Saturday, 15 June 2013

Kisah Gadis Kampung (part 3)

The story before
...

“Linaa…. Banguunn!! kita pergi mandi lagi”

Terdengar olehku teriakkan Mela yang kencang membangunkanku. Akupun bersiap-siap mengambil semua peralatanku dan bergegas pergi. Selagi aku dan Mela berjalan, dari kejauhan aku melihat orang duduk diatas motornya memakai baju yang serba hitam dan memakai helm, akupun sangat susah mengenalinya dari kejauhan.

Kisah Cinta Gadis Kampung (part 3)....

“Tunggu Mel, ada yang aneh dari orang yang jauh disana” kataku menyetop Mela.

“Mana mana??”

“Itu tu,coba lihat!!” ujarku berbisik.

“Oh  iya, mending kita gak usah lewat situ, lewat belakang balai aja yok!” Mela menarik tanganku

Kami memutar haluan jalan yang awalnya ingin lewat ke tempat biasa akhirnya harus lewat ke belakangBalai yang memakan waktu sedikit lebih lama. Saat itu aku dan Mela memang agak sedikit takut.

Setelah aku dan Mela selesai mandi dan berjalan pulang, tiba-tiba disebalik semak keluar orang yang memakai pakaian serba hitam seperti yang aku dan Mela lihat tadi. Sontak aku dan Mela teriak terkejut.

“Sssstttttt….. jangan teriak, aku orang baik-baik” kata orang itu sambil mengangkat jari telunjuknya dan menempelkannya didepan helmnya.

“Siapa kamu? Pagi gelap kayak gini ada disini?” kataku takut menjauh.

“Lin, mending kita pergi aja yok, orang asing, tengok pakaiannya! Sok-sok kayak pakaian satria baja hitam” Mela pun menarik tanganku pergi.

Selangkah saja aku berjalan, aku terkejut tanganku tiba-tiba dipegang dari belakang oleh orang itu. Dan akupun tercegat.

“Aku hanya pengen tahu nama kamu” keluar suara serius dibalik helmnya yang belum terbuka.

“Eh lu, pengen tau nama orang siapa, tapi datang tiba-tiba kayak hantu, terus bicara gak buka helm, gak sopan banget ya” kata Mela membelalakkan mata pada cowok itu.

Cowok itu perlahan-lahan melepaskan helmnya kemudian mengacungkan tangan kanannya padaku.

“Saya Rafael Aditama, nama kamu?”

Aku coba dulu untuk memperhatikan betul-betul siapa orang ini, mana tau dari tampangnya bisa dilihat baik,jahat,bibit,dan bobotnya.  Secara tak sadar aku menerawang jauh pada sesosok makhluk yang tengah berdiri didepanku.

Ya ampun, baru kali ini lihat orang sempurna kayak gini, wajahnya ganteng dan  gak da sedikitpun ciri khas kalau dia itu cowok asli sini. Kira-kira ini cowok dari planet mana yah? Mars? Jupiter?atau venus kali ya? Indra pun kelewat nih.

“Maaf, nama kamu?” ucap cowok itu lagi yang membuyarkan lamunanku.

“Lin, nama kamu tuh ditanya” kata Mela menyenggol bahuku.

“Oh iya Na…na… ma aku Kalina Zulaikha” ucapku gagap sambil menyambut tangannya yang telah ngambang sejak tadi.

“Wah, nama yang bagus, cocok untuk orangnya. Maaf juga untuk waktu itu, aku gak sengaja berbuat salah ketika kalian jalan pagi kemarin” kata Rafael kepadaku dan Mela.

“Ooh…ooooo… jadi kamu pelakunya? gara-gara kamu baju aku robek tau, mending kamu pergi dari sini!” kata Mela  marah pada Rafael.

“Ah sudahlah Mela, kita maafin saja. Lagian kayaknya dia orang baru disini ya kan Rafael?” kataku melirik pada Rafael.

“Hhhmm…aku memang udah lama banget gak kesini. yaa...ya bener, aku baru datang dari Kota diii…”

Mela pun memotong pembicaraan Rafael.

“Sudah selesai kan kenalannya?yok kita pulang Lin, cowok gak jelas”  kata Mela menarik tanganku untuk pergi.

Cowok itupun aku tinggalkan begitu saja dan semuanya berlalu.

Tangannya terasa dingin dan kaku, genggaman tangannya juga tidak terlalu kuat. Auranya memancarkan ketulusan dan kelembutan berbalut keberanian. Ketika mendengar namanya pun ada perasaan yang membuat jantungku berdebar-debar tidak seperti biasanya. Mata itu…. Benar-benar tulus. Itu yang aku rasakan. 

~~~~~~~~~~~~~~~
“ Juara satu lomba membordir baju nih, selamat ya Lina” kata  Indra semangat dengan sedikit sindiran.

“Iya Lin, udah kita sama-sama lulus SMA, trus kamu juga dapat juara lomba pula,lengkap semua tujuan,bener gak?”ungkap Mela sambil menyenggol bahuku dan aku tersenyum.

“Oh iya Lina, Mela, bentar lagi aku bakalan gak disini lagi, aku kuliah  di Padang, doain ya semoga aku sukses” Indra memotong.

“Yaaah…kamu In, ke sawah sono bantu emak bapakmu, kuliah ngabis-ngabisin duit tauk!”balas Mela mengejek.

“Yehh… elu Mel, aku kan dapat beasiswa, gratis pula, sayang kalau aku gak ngambil, lagian Bapak emak aku udah ngerestui”

“Bener tu Mel, Indra otaknya encer kayak es teler ini kok disia-siain,kan sayang banget,aku dukung kamu In” ujarku member semangat.

Sesampai dirumah.

“Assalamualaikum” aku pergi mencari Bapak dan Ibuku. Meraka sedang makan di ruang makan.

“Lina lulus Yah,Bu, Mela dan Indra juga, ini Lina dapat piala menang lomba membordir tingkat kabupaten” kataku pada Bapak sambil membanggakan piala.

“Alhamdulillah menang lomba dan lulus, selama nak ” kata Bapak  menyambut dan memelukku erat.

Kemudian tiba-tiba saja Bapak menatapku dengan pandangan lurus dan serius.

“Gak apa-apa Pak, Lina gak usah kuliah, Lina belajar menjahit saja, Lina udah ada dasar kok Pak” ungkapku seolah-olah aku mengetahui apa yang ada dipikiran Bapak, kemudian aku pergi meninggalkannya di ruang tamu.

Ku berdiri ditepi jendela kamarku, meyakinkan apa yang telah aku bilang ke Bapak tadi sudah bulat. Bapak akan merasa terbebani  jika aku kuliah.

Bapak, dari hati yang paliiiiingg daleem, sebenarnya Lina pengen kuliah lagi, biar lebih pintar dan bisa memajukan kampung kita nanti, tapi ketika Lina melihat mata Bapak, kenapa  Bapak sedih gitu? Lina kan jadi gak tega. Maafin Lina buat Bapak kecewa. Lina gak pengen Bapak terlalu membanting tulang nantinya. Mending Lina aja ya Pak yang cari kerja.

Berapalah gaji seorang kepala desa yang  hanya menerima uang atas dasar suka  rela warga kampung, bahkan uang yang didapatpun banyak digunakan untuk kepentingan-kepentingan kampung.  Tapi, adik-adikku masih kecil dan banyak butuh biaya. Aku akan pergi belajar menjahit  ke Bukit Tinggi, itu lebih baik dan lebih banyak manfaatnya bagi keluargaku dan tanpa mengeluarkan banyak uang.

Terbayang olehku betapa susahnya hidup apalagi ketika aku SD dulu. Lantaran badan yang sudah lumayan besar dan seragam sekolah yang tidak muat lagi, mengharuskan ku menjual radio kesayanganku. Radio yang selalu aku putar untuk mendengarkan berita apapun yang sedang hangat-hangatnya.

Sejak radio ku dijual aku merasakan kesepian dan marah terasa ingin menangis sambil menatap seragam sialan itu.

“Kenapa tidak jawi  saja yang dijual?kenapa harus radioku?”

Waktu itu nenek  datang dan masuk ke kamarku.

“Tidak mungkin jawi yang dijual hanya untuk membeli seragam Lin, Lina harus sabar dan mengerti keadaan” ucap
nenek sambil mengelus-elus rambut panjangku.

“Tapi Lina ingin radio, Lina gak bisa tanpa radio itu”

“Kalau ado pitih lai, nenek ba janji ka bali a untuak Lina radio saroman jo iko lai  jo sarat kanak an seragam tu jo niek ka mambantu orang tuo” kata nenek  memegang bahuku.

Nenek membalikkan badanku untuk melihat nya. Dan akupun menatap matanya yang telah layu dimakan zaman itu.

“Apapun yang kita lakukan selagi itu baik, lakukanlah,sekecil apapun! Jadikan sabar itu sebagai penolongmu”

~~~~~~~~~~~~
“Lin, hari ini untungnya banyak, jahitan bordiran kamu yang rapi dan halus bikin orang pada suka, Ini uang untukmu” Bu Rina memujiku dan melekatkan uang di atas telapak tanganku.

“Loh Bu, saya niatnya pengen belajar, kok malah dikasih uang? Bukannya saya yang harus ngasih uang ke Ibu untuk bayar uang les?” ungkapku sambil mengerutkan kening.

“Setiap hasil yang  memuaskan harus dikasih apresiasi Lin, biar lebih semangat” kata Bu Lina bosku ditoko ini.

“Yaudah Bu, ini saya langsung bayar uang les saya belajar sama Ibu” kataku memberikan uang pada Bu Rina.

“ Simpan saja, kamu tu udah pintar banget jahitnya, gak usah kasih uang lagi sama Ibu, mending kamu buat baju, terus jual langsung disini” kata Bu Rina.

Akupun kembali menjahit seperti sebelumnya. Ku nikmati tiap untaian benang yang aku sematkan pada kain secara berurutan, kaki tetap ku mainkan untuk mengayuh mesin jahit agar bisa terus berkarya. Tak dapat aku pungkiri, betapa senang sekali rasanya bisa dapat uang hasil dari jeri payah sendiri.

Benar semua kata-kata dari nenek kalau kita memang berniat baik sekecil apapun dan selalu berusaha pasti ada jalannya. Berusaha lah terus! Jangan mengeluh pada sesuatu yang belum tentu sia-sia, hasil akhir bukan ditangan kita, tapi atas kuasa dan kehendak Sang Pencipta. Nenek benar-benar menginspirasiku sekarang. Makasih nenek.

to be continued.....


Note:

balai     = salah satu tempat multi-fungsi yang banyak digunakan oleh orang kampung.

jawi      = salah satu hewan seperti kerbau dan hitam.

Kalau ado pitih lai, nenek ba janji ka bali a untuak Lina radio saroman jo iko lai  jo sarat kanak an seragam tu jo niek ka mambantu orang tuo  =  Kalau ada uang lagi, nenek berjanji membelikan Lina radio yang sama dengan syarat pakailah seragam itu dengan niat meringankan beban orang tua.

terima kasih yang telah membaca.... jangan lupa ya like dan komentarnya....
terima kasih dariku sebelumnya untuk para readers.... :))

Kisah Gadis Kampung (part 2)

The story before
...

Aku kembali menuju kamarku dan duduk diatas kursi didepan mejaku. Kuraih teh yang sejak tadi aku buat kemudian meminumnya. Dingin. Itu yang aku rasakan pada teh ini.

Kubuka perlahan-lahan amplop putih itu dan kudapati kertas berwarna hijau.
"Haa?? Warna favorit aku nih,kok bisa ya? " gumamku dalam hati.

Kuamati kalimat demi kalimat yang ada didalam secarik kertas itu yang gak tahu ntah siapa pengirimnya. Kata-katanya menggugah hati yang sedang membacanya dan membuatku secara tak sadar menyunggingkan senyuman tipis. Setelah aku selesai membacanya kulipat lagi kertas itu dan aku raih sebuah buku kemudian diselipkan di salah satu halamannya.

Kisah Cinta Gadis  Kampung (part 2).....

Bunyi-bunyi ciatan ayam telah membangunkan aku yang terjaga. Sontak aku bangun dan kubuka jendela kamarku yang terdiri dari dua pintu  itu, cahaya mentari langsung memancar  hingga membuatku menyipitkan mata, anginpun dengan sergap datang menerpaku menerbangkan kain gorden dan rambutku. Angin yang sejuk dan bersahaja, aku paling suka angin yang menerbangkan helaian-helaian rambutku, sudah terlalu sering angin datang menggodaku untuk bermain bersamanya, tapi aku merasa tidak ada waktu yang tepat untuk bermain.

Seperti biasanya aku melakukan semua rutinitasku, apalagi hari minggu, pas lagi mau istirahat karena udah capek seharian beres-beres rumah,pasti selalu ada aja orang yang gangguin.

“Linaa….Linaaa… pai main awak laa!”

Benarkan? Baru saja mau istirahat, udah ada yang manggil-manggil. Benar-benar melelahkan. 

“Linaaa…. Indra dan Mela datang tu” panggil Ibu dari arah depan.

“Ya Bu, tunggu bentar!” balasku.

Akupun menemui Mela dan Indra yang telah duduk di kursi tamu.

“Apa sih, capek ni mau tidur” ungkapku sambil mengusap-usap sebelah mataku.

“Gantilah baju Lin! kita pergi ke bukit Sarasah, ada air terjun yang baru ditemuin disana” ajak Indra dengan mata lurus serius menatapku.

“Ha, beneran ada air terjun yang baru ditemuin? Wah, harus pergi ni. Tunggu bentar ya!”

“Iya-iya , cepetan Lin! tak paralu manggaya-gaya bana, awak ka main aia juo tibo situ” ujar Mela dengan kata-kata jengkel.

Selama diperjalanan menuju ke bukit aku paling suka memetik buah sijontiak, rasanya manis tak jauh beda dari rasa buah anggur. Berwarna merah maroon kecil-kecil. Teringat masa kecil ketika Bapak bersamaku dulu, ia selalu memberikan aku buah ini sebagai oleh-oleh pulang dari bukit.

“Lina, sini dulu nak, ni ada buah sijontiak” kata-kata khas dari seorang Bapak pada anaknya seraya memasukkan sebelah tangannya kedalam kantong dan ketika Bapak membuka genggamanya nampak banyak sekali buah sijontiak laksana seperti orang siap melakukan atraksi sulap.  Kalau Bapak pulang, buah ini lah yang selalu aku tunggu-tunggu.

Biasanya kalau mau ke bukit tak lupa selalu aku sediakan kantong asoy kecil, kemudian buah sijontiak akan aku petik sebanyak aku dapat. Biasanya buah ini hanya ada dihutan-hutan bukit dan ada disekeliling jalan setapak. Dalam perjalananpun aku, Mela dan Indra asyik menikmati buah hutan lezat yang satu ini.

“Akhirnya sampai juga ya kita disini,nanti diujung setelah kita melewati kebun jambu mete terus  langsung nampak tu” ucap Indra menunjuk dengan jari telunjuknya.

“Aduuh, capek ni In, apa kita gak kena marah nanti sama orang sini pergi ketempat yang baru hanya bertiga?”

“Ya gak lah, anak muda disini udah lumayan banyak yang datang main kesini” balas Indra.

Ketika kami berjalan dan asyik berbincang-bincang. Terdengar suara laki-laki dari belakang.

“Ooiii Lin, manga wak kau kasitu jo urang jantan?”

Akupun melihat Indra dan tak sadar berbarengan jalan berdua-duan sementara Mela udah keburu lari duluan meninggalkan aku bersama Indra. Aku menoleh kebelakang.

“ Yo Tuan, awak ka pai main ka aia terjun, jo si Mela bagai, ndak awak baduo jo do” balasku dengan nada suara deg-degan.

Semuanya berlalu,kami telah sampai di lokasi air terjun. Akupun memilih tempat yang ada batunya dan memilih duduk sendiri diatas batu yang kehijau-hijauan oleh lumut. Kuamati  semua yang ada disekeliling air terjun ini, memang tampak beberapa muda-mudi perpasang-pasangan disana.Pemandangan disini sungguh indah dan asri.

Kunikmati hembusan angin yang menerpa wajah dan rambutku. Sepertinya angin ingin mengajakku lagi bermain bersamanya. Dengan sergap aku berdiri diatas batu yang kududuki tadi. Aku angkat tanganku mengambang menikmati hawa sejuk aroma dedaunan yang membuat hatiku terasa damai. Helaian rambut yang menutupi sebagian wajaku kubiarkan saja, percuma saja aku selipkan dibelakang telingaku.

Aku habiskan beberapa menit waktuku untuk berkeliling-keliling kawasan air terjun bersama Mela sedangkan Indra yang tidak ikut hanya ingin duduk-duduk saja dibawah pohon yang rindang. Aku amati Mela yang kegirangan dan menebarkan senyum pesonanya pada setiap cowok yang lewat dihadapan kami. Benar-benar lucu dan menghibur sahabatku yang satu ini.

“Iiihh… sebel deh” Mela membuka pembicaraan.

“Sebel apaan sih Mel? Tempat indah kayak gini kok disebelin?”sambungku.

“Sebel karena yang diperhatiin cowok-cowok yang lewat tadi itu cuma kamu, setidaknya mereka lihat aku kek” kata Mela memasang muka meles sedih.

“Abisnya sih, kamu senyum-senyum lebar kayak orang gak waras gitu” ucapku.
“Aah… Lina jahat deh, kan aku mau diperhatiin juga sama cowok, selama ini kamu terus yang punya, sedangkan aku jangankan punya yang mendekatpun tak ada”

“Huusss… gak boleh ngomong gitu kali Mel, jodoh itu ditangan Allah, setiap makhluk ada pasangannya” kataku menghibur Mela.

Tiba-tiba saja Mela menarik tanganku dan membawa aku ketepi air terjun.

“Sini deh Lina, coba kamu lihat disini!” kata Mela menunjuk sesuatu. “Apa yang kamu lihat Lin?”

Aku berpikir sejenak dan menjawab, “Air."

“Ya ampun, itu kita berdua, bayangannya tauk” kata Mela gemes.

“Iya-iya ada bayangan wajah kita Mel, tapi apa hubungannya?”tanyaku.

“Kamu itu kapan nyadarnya sih? Atau pura-pura gak tahu? Kamu itu cantik,perfect. Nah, aku?” kata Mela dengan nada murung.

Aku perhatikan setiap detail dari wajahku, mungkin selama ini aku tidak terlalu perduli dengan wajah ini. Apakah cantik?jelek?manis? yang aku tahu rata-rata setiap cowok selalu berusaha mendekatiku. Akupun melihat sekali lagi dengan teliti ditempat air yang tenang ini. Kuning langsat, alis mata tebal dan panjang, bibir  tipis, hidung kecil tak terlalu mancung, mata yang lumayan besar dengan bulu mata lentik, dan helaian rambut yang berterbangan. Aku lihat ada wajah Bapakku yang tercermin dari wajahku. Dan sekarang aku benar-benar menyadari bahwa aku itu cantik. Ya… aku itu cantik.

“Mela, kamu jangan ngomong cantik atau ti….”

“Lin, lompat yok ke air” ajak Mela kegirangan sambil memotong pembicaraanku.
“Aku belom,selesai ngomong tauukk!”

“Allaahhh… lagian kamu bakal ngerendah gitu, aku udah tau sifat kamu lagi Lin” kata Mela nyingir.

“Byyyuuuuuurrrr”

Aku dan Mela pun melompat kedalam air sembari tertawa riang, sedangkan Indra tidak ikutan nyemplung ke air. Dia hanya melihat-lihat kami dari jauh. Kemudian aku dan Mela berenang ketepian menghampiri Indra.

“In, tadi kamu yang ajak, tapi kok gak ikut berenang?” ujarku bertanya.

“Iya nih si Indra, gak asik lah” kata Mela. Kemudian Mela pun mengibas-ngibaskan air kearah  Indra hingga membuat Indra basah kuyup.

“Melaa… aku takut flu tau” kata Indra langsung lompat ke air dan mengejar Mela yang langsung kabur.

Setelah selesai bermain kami pun pulang, ketika  sampai dirumah ku dapati Bapak telah duduk menunggu di ruang tamu.

“Lin, dari maa wak kau sojak cako?kecek urang kau pai baduo jo urang jantan ka Sarasah” Kata Bapak  sambil memercikkan api kemudian menghisap tembakaunya.

“Baduo? Jo si Mela bagai mah” bela ku, kemudian aku mencium tangan Bapakku.

“Bisuak-bisuak jan ado pangaduan bantuak ko lai ndak nak, malu. Awak anak gadih ndak elok pai-pai jo urang bujang siapopun urangnyo”

“Yo lah Pak, sekali ko nyo” kataku pada Bapak meninggalkan ruang tamu menuju kamarku.

Bapak memang seseorang yang peduli, walaupun dia hanya Bapak tiriku, tapi aku merasa dia sepertinya memang memperhatikanku layak seperti anak kandungnya yang lain.  Setiap ada kejanggalan yang aku lakukan pasti orang kampung akan datang mengadu pada Bapakku. Bapak adalah kepala desa di kampung ini. Makanya setiap orang begitu kenal dan tau. Untuk itu aku selalu berusaha untuk tidak mengecewakannya. 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Linaa…. Banguunn!! kita pergi mandi lagi”

Terdengar olehku teriakkan Mela yang kencang membangunkanku di pagi yang kelam. Akupun bersiap-siap mengambil semua peralatanku dan bergegas pergi. Selagi aku dan Mela berjalan, dari kejauhan aku melihat orang duduk diatas motornya memakai baju yang serba hitam dan memakai helm, akupun sangat susah mengenalinya dari kejauhan.

To be continued....


Note: 
Pai main awak laa!        = Ayo kita pergi main.

Tak paralu manggaya-gaya bana, awak ka main aia juo tibo situ = Tidak perlu terlalu bergaya, tiba disana pasti kita main air juga.

Manga wak kau kasitu jo urang jantan? = Ngapain kamu disana bersama laki-laki?

 Awak ka pai main ka aia terjun, jo si Mela bagai, ndak awak baduo jo do = Kami akan bermain ke air terjun, bersama Mela juga, tidak kami berdua saja.

Lin, dari maa wak kau sojak cako? kecek urang kau pai baduo jo urang jantan ka Sarasah  = Lin, dari mana saja   kamu sejak tadi ? kata orang kamu pergi berdua sama laki-laki ke bukit Sarasah.

Baduo? Jo si Mela bagai mah =  Berdua? Sama Mela juga kok.

Bisuak-bisuak jan ado pangaduan bantuak ko lai ndak nak, malu. Awak anak gadih ndak elok pai-pai jo urang bujang siapopun urangnyo   =   Besok-besok jangan ada pengaduan seperti ini lagi nak, malu. Kita anak gadis tidak baik pergi                                       sama laki-laki siapapun orangnya.

 Yo lah Pak, sekali ko nyo =  Ya Pak. Cuma sekali ini saja.


Bagi yang baca jangan lupa Like dan komentarnya ya... Thank you :*

Tuesday, 5 March 2013

Keajaiban Matematika dalam Al Quran

Keajaiban Al Quran dilihat dari sisi kandungannya telah banyak ditulis dan diketahui, tetapi keajaiban dilihat dari bagaimana Al Quran ditulis/disusun mungkin belum banyak yang mengetahui. Orang-orang non-muslim khususnya kaum orientalis barat sering menuduh bahwa Al Qur’an adalah buatan Muhammad. Padahal kalau kita baca Al Qur’an ada ayat yang menyatakan tantangan kepada orang-orang kafir khususnya untuk membuat buku/kitab seperti Al Quran dimana hal ini tidak mungkin akan dapat dilakukannya meskipun jin dan manusia bersatu padu membuatnya. Tulisan singkat ini bertujuan untuk menyajikan beberapa keajaiban Al Qur’an dilihat dari segi bagaimana Al Qur’an ditulis, dan sekaligus secara tidak langsung juga untuk menyangkal tuduhan tersebut, dimana Muhammad sebagai manusia biasa tidak mungkin dapat melakukan atau menciptakan sebuah Al Qur’an. Pandangan sains secara konvensional menempatkan matematika sebagai suatu yang prinsipil dari sebuah cabang pengetahuan dimana alasan dikedepankan, emosi tidak dilibatkan, kepastian menjadi hal yang ingin diketahui, dan kebenaran hari ini merupakan kebenaran untuk selamanya. Dalam masalah agama, ilmuan memandang bahwa semua agama sama, karena semua agama sama-sama tidak mampu memverifikasi atau menjustifikasi kebenaran melalui pembuktian yang dapat diterima oleh logika. Jadi suatu hal dikatakan valid jika ada bukti nyata, dan pembuktian ini merupakan sebuah prosedur yang dibentuk untuk membuktikan suatu realitas yang tak terlihat melalui sebuah proses deduksi dan konklusi yang hasil akhirnya dapat diterima oleh semua pihak. Dengan dasar tersebut, tulisan ini mencoba untuk membawa pembaca pada suatu kesimpulan bahwa Al Qur’an yang ditulis menurut aturan matematika, merupakan bukti nyata bahwa Al Qur’an adalah benar-benar firman Allah dan bukan buatan Nabi Muhammad. Kiranya patut juga direnungi apa yang dikatakan oleh Galileo (1564-1642 AD) bahwa . “Mathematics is the language in which God wrote the universe (Matematika adalah bahasa yang digunakan Tuhan dalam menuliskan alam semesta ini)” ada benarnya. Kebenaran bahasa matematika tersebut akan dibahas sekilas sebagai tambahan dari tema utama tulisan ini.

Angka-angka Menakjubkan dari Beberapa Kata dalam Al Qur’an

Kalau kita buka Al Quran dan kita perhatikan beberapa kata dalam Al Quran dan menghitung berapa kali kata tersebut disebutkan dalam Al Quran, kita akan peroleh suatu hal yang sangat menakjubkan. Mungkin kita betanya, berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencari dan menghitungnya. Dengan kemajuan teknologi khususnya komputer, hal tersebut tidak menjadi masalah. Tabel 1 menyajikan frekuensi penyebutan beberapa kata penting dalam Al Qur’an yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan tabel tersebut ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik. Misalnya pada kata “dunya” dan “akhirat” yang disebutkan dalam Al Qur’an dengan frekuensi sama, kita dapat menafsirkan bahwa Allah menyuruh umat manusia untuk memperhatikan baik kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat secara seimbang. Artinya kehidupan dunia dan akhirat sama-sama penting bagi orang Islam. Selanjutnya pada penyebutan kata “malaaikat” dan “syayaathiin” juga disebutkan secara seimbang. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa kebaikan yang direfleksikan oleh kata “malaaikah” akan selalu diimbangi oleh adanya kejahatan yang direfleksikan oleh kata “syayaathiin”. Hal lain juga dapat kita kaji pada beberapa pasangan kata yang lain.

Tabel 1. Jumlah Penyebutan beberapa Kata Penting dalam Al Quran

Sumber: From the Numeric Miracles In the Holy Qur’an by Suwaidan, www.islamicity.org


Beberapa kata lain yang menarik dari tabel tersebut adalah kata “syahr (bulan)” yang disebutkan sebanyak 12 kali yang menunjukkan bahwa jumlah bulan dalam setahun adalah 12, dan kata “yaum (hari)” yang disebutkan sebanyak 365 kali yang menunjukkan jumlah hari dalam setahun adalah 365 hari. Selanjutnya Kata “lautan (perairan)” disebutkan sebanyak 32 kali, dan kata “daratan” disebut dalam Al Quran sebanyak 13 kali. Jika kedua bilangan tersebut kita tambahkan kita dapatkan angka 45.


Sekarang kita lakukan perhitungan berikut:

· Dengan mencari persentase jumlah kata “bahr (lautan)” terhadap total jumlah kata (bahr dan barr) kita dapatkan:
(32/45)x100% = 71.11111111111%

· Dengan mencari persentase jumlah kata “barr (daratan)” terhadap total jumlah kata (bahr dan barr) kita dapatkan:
(13/45)x100% = 28.88888888889%

Kita akan mendapatkan bahwa Allah SWT dalam Al Quran 14 abad yang lalu menyatakan bahwa persentase air di bumi adalah 71.11111111111%, dan persentase daratan adalah 28.88888888889%, dan ini adalah rasio yang riil dari air dan daratan di bumi ini.

Al Qur’an Didisain Berdasarkan Bilangan 19

Dalam kaitannya dengan pertanyaan yang bersifat matematis yang hanya memiliki satu jawaban pasti, maka jika ada beberapa ahli matematika, yang menjawab di waktu dan tempat yang berbeda dan dengan menggunakan metode yang berbeda, maka tentunya akan memperoleh jawaban yang sama. Dengan kata lain, pembuktian secara matematis tidak dipengaruhi oleh ruang dan waktu. Perlu diketahui bahwa dari seluruh kitab suci yang ada di dunia ini, Al Qur’an merupakan satu-satunya kitab suci yang seluruhnya ditulis dalam bahasa aslinya. Berkaitan dengan pembuktian, kebenaran Al Qur’an sebagai wahyu Allah yang sering dikatakan oleh orang barat sebagai ciptaan Muhammad, dapat dibuktikan secara matematis bahwa Al Qur’an tidak mungkin diciptakan oleh Muhammad. Adalah seorang ahli biokimia berkebangsaan Amerika keturunan Mesir dan seorang ilmuan muslim, Dr. Rashad Khalifa yang pertama kali menemukan sistem matematika pada desain Al Qur’an. Dia memulai meneliti komposisi matematik dari Al Quran pada 1968, dan memasukkan Al Qur’an ke dalam sistem komputer pada 1969 dan 1970, yang diteruskan dengan menerjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa Inggris pada awal 70-an. Dia tertantang untuk memperoleh jawaban untuk menjelaskan tentang inisial pada beberapa surat dalam Al Qur’an (seperti Alif Lam Mim) yang sering diberi penjelasan hanya dengan “hanya Allah yang mengetahui maknanya”. Dengan tantangan ini, dia memulai riset secara mendalam pada inisial-inisial tersebut setelah memasukkan teks Al Qur’an ke dalam sistem komputer, dengan tujuan utama mencari pola matematis yang mungkin akan menjelaskan pentingnya inisial-inisial tersebut. Setelah beberapa tahun melakukan riset, Dr. Khalifa mempublikasikan temuan-temuan pertamanya dalam sebuah buku berjudul “MIRACLE OF THE QURAN: Significance of the Mysterious Aphabets” pada Oktober 1973 bertepatan dengan Ramadan 1393. Pada buku tersebut hanya melaporkan bahwa inisial-inisial yang ada pada beberapa surat pada Al Qur’an memiliki jumlah huruf terbanyak (proporsi tertinggi) pada masing-masing suratnya, dibandingkan huruf-huruf lain. Misalnya, Surat “Qaaf” (S No. 50) yang dimulai dengan inisial “Qaaf” mengandung huruf “Qaaf” dengan jumlah terbanyak. Surat “Shaad” (QS No. 38) yang memiliki inisial “Shaad”, mengandung huruf “Shaad” dengan proporsi terbesar. Fenomena ini benar untuk semua surat yang berinisial, kecuali Surat Yaa Siin (No. 36), yang menunjukkan kebalikannya yaitu huruf “Yaa” dan “Siin” memiliki proporsi terendah. Berdasarkan temuan tersebut, pada awalnya dia hanya berfikir sampai sebatas temuan tersebut mengenai inisial pada Al Qur’an, tanpa menghubungkan frekuensi munculnya huruf-huruf yang ada pada inisial surat dengan sebuah bilangan pembagi secara umum (common denominator). Akhirnya, pada Januari 1974 (bertepatan dengan Zul-Hijjah 1393), dia menemukan bahwa bilangan 19 sebagai bilangan pembagi secara umum[1] dalam insial-inisial tersebut dan seluruh penulisan dalam Al Qur’an, sekaligus sebagai kode rahasia Al Qur’an. Temuan ini sungguh menakjubkan karena seluruh teks dalam Al Qur’an tersusun secara matematis dengan begitu canggihnya yang didasarkan pada bilangan 19 pada setiap elemen sebagai bilangan pembagi secara umum. Sistem matematis tersebut memiliki tingkat kompleksitas yang bervariasi dari yang sangat sederhana (bisa dihitung secara manual) sampai dengan yang sangat kompleks yang harus memerlukan bantuan program komputer untuk membuktikan apakah kelipatan 19. Jadi, sistem matematika yang didasarkan bilangan 19 yang melekat pada Al Quran dapat diapresiasi bukan hanya oleh orang yang memiliki kepandaian komputer dan matematika tingkat tinggi, tetapi juga oleh orang yang hanya dapat melakukan penghitungan secara sederhana.


Selain 19 sebagai kode rahasia Al Qur’an itu sendiri, peristiwa ditemukannya bilangan 19 sebagai “miracle” dari Al Qur’an juga dapat dihubungkan dengan bilangan 19 sebagai kehendak Allah. Disebutkan di atas bahwa kode rahasia tersebut ditemukan pada tahun 1393 Hijriah. Al Qur’an diturunkan pertama kali pada 13 tahun sebelum Hijriah (hijrah Nabi). Jadi keajaiban Al Qur’an ini ditemukan 1393+13=1406 tahun (dalam hitungan hijriah) setelah Al Qur’an diturunkan, yang bertepatan dengan tahun 1974 M.


Surah 74 adalah Surah Al Muddatsir yang berarti orang yang berkemul (Al Quran dan Terjemahnya, Depag) dan juga dapat berarti rahasia yang tesembunyi, yang memang mengandung rahasia Allah mengenai keajaiban Al Qur’an. Dalam Surah 74 ayat 30-36 dinyatakan:

(74:30) Di atasnya adalah 19.

(74:31) Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami jadikan bilangan mereka itu (19) melainkan untuk:

- cobaan/ujian/tes bagi orang-orang kafir,

- meyakinkan orang-orang yang diberi Al Kitab (Nasrani dan Yahudi),

- memperkuat (menambah)keyakinan orang yang beriman,

- menghilangkan keragu-raguan pada orang-orang yang diberi Al kitab dan juga orang-orang yang beriman, dan

- menunjukkan mereka yang ada dalam hatinya menyimpan keragu-raguan; dan orang-orang kafir mengatakan: “Apakah yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan ini?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia. Dan ini tiada lain hanyalah sebuah peringatan bagi manusia.

(74:32) Sungguh, demi bulan.

(74:33) Dan malam ketika berlalu.

(74:34) Dan pagi (subuh) ketika mulai terang.

(74:35) Sesungguhnya ini (bilangan ini) adalah salah satu dari keajaiban yang besar.

(74:36) Sebagai peringatan bagi umat manusia.


Sebagian besar ahli tafsir menafsirkan 19 sebagai jumlah malaikat. Menurut Dr. Rashad Khalifa, menafsirkan bilangan 19 sebagai jumlah malaikat adalah tidak tepat karena bagaimana mungkin jumlah malaikat dapat dijadikan untuk ujian/tes bagi orang-orang kafir, untuk meyakinkan orang-orang nasrani dan yahudi, untuk meningkatkan keimanan orang yang telah beriman dan juga untuk menghilangkan keragu-raguan. Jadi, tepatnya bilangan 19 ini merupakan keajaiban yang besar dari Al Qur’an sesuai ayat 35 di atas, menurut terjemahan Dr. Rashad Khalifa (dan juga terjemahan beberapa penterjemah lain). Jadi pada ayat 35 kata “innahaa” merujuk pada kata “’iddatun” pada ayat 31.


Mengapa 19?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu dijelaskan tentang sistem bilangan. Kita pasti mengenal betul sistem bilangan Romawi yang masih sangat dikenal pada saat ini, seperti I=1, V=5, X=10, L=50, C=100, D=500 dan M=1000. Seperti halnya pada sistem bilangan Romawi, sistem bilangan juga dikenal pada huruf-huruf arab. Bilangan yang ditandai pada setiap huruf dikenal sebagai “nilai numerik (numerical value atau gematrical value)”. Click link ini untuk mengetahui lebih jauh tentang nilai numerik.

Setelah mengetahui nilai dari setiap huruf arab tersebut, kita dapat menjawab mengapa 19 dipakai sebagai kode rahasia Allah dalam Al Qur’an, dan sekaligus dapat digunakan untuk mengungkap keajaiban Al Qur’an. Berikut beberapa hal yang dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa 19.


* 19 merupakan nilai numerik dari kata “Waahid” dalam bahasa arab yang artinya ‘esa/satu’ (lihat Tabel 2) Tabel 2. Nilai numerik dari kata “waahid”


* 19 merupakan bilangan positif pertama dan terakhir (1 dan 9), yang dapat diartikan sebagai Yang Pertama dan Yang Terakhir seperti yang dikatakan Allah, misalnya, pada QS 57 ayat 3 sebagai berikut: “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS 57:3). Kata “waahid” dalam Qur’an disebutkan sebanyak 25 kali, dimana 6 diantaranya tidak merujuk pada Allah (seperti salah satu jenis makanan, pintu, dsb). Sisanya 19 kali merujuk pada Allah. Total jumlah dari (nomor surat + jumlah ayat pada masing-masing surat) dimana 19 kata “waahid” yang merujuk pada Allah adalah 361 = 19 x 19. Jadi 19 melambangkan keesaan Allah (Tuhan Yang Esa).

* Pilar agama Islam yang pertama juga dikodekan dengan 19

“La – Ilaha – Illa – Allah”

Nilai-nilai numerik dari setiap huruf arab pada kalimah syahadat di atas adalah dapat ditulis sebagai berikut

“30 1 – 1 30 5 – 1 30 1 – 1 30 30 5”

Jika susunan angka tersebut ditulis menjadi sebuah bilangan, diperoleh = 30113051301130305 = 19 x … atau merupakan bilangan yang mempunyai kelipatan 19. Jadi jelaslah bahwa 19 merujuk kepada keesaan Allah sebagai satu-satunya dzat yang wajib disembah.

Beberapa Contoh Bukti-bukti yang Sangat Sederhana tentang Kode 19

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa desain Al Qur’an yang didasarkan bilangan 19 ini, dapat dibuktikan dari penghitungan yang sangat sederhana sampai dengan yang sangat komplek. Berikut ini hanya sebagian kecil dari keajaiban Al Quran (sistim 19) yang dapat ditulis dalam artikel singkat ini. Fakta-fakta yang sangat sederhana:

(1) Kalimat Basmalah pada (QS 1:1) terdiri dari 19 huruf arab.

(2) QS 1:1 tersebut diturunkan kepada Muhammad setelah Surat 74 ayat 30 yang artinya “Di atasnya adalah 19”.

(3) Al Qur’an terdiri dari 114 surah, 19×6.

(4) Ayat pertama turun (QS 96:1) terdiri dari 19 huruf.

(5) Surah 96 (Al Alaq) ditempatkan pada 19 terakhir dari 114 surah (dihitung mundur dari surah 114), dan terdiri dari 19 ayat

(6) Surat terakhir yang turun kepada Nabi Muhammad adalah Surah An-Nashr atau Surah 110 yang terdiri dari 3 ayat. Surah terakhir yang turun terdiri dari 19 kata dan ayat pertama terdiri dari 19 huruf.

(7) Kalimat Basmalah berjumlah 114 (19×6). Meskipun pada Surah 9 (At Taubah) tidak ada Basmalah pada permulaan surah sehingga jumlah Basmalah kalau dilihat pada awal surah kelihatan hanya 113, tetapi pada Surah 27 ayat 30 terdapat ekstra Basmalah (dan juga 27+30=57, atau 19 x 3). Dengan demikian jumlah Basmalah tetap 114.

(8) Jika dihitung jumlah surah dari surah At Taubah (QS 9) yang tidak memiliki Basmalah sampai dengan Surah yang memuat 2 Basmalah yaitu S 27, ditemukan 19 surah. Dan total jumlah nomor surah dari Surah 9 sampai Surah 27 diperoleh (9+10+11+…+26+27=342) atau 19×18. Total jumlah ini (342) sama dengan jumlah kata antara dua kalimat basmalah dalam Surat 27.

(9) Berkaitan dengan inisial surah, misalnya ada dua Surah yang diawali dengan inisial “Qaaf” yaitu Surah 42 yang memiliki 53 ayat dan Surah 50 yang terdiri dari 45 ayat. Jumlah huruf “Qaaf” pada masing-masing dua surat tersebut adalah 57 atau 19 x 3. Jika kita tambahkan nomor surah dan jumlah ayatnya diperoleh masing-masing adalah (42+53=95, atau 19 x 5) dan (50+45=95, atau 19 x 5). Selanjutnya initial “Shaad” mengawali tiga surah yang berbeda yaitu Surah 7, 19, dan 38. Total jumlah huruf “Shaad” di ketiga surah tersebut adalah 152, atau 19 x 8. Hal yang sama berlaku untuk inisial yang lain.

(10) Frekuensi munculnya empat kata pada kalimat Basmalah dalam Al Qur’an pada ayat-ayat yang bernomor merupakan kelipatan 19 (lihat Tabel 3)

Tabel 3: Empat kata dalam Basmalah dan frekuensi penyebutan dalam ayat-ayat yang bernomor dalam Al Quran


No. Kata Frekuensi muncul

1 Ism 19

2 Allah 2698 (19×142)

3 Al-Rahman 57 (19×3)

4 Al-Rahiim 114 (19×6)



(11) Ada 14 huruf arab yang berbeda yang membentuk 14 set inisial pada beberapa surah dalam Al Qur’an, dan ada 29 surah yang diawali dengan inisial (seperti Alif-Lam-Mim). Jumlah dari angka-angka tersebut diperoleh 14+14+29=57, atau 19×3.

(12) Antara surah pertama yang berinisial (Surah 2 atau Surah Al Baqarah) dan surah terakhir yang berinisial (Surah 68), terdapat 38 surah yang tidak diawali dengan inisial, 38=19×2.

(13) Al-Faatihah adalah surah pertama dalam Al-Quran, No.1, dan terdiri dri 7 ayat, sebagai surah pembuka (kunci) bagi kita dalam berhubungan dengan Allah dalam shalat. Jika kita tuliskan secara berurutan Nomor surah (No. 1) diikuti dengan nomor setiap ayat dalam surah tersebut, kita dapatkan bilangan: 11234567. Bilangan ini merupakan kelipatan 19. Hal ini menunjukkan bahwa kita membaca Al Faatihah adalah dalam rangka menyembah dan meng-Esakan Allah.

Selanjutnya, jika kita tuliskan sebuah bilangan yang dibentuk dari nomor surah (1) diikuti dengan bilangan-bilangan yang menunjukkan jumlah huruf pada setiap ayat (lihat Tabel 4), diperoleh bilangan : 119171211191843 yang juga merupakan kelipatan 19.

Tabel 4: Jumlah huruf pada setiap ayat dalam Surah Al Faatihah


(14) Ketika kita membaca Surah Al-Fatihah (dalam bahasa arab), maka bibir atas dan bawah akan saling bersentuhan tepat 19 kali. Kedua bibir kita akan bersentuhan ketika mengucapkan kata yang mengandung huruf “B atau Ba’” dan huruf “M atau Mim”. Ada 4 huruf Ba’ dan 15 huruf Mim. Nilai numerik dari 4 huruf Ba’ adalah 4×2=8, dan nilai numerik dari 15 huruf Mim adalah 15×40=600. Total nilai numerik dari 4 huruf Ba’ dan 15 huruf Mim adalah 608=19×32 (lihat Tabel 5).

Tabel 5. Kata-kata dalam Surah Al-Fatihah yang mengandunghuruf Ba’ dan Mim beserta nilai numeriknya

Kejadian Di Alam Semesta yang Terkait dengan Bilangan 19

Beberapa kejadian lain di alam ini dan juga dalam kehidupan kita sehari-hari yang mengacu pada bilangan 19 adalah:

· Telah dibuktikan bahwa bumi, matahari dan bulan berada pada posisi yang relatif sama setiap 19 tahun

· Komet Halley mengunjungi sistim tata surya kita sekali setiap 76 tahun (19×4).

· Fakta bahwa tubuh manusia memiliki 209 tulang atau 19×11.

· Langman’s medical embryology, oleh T. W. Sadler yang merupakan buku teks di sekolah kedokteran di Amerika Serikat diperoleh pernyataan “secara umum lamanya kehamilan penuh adalah 280 hari atau 40 minggu setelah haid terakhir, atau lebih tepatnya 266 hari atau 38 minggu setelah terjadinya pembuahan”. Angka 266 dan 38 kedua-duanya adalah kelipatan dari 19 atau 19×14 dan 19×2.

Lima Pilar Islam (Rukun Islam) dan Sistem 19

Islam adalah agama yang dibawa oleh seluruh nabi sejak Nabi Ibrahim sebagai the founding father of Islam (misalnya lihat QS 2:67, 130-136; QS 5:44, 111; QS 3:52).Pesan utama yang disampaikan oleh seluruh Nabi sejak Nabi Ibrahim sampai Nabi Muhammad adalah sama yaitu menyembah Allah yang Esa, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji. Allah menyempurnakan Islam melalui Nabi Muhammad. Jadi praktek shalat, zakat, puasa dan haji telah dilakukan dan diajarkan oleh Nabi-nabi sejak Nabi Ibrahim. Dari kelima pilar agama Islam, dapat ditunjukkan bahwa semua berkaitan dengan sistim bilangan 19 (kelipatan 19).

· Syahadat

Telah dibahas di atas bahwa pilar pertama agama Islam “Laa Ilaaha Illa Allah” didisain berdasarkan bilangan 19.

· Shalat

Kata “shalawat” yang merupakan bentuk jamak dari kata “shalat“ muncul di Al Qur’an sebanyak 5 kali. Ini menunjukkan bahwa perintah Allah untuk melaksanakan shalat 5 kali sehari dikodekan di Al Qur’an. Selanjutnya jumlah rakaat dalam shalat dikodekan dengan bilangan 19. Jumlah rakaat pada shalat subuh, zuhur, ashar, maghrib dan isya masing-masing adalah 2,4,4,3, dan 4 rakaat. Jika jumlah rakaat tersebut disusun menjadi sebuah angka 24434 merupakan bilangan kelipatan 19 atau (24434 = 19×1286). Digit 1286 kalau dijumlahkan akan didapat angka 17 (1+2+8+6) yang merupakan jumlah rakaat shalat dalam sehari. Untuk hari Jum’at jumlah rakaat Shalat adalah 15, karena Shalat Jum’at hanya 2 rakaat. Ini juga dapat dikaitkan dengan bilangan 19 (kelipatan 19). Jika kita buat hari Jum’at sebagai hari terakhir, maka jumlah rakaat shalat mulai hari Sabtu sampai Jum’at dapat ditulis secara berurutan sebagai berikut: 17 17 17 17 17 17 15. Jika urutan bilangan tersebut kita jadikan menjadi satu bilangan 17171717171715, maka bilangan tersebut merupakan bilangan dengan kelipatan 19 atau (19 x 903774587985). Jadi pada intinya shalat itu menyembah Tuhan yang Satu (ingat: 19 adalah total nilai numerik dari kata ‘waahid’). Surah Al-Fatihah yang dibaca dalam setiap rakaat dalam Shalat seperti dibahas sebelumnya juga mengacu pada bilangan 19. Selanjutnya, kata “Shalat’ dalam Al Qur’an disebutkan sebanyak 67 kali. Jika kita jumlahkan nomor surat-surat dan nomor ayat-ayat dimana ke 67 kata “Shalat” disebutkan, diperoleh total 4674 atau 19×246.

· Puasa

Perintah puasa dalam Al Qur’an disebutkan pada ayat-ayat berikut:

- 2:183, 184, 185, 187, 196;

- 4:92; 5:89, 95;

- 33:35, 35; dan

- 58:4.

Total jumlah bilangan tersebut adalah 1387, atau 19×73. Perlu diketahui bahwa QS 33:35 menyebutkan kata puasa dua kali, satu untuk orang laki-laki beriman dan satunya lagi untuk wanita beriman.

· Kewajiban Zakat dan Menunaikan Haji ke Mekkah

Sementara tiga pilar pertama diwajibkan kepada semua orang Islam laki-laki dan perempuan, Zakat dan Haji hanya diwajibkan kepada mereka yang mampu. Hal ini menjelaskan fenomena matematika yang menarik yang berkaitan dengan Zakat dan Haji.

Zakat disebutkan dalam Al Qur’an pada ayat-ayat berikut:

Penjumlahan angka-angka tersebut diperoleh 2395. Total jumlah ini jika dibagi dengan 19 diperoleh sisa 1 (bilangan tersebut tidak kelipatan 19).

Haji disebutkan dalam Al Qur’an pada ayat-ayat

- 2:189, 196, 197;

- 9:3; dan

- 22:27.

Total penjumlahan angka-angka tersebut diperoleh 645, dan angka ini tidak kelipatan 19 karena jika angka tersebut dibagi 19 kurang 1.

Kemudian jika dari kata Zakat dan Haji digabungkan diperoleh nilai total 2395+645 = 3040 = 19x160.

Penutup
Secara umum disimpulkan bahwa Al Qur’an didisain secara matematis. Apa yang dibahas di atas hanyalah sebagian kecil dari ribuan bukti tentang desain matematis dari Al Qur’an dan khususnya tentang bilangan dasar 19 sebagai desain Al Qur’an yang dapat disajikan pada tulisan ini. Selain itu, tulisan ini hanya memfokuskan pada contoh-contoh yang sangat sederhana, sementara untuk contoh-contoh yang sangat kompleks tidak disajikan di sini karena mungkin akan sulit dipahami oleh orang yang tidak memiliki latar belakang atau kurang memahami matematika. Bilangan 19 yang juga berarti Allah yang Esa, dan juga berarti tidak ada Tuhan melainkan Dia, dapat dikatakan sebagai “Tanda tangan Allah” di alam semesta ini. Hal ini sesuai dengan salah satu firman Allah yang menyatakan bahwa seluruh alam ini tunduk dan sujud kepada Allah dan mengakui keesaan Allah. Hanya orang-orang kafir lah yang tidak mau sujud dan mengakui keesaan Allah. Allah dalam menciptakan Al Qur’an dan alam semesta ini telah melakukan perhirtungan secara detail, seperti firman Allah yang berbunyi: “dan Allah menghitung segala sesuatunya satu per satu (secara detail)” (QS 72:28). Jumlahkan angka-angka pada nomor surah dan ayat tersebut !!!!!! Anda memperoleh angka 19 (7+2+2+8=19). Dari uraian di atas khususnya mengenai lima pilar Islam diperoleh kesimpulan yang sangat tegas bahwa pemeluk Islam adalah orang-orang yang pasrah dan tunduk menyembah dan mengakui keesaan Allah seperti yang ditunjukkan bahwa kelima pilar Islam tersebut berkaitan dengan sistim bilangan 19 (nilai numerik dari kata “waahid” atau Esa). Hal ini juga sesuai dengan Islam sendiri yang yang secara harfiah dapat berarti pasrah/tunduk. Hal lain yang dapat diambil sebagai pelajaran dari sistim bilangan 19 sebagai disain Al Qur’an adalah terpecahkannya “unsolved problem” mengenai perdebatan di antara para ulama terhadap status “Basmalah” pada Surah Al-Faatihah apakah termasuk salah satu ayat dalam surah tersebut atau tidak. Dengan ditemukannya bilangan 19 sebagai disain Al Qur’an, bukti-bukti matematis pada tulisan ini telah membuktikan bahwa lafal “Basmalah” termasuk dalam salah satu ayat Surah Al-Fatihah. Sebagai penutup, semoga tulisan ini dapat menambah keimanan bagi orang-orang yang beriman, menjadi tes/ujian bagi mereka yang belum beriman, dan menghilangkan keragu-raguan bagi mereka yang hatinya dihinggapi keragu-raguan akan kebenaran Al Qur’an. Allah akan membiarkan sesat orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya (QS 74:31).

Catatan:
Untuk memverifikasi “keajaiban matematis” dari Al Qur’an anda perlu menggunakan Al Qur’an yang dicetak menurut versi cetak Arab Saudi atau Timur Tengah pada umumnya. Mengapa? Hasil penelitian yang saya lakukan, terdapat banyak perbedaan antara Qur’an versi cetak Indonesia pada umumnya dan Qur’an versi cetak Arab Saudi (kebetulan saya memegang Qur’an versi cetak Arab Saudi), meskipun perbedaan tersebut tidak berpengaruh pada makna/arti. Perbedaan tersebut hanya pada cara menuliskan beberapa kata. Meskipun demikian, jika mengacu pada “Keajaiban Matematis” dari Al Qur’an, Qur’an versi cetak Indonesia pada umumnya (yang disusun oleh orang Indonesia) menyalahi aturan yang aslinya sehingga keajaiban matematis tidak muncul. Saya hanya memberikan 2 contoh kata saja dari sekian kata yang berbeda penulisannya yaitu kata “shirootho” dan “insaana”. Menurut versi cetak Arab Saudi, tidak ada huruf “ALIF” antara huruf “RO’” dan “THO” pada kata “SHIROOTHO” (lihat di Surat Al Fatihah) dan antara huruf “SIN” dan “NUN”pada kata “INSAANA”, tetapi menurut versi cetak Indonesia pada umumnya terdapat huruf ALIF pada kedua kata tersebut. Pada versi cetak Arab Saudi, untuk menunjukkan bacaan panjang pada bunyi ROO dan SAA pada kata SHIROOTHO dan INSAANA, digunakan tanda “fathah tegak”. Saya paham, maksud orang menambahkan ALIF pada kedua kata tersebut agar lebih memudahkan bagi pembacanya, tetapi ternyata menyimpang dari aslinya. Maka dari itu anda menemukan jumlah huruf yang lebih banyak pada Surat Al Fatihah ayat 6 dan 7 dari yang saya tuliskan. Sebagai tambahan, salah satu ciri Qur’an versi cetak Indonesia pada umumnya adalah Surat Al Fatihah terletak pada HALAMAN 2, sementara versi cetak Arab Saudi, Fatihah berada pada HALAMAN 1.
Mengenai jumlah kata, kata harus didefinisikan sebagai susunan dari beberapa huruf (dua hrurf atau lebih), sehingga anda harus memperlakukan “WA atau WAU” sebagai huruf meskipun bisa diartikan dengan kata “DAN” dalam bahasa Indonesia. Perlakuan “WA” (misalnya pada kata “WATAWAA”) sebenarnya bisa disamakan dengan “BI” (pada kata BISMI), karena kebetulan BI bisa gandeng dengan kata berikutnya, sementara WA tidak bisa ditulis gandeng dengan kata yang mengikutinya. Jadi jangan hitung “WA” sebagai kata, tetapi sebagai huruf.


Oleh: Ali Said
Daftar dacaan:
1. Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya.
2. Suwaidan, S., Numeric Miracles In the Holy Qur’an, www.islamicity.org
3. Berbagai sumber di www.submission.org dan www.alquran-indonesia berikut website terkait

Monday, 30 July 2012

MASA KEMAREN :)


Hidup memang gak ada yang bisa menebak esoknya bagaimana
Yang ada cuma bisa berharap lebih baik kedepannya
Sangat berharap kita akan selalu bersama-sama
Saling menggenggam tangan
Mengacungkan kelingking satu sama lain untuk saling berjanji
Apalagi jika udah menentukan rencana besar dan gila

Dan tak nyangka jalan kita masing2 berbeda-beda
Yang pada akhirnya kita akan menemukan kehidupan dan suasana yang baru
Kita memang gak bisa berbuat apa-apa terhadap takdir
Tapi itulah kehidupan sebenarnya
Tak ada yang abadi dan semuanya belum pasti
Tak terasa kita melangkah sudah sejauh ini
Saling acuh mungkin
Atau diam2 memperhatikan satu sama lain
Rasanya pikiran tidak akan pernah berhenti untuk mengingat 
Dan hati tidak akan pernah berhenti merasakan memori lama yang terbingkai indah di relung hati

Dulu...
Saat kita jalan bersama kita iringi dengan nyanyian
Saat kita bersedih kita bersama-sama iringi dengan doa
Saat kita makan dan minum kita iringi dengan saling berbagi
Saat kita susah kita iringi dengan saling membantu

Dan kejadian bodoh yang gak akan pernah lupa sampai detik ini
Saat-saat dimana kita berada disekolah yang diajar oleh guru2 kita tercinta dengan senda gurau
Saat-saat saling tukar jawaban dan nyontek ketika ulangan
Saat-saat rasa menyesal karena gak dapat menjadi yang terbaik 
Saat-saat kita saling berteriak memadukan suara,teriakan, semangat pada saat acara lomba-lomba antar kelas
Dengan rasa bangga dan optimis

Duh masih banyak
Ketika kita saling cengengesan dan bertatap muka melihat sesuatu di balik tirai jendela kelas
Ketika kita saling hina dalam gurauan
Ketika kita saling curhaat tentang perasaan 
Ketika saling membantu dalam belajar terhadap sesuatu yang tidak dimengerti
Ketika saling teriak dan marah adu argumen orang satu ke yang lain
Ketika guru bilang kita nakal, pemalas, tak menuruti aturan
Dan saat itu pula hati berdecak
Kita bukan seperti apa yang terbilang
Akan kita buktikan
Yang dibutuhakan hanya bimbingan dan doa tulus darimu
Agar bisa kami arungi derasnya arus gelombang samudra
Panasnya cahaya mentari yang menyengat kulit
dinginnya udara dingin menusuk tulang

Dan semua itu lebih terasa lengkap
Tiada sedikitpun rasa iri dan benci kita satu sama lain
Hari-hari selalu kita isi dengan senyuman dan kebahagian
Walaupun kadang ada yang ngambek, marah, dan sebagainya
Kita memang berjodoh
Tapi mungkin sampai disinilah jodoh kita
Ketika kita bertemu kembali
Satu yang diinginkan
Kita akan saling berjabat tangan atas kebahagiaan dan keberhasilan kita kelak 

Always pray and smile :)

Sunday, 27 May 2012

Allah Dekat Selalu


Pernah aku bertanya
Allah engkau dimana?
Iapun berkata “Aku dekat saja”
Allah Maha Melihat
Segala yang ku perbuat
Ia pengabul doa
Hambanya yang meminta... 

Setiap langkah yang ku tempuh
Hendaklah tuju pada-Nya
Sebab jika bukan karena-Nya
Semuakan tersia... 

Bila ku luruskan niatku
Allah kan selamatkanku
Kutanamkan dalam hatiku
Allah dekat selalu
Allah dekat selalu...