Sabtu, 13 Mei 2017

Mencintai Kehilangan

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh







Dalam sendunya irama lagu, diiringi oleh rintikan hujan yang turun membasahi bumi. Aku menatap langit dari jendela kaca kamar. Ya...hanya mendung kelabu yang terlihat senja ini. Di bagian barat sana ada sedikit membayang warna pelangi yang tampak malu-malu untuk menunjukkan dirinya.

Disini....di dalam hati aku meringis pilu tak tertahankan. Meneteskan bulir-bulir air mata yang aku sebut itu sangat memuakkan. Semakin dibendung maka semakin deras pula ia mengalir. Bibir bergumam, bergetar menahan tangis. Dada terasa sesak tak sanggup untuk menahan. Air mata masih terus saja mengalir semaunya. Aku tertunduk lesu, menekan dada kiriku karena terlalu dalamnya lara yang terbawa. Cegukan tangis tak bisa aku hentikan, aku masih saja terus menangis. Entah mengapa bisa terasa serapuh ini. Aku sangat yakin, karena ini seperti bukan aku yang biasanya. Ya... karena aku kuat, aku mampu, aku akan baik-baik saja.

Sesuatu terasa berbeda. Beberapa detik setelahnya aku berdelik. Dengan jari-jemari ku usap cepat air mata yang terus mengalir. Kedua tangan ini mengatup mulut agar berhenti cegukan karena menangis lagi. Kemudian  aku berpikir. Aku sadar, bahwa aku hanya berpura-pura tegar dengan keadaan yang ada. Aku hanya berpura-pura dengan membohongi diri sendiri untuk terlihat baik-baik saja. In fact, I am fake,  I am lying to make it look be fine to others. It makes me like going crazy. What should I do now? Im trying to make everything Okay, but the failure that I get.

Tuhan, sungguh berat hati ini. Bila rindu saja sakitnya sudah seperti menikam jantung sendiri, bagaimana mungkin harus kehilangan? Masih adakah yang lebih sakit lagi dari itu?

Sebelumnya semua terasa baik-baik saja. Luka yang telah lama usai, yang dengan susah payah untuk disembuhkan, kini kembali berdenyut. Seketika lambat laun luka itu semakin ternganga lebar meninggalkan sakit yang luar biasa dalam.

Aku merasa tiada apa-apa, semua yang terjadi tak ubahnya seperti buih ditengah lautan. Hilang tanpa ada yang tersisa. Lenyap tanpa ada yang bisa disimpan untuk menjadi kenang.

Sudahlah... hal yang menderu-dera ini pasti akan berakhir dan akan hilang dalam proses berjalannya waktu. Mungkin sabar dan doa adalah tiang terakhir untuk menyelamatkan diri sebelum terporosok kedalam jurang yang lebih dalam lagi.

Aku pun menghentikan semua kesedihan yang terasa. Menoleh kebelakang dan kulihat buku harian yang selalu setia berbagi kisah tentang hari-hariku. Seketika dunia seperti memanggilku berbisik untuk memulai menuliskan sesuatu.

Ya... seperti sebuah buku catatan harian ini. Akan selalu ada halaman yang kosong setelahnya. Tinggal sudahi halaman yang telah tertulis. Kemudian bukalah lembaran kosong yang baru.

Mulailah menulis lagi. Tulis segala hal yang ingin dicapai. Buatlah semuanya seolah-olah terasa nyata dan akan terwujud. Buatlah  orang-orang disekitarmu bangga. Karena diri ini berhak untuk terus bahagia. Nikmati masa-masa penantian yang ada. Teruslah berbuat baik kepada siapapun. Tulis nama-nama mereka yang telah membuatmu merasa kecewa, terlukai, dan membawa dera dalam dirimu. Berikan kepada mereka kesempatan untuk melihat bahwa diri ini  mampu untuk bangkit lagi. Mereka tak lain hanyalah piguran semata untuk membuatmu semakin kuat. Teruslah semangat seperti ini. Selama-lamanya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar