannya dan merapatkannya didepan dadanya.

Lelaki itu tampak bingung dan menarik kembali uluran tangannya.

Seketika Zikra seperti mengenal nama itu dan tak asing baginya. Zikra pun ingat kalau lelaki yang ada didepannya adalah Bos yang dibicaran sama kakak-kakak yang ada dikantornya dulu. Zikra takjub karena ternyata bos yang selama ini belum pernah ia temui di kantor adalah Lelaki yang bernama Rangga dan kenyataannya bos nya ini masih muda banget.

“Zikra yaa? Kamu bisa panggil saya Rangga, Zikra!” kata Lelaki yang bernama Rangga itu.

“Iya Rangga, kamu panggil saya Zikra saja”.

Semuanya berlalu begitu cepat, rasanya hari ini begitu special bagi Rangga dan Zikra. Mereka berdua saling memikirkan satu sama lain tanpa ada yang tahu kecuali Sang Pencipta.
-----------------------------------------------------------

Ada rahmat dibalik hujan bagi yang memikirkan, apapun bisa terjadi dibawah hujan. CINTA. Sebuah kata sarat makna dimana Cinta itu sebuah permainan yang dimainkan oleh dua orang dan dimenangkan oleh dua orang tersebut.

Awan tampak gelap, gemuruh mengeluarkan suaranya tanda kan turun hujan kembali. Rintik-rintik hujan pun mulai turun, Zikra cepat-cepat segera memarkirkan motornya dan menuju kantor dengan segera.

Saat melihat jam tangannya dan Zikra pun menabrak sesuatu.

“Bruukkkkkkkk”

Zikra segera bangkit  dan memohon maaf pada orang yang ditabraknya tersebut.

“Maafkan saya Pak, saya sedikit terburu-buru, maafkan saya sekali lagi Pak!” Kata Zikra sambil menunduk tanda menyesal dan segera membereskan alat-alatnya yang terjatuh.

“Zikra! kamu kerja disini, kamu gak apa-apa kan?” Keluar suara yang tak asing bagi Zikra.

Zikra mengangkat pendangannya dan terkejut dengan apa yang ia lihat dihadapannya.

“Rangga! Gak apa-apa kok.Saa… yaa kerja disini Rangga, maaaf udah buat kamu terjatuh” Kata Zikra.

Ketika Zikra menghadap ketempat yang lain, tampak gadis-gadis yang satu ruangan dengan Zikra melihat kejadian itu. Gadis-gadis itu tampak mengeluarkan senyuman sinis dan mengacungkan tinju-tinjunya. Zikra pun segera bergegas meninggalkan tempat itu dan mohon permisi kepada Rangga.

Saat Zikra meninggalkan Rangga, Zikra sedikit menoleh kebelakang dan melihat kepergian Rangga. Ntah mengapa jantung Zikra seakan berdegup kencang ketika melihat Rangga. Sekarang hanya punggung Rangga yang ia lihat dari belakang dan Rangga pun tampak memasuki mobil mewahnya meninggalkan Zikra.
-------------------------------------------------------------------------------------

Rangga sepertinya telah tau dimana ruangan tempat Zikra Medinna. Rangga mulai mencari ruangannya dan menemukan ruangan tersebut, sekilas terdengar kebisingan dari dalam ruangan Zikra. Ranggapun membuka pintu dan terkejut atas apa yang terjadi pada Zikra di ruangan itu.

“Hey berhenti, apa yang kalian lakukan kepada Zikra?” Tanya Rangga menarik tangan Zikra dan melindunginya disebalik punggungnya.

“Apa-apaan kalian ini, kenapa Zikra sampai nangis dan penampilannya acak-acakan gini?” Tanya Rangga pada gadis-gadis jahat yang telah nge-bully Zikra.

“Ah si Bos Rangga kayak gak tau aja. Dia tu sok, bermuka laksana Bidadari tapi hatinya busuk. Dia udah berani merayu bos”  kata gadis yang telah jahat pada Zikra itu.

“Ahh… alasan kalian semuanya. Kalian itu yang bermuka Bidadari dan berhati busuk, seenaknya aja berlaku jahat seperti ini. Awaas kalau ada kejadian seperti ini lagi. Kalian semua akan saya pecat” Kata Rangga lantang.

Zikra pun sibuk memperbaiki penampilannya yang udah diacak-acak sama rekan di dalam ruangnnya. Langsung saja Rangga membawa Zikra pergi dan meninggalkan ruangan itu.
-------------------------------------------------------------------

“Maaf Rangga atas kejadian yang memalukan tadi” Kata Zikra pada Rangga.

“Gak  apa-apa Zikra, memang sudah seharusnya saya nolongin kamu, yuk sekarang kita mulai aja makannya, keburu dingin loh ntar!” ajak Rangga kepada Zikra.

“Terima kasih Rangga” Ucap Zikra penuh ketulusan.

“Iya, sama-sama”

Rangga dan Zikra pun mengabiskan waktu makan siang bersama di kafe favorit Rangga. Ada yang mengganjal dihati Rangga dan ia bena-benar ingin selalu bersama Zikra. Rangga ingin mengungkapkannya tapi rasanya tak bisa sekarang, karena ini masih awal dan ingin jauh lebih mengenal Zikra dahulu.

Tiba-tiba muncul suatu ide dipikiran Rangga. Rangga akan menguji Zikra,kalau misalnya Zikra berhasil, Rangga berharap Zikra lah yang akan menjadi pasangannya kelak.

“Zikra!” panggil Rangga.

“Ya, apa Rangga?” balas Zikra.

“Gimana kalau kamu melepaskan hijab kamu dan perpenampilan yang sedikit… yaaa… kamu tahu lah??” Kata Rangga dengan muka serius.

“Maksud Rangga? Saya kerja gak usah pakai hijab lagi??” Tanya Zikra terbelalak.

“Iyaa….Dari pada kamu di jahatin terus sama mereka, lagian penampilan kamu agak mengganggu gitu, apalagi kamu kan cantik dan berbakat. Sayangkan kalau gak ditonjolkan?”

“Tapi, saya gak bisa Rangga, ini semua udah jadi prinsip hidup saya, dan gak bisa saya ubah lagi” bantah Zikra.

“Pasti bisa Zik, aku yakin, gimana kalau gaji kamu saya naikkan dua kali lipat?”

Zikra kehilangan selera makannya. Dan beranggapan kalau Rangga gak menghargainya, Rangga gak sebaik yang Zikra pikirkan, Zikra menyesal telah bertemu  orang seperti Rangga.

“Tapi saya gak bisa Rangga. Maaf saya harus pergi sekarang, terima kasih atas makan siangnya” kata Zikra meninggalkan kafe itu.

Ada sedikit kepuasan dihati Rangga, ternyata Zikra adalah gadis yang tangguh dan berprinsip. Sekarang Rangga benar-benar yakin atas hatinya. Besok Rangga akan meminta maaf pada Zikra atas kejadian hari ini.
-------------------------------------------------------------------------

Zikra tidak habis pikir sama bos yang dipanggilnya Rangga itu. Cowok yang ia kagumi dan ia sukai ternyata tak menghargainya sebagai seorang muslimah. Rangga hanya mementingkan penampilan fisik dengan iming-iming uang.

Zikra merasa tak sanggup lagi bekerja di kantor yang menyebalkan itu. Mulai dari rekan-rekannya yang tiap hari selalu jahat padanya kemudian bosnya yang ternyata bos genit yang membuat Zikra gak tahan dan ingin menjauh.

‘"Ya Allah, apakah aku harus tetap dikantor itu, sementara banyak gangguan yang aku alami selama ini?  Mungkin kantor ini tak cocok bagiku. Sebaiknya aku mengundurkan diri dari kantor itu. Aku yakin, rezeki dari Allah pasti takkan berkurang kalau aku berhenti dari kantor itu. Aku yakin. Aku akan memulainya semua dari awal kembali. Bismillah…,” Zikra meyakinkan hatinya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Keesokan harinya di kantor.

“Loh, Zikra mana?” Tanya Rangga pada rekan satu ruangannya.

“Jadi bos Rangga gak tau ya kalau Zikra itu mengundurkan diri dari kantor ini?” jawab rekan satu ruangan Zikra.

“Apa? Kenapa?” Tanya Rangga lagi.

“Ya mana saya tau bos” jawab rekannya.

“Zikra ngundurin diri? Kenapa? Apa karena kejadian semalam?Duh, gak bisa dihubungi lagi. Aku hanya ingin minta maaf sama kamu atas kejadian waktu itu Zik, tapi kamunya malah ngundurin diri. Maafkan aku yang udah buat kamu kecewa. Aku ingin bertemu kamu saat ini Zik” Pint Rangga didalam hati.

Mulai dari pertemuan terakhir itu, Rangga tidak pernah bertemu Zikra lagi. Rangga begitu Rindu ingin bertemu Zikra kembali. Tapi terlambat. Kini semua telah terjadi, niat yang awalnya ingin menguji membuat Rangga dan Zikra perpisah berbulan-bulan.

Setiap hari, waktu demi waktu, Rangga selalu menunggu hujan datang kembali. Di saat hujan datang Rangga pergi membawa motor kesayangannya dan berteduh ditempat orang-orang berteduh. Disanalah Rangga selalu berharap supaya kejadian yang lalu sejak ia pertama kali bertemu Zikra akan terulang kembali.

Namun sayang. Rangga tidak pernah bertemu Zikra kembali. Rangga tidak menyangka mengapa ini semua menjadi begitu sulit. Padahal hujan ini lah yang selalu mempertemukannya dengan Zikra dulu.

Sepertinya Rangga melihat sesosok orang dan sedikit berlari sembari menghalau kerumunan orang yang sendang berteduh.

“Zikra!”

Rangga mengerutkan dahi tak percaya pada apa yang dilihatnya.

“Maaf, saya salah orang. Saya kira temen saya” Rangga meminta maaf pada orang yang dianggapnya Zikra.

Rangga pergi meninggalkan orang yang salah tadi dan kembali ketempat ia berada sebelumnya.

“Inikah yang namanya cinta sejati? Kenapa setiap detik terasa begitu sulit. Tapi apakah cinta sejati namanya kalau orang yang kita sukai tak berada disisi? Aku tak mengerti rencana Tuhan. Yang aku ingin saat ini adalah bertemu Zikra, itu saja Tuhan. Ya Allah kabulkanlah Doaku!” Bisik hati Rangga menghadap ke langit.

Rangga sepertinya berhalusinasi kembali, ia melihat lagi sosok Zikra dari kejauhan dan akan mendekat ketempat ia beteduh. Tapi kali ini dia memakai helm dan sangat susah untuk mengenalinya. Sontak saja Rangga berdiri dan lebih memperhatikan.

“Zikra!”

Rangga berlari ke arah gadis yang baru saja membuka helmnya dan terburu-buru berlari ketempat berteduh.
Seketika Zikra pun terkejut dan Rangga  menghampiri Zikra di tengah hujan yang sedang berlangsung.

“Rangga! Ngapain disini hujan tauk, ketempat beteduh aja dulu!” ajak Zikra sedikit berteriak ditengah hujan yang semakin deras.

Zikra ingin melangkahkan kakinya, tapi Rangga meraih tangan Zikra dan menyuruhnya untuk tetap disini.

“Rangga, sekarang sedang hujan, lihatkan sekarang kita jadi basah kuyup” Zikra memandang.

“Biarkan saja Zikra, biarkan hujan ini menjadi saksi diantara kita. Berikan aku waktu dan biarkan aku untuk meminta maaf kepadamu atas kesalahanku dulu, aku gak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin....”

Zikra memotong pembicaraan Rangga ditengah hujan yang semakin deras dan Zikra pun berkata, “ Apapun kesalahanmu, aku telah memaafkanmu, Rangga”

“Aku tau aku salah berbuat kepadamu Zik, aku hanya ingin kamu tetaplah disampingku dan jangan pergi seperti ini lagi”

“Aku akan selalu ada disampingmu Rangga” Balas Zikra kepada Rangga ditengah berlangsungnya hujan.

Keyakinan, itu yang harus kita ikuti. Dikala hujan, tak semuanya berjalan mulus, kadang ada angin ribut, dan kilatan cahaya disertai gemuruh yang membuat kita takut bahkan membuat kerusakan. Percayalah, disaat itu semua terjadi pasti kan muncul pelangi. Dia akan selalu ada dan mewarnai sang langit.


TAMAT


Gimana temen2 bagus gak?? hehe....makasih sebelumnya bagi yang udah baca, dan jangan lupa Like dan koment nya ya... :))